Aku tidak tahu ingin ngomong apa, tapi ngomong-ngomong itu ya omon-omon. Ada banyak hal di dunia ini yang bisa diomongkan. Dari mulai gaya rambut sampai alas kaki. Dari mulai penguasa sampai yang memberi kuasa alias rakyat. Dari mulai dan sampai itulah rangkaian cerita dalam ruang omon-omon bisa tak terbatas dalam durasi waktunya. Lantas omon-omon apa yang ingin aku sampaikan dalam tulisanku ini? jujur harus dikata, aku sendiri tidak tahu ingin omon-omon apa, terang dan jelasnya ingin menulis saja sampai omon-omon ini bisa dikata sampai atawa selesai berdasarkan versiku sendiri.
Namun bila dilakukan pembagian: Haduh, kok jadi mirip fraksi? Jadi teringat pula pada teori chaos yang acak alias tidak teratur dan dinamis. Secara umum dapat dialurkan memiliki sekumpulan titik-titik yang rapat: Haduh kok jadi mirip teori melukis atau pada saat kali pertama kita belajar menulis di bangku sekolah dasar, dulu atau kini di taman kanak-kanak? Kenapa pula jadi teringat Gus Dur? Ya, sistem yang stokastik atau rumit dan memerlukan solusi yang banyak. Lupakan.
Seperti Kuburan Band saja: Lupa-lupa ingat. Ingat-ingat lupa. Hal ini didapati sebagai pengulangan dari bagian-bagian yang teratur secara statistik dari sitem yang diterministik. Ya, tentu saja sistik dan mistik itu dua hal yang berbeda. Sistik bisa dikata renyah dan gurih-gurih enyoy, serta mudah didapatkan—sampai di kaki lima pun ada. Sementara mistik bisa dikata menyeramkan sekaligus menguntungkan. Kok bisa? Untuk menemukan jawabannya yang tepat, mari kita berselancar menemui mbah google—sekaligus bertanya pula pada ai, perihal isi tulisan ini arahnya itu ke mana, oke? []









