SI MAGRIB

Simagrib e1750663058833

Ini bukan cerita tentang tempat mangkalnya si Mamih Eros, dan si Minah, maupun si Nyai di pasar Bojong Meron pinggir rel kereta api, dekat stasiun di sebuah kota kecil. Yang direkrut dari kasus KDRT, atau karena ekonomi; untuk dijadikan pemuas nafsu lelaki hidung belang. Bukan juga yang sering mangkal di UCI, atau USNA ( tempat lokalisasi/tempat esek-esek ).

Ini tentang si Wati dari desa jauh dari kota. Perawakannya sedang-sedang saja, rambut panjang, kulit sedikit hitam. Wajahnya lugu seperti kebanyakan perempuan desa. 

Datang ke kota untuk bekerja, dari nyuci pakaian, nyetrika, bersih-bersih rumah, dll. Para pemakai jasa biasanya langsung datang untuk memberitahu, atau membawa pakaian kotor ke tempat kontrakan si Wati. Dan sorenya diambil atau diantarkannya.

Sehabis magrib dia sering keluar rumah, dengan dandanan sedikit rapi, wajahnya hanya cukup dirias pupur alakadarnya. Jalan-jalan kesana-kemari. Untuk sang pemangsa, atau para hidung belang; aura si Wati cukup punya daya tarik tersendiri.

Dan transaksi di tempat, bila deal, langsung ok di manapun tempat. Di becak, di kios, di bawah pohon, atau di rumput tidak jadi masalah buat si Wati. Yang penting duit di dapat, dan bisa ngirim ke keluarganya di kampung, sisanya masuk celengan, untuk jaga-jaga bila ada keperluan mendesak.

Si Wati jadi Jobong yang pandai jemput bola. Dia tidak punya bos atau mucikari. Dia tidak mau hasil jualan dirinya di potong orang yang hanya jadi sapi perahan. Seperti si Minah dan si Nyai dipotong 30-40 persen oleh si Mamih Eros.

Magrib ini si Wati di boking cukong, untuk tiga hari tiga malam di  hotel puncak. Dan sama si cukong didandani, bahkan dibawa ke salon kecantikan. Perubahan sungguh sangat drastis. Penampilan si Wati jauh sekali dengan biasanya, bahkan sangat luar biasa.

Di bawah gemerlapnya lampu, perempuan desa berubah wujud jadi primadona. Bagi hidung belang, si Wati adalah teman libido yang membuat fantasi seksual meningkat. 

Si cukong yang jeli, si Wati adalah kado pelumas untuk proyek-proyek yang dibidiknya.

Tiga hari berlalu, si Wati masih di kampungnya. Dia ingin santai sejenak untuk menikmati hasil dari si cukong. Dia tidak lagi ke rumah kontrakannya, setidaknya untuk sebulan ke depan.

Karena bulan depan dia mau di bawa ke Jakarta oleh si cukong. Dengan iming-iming uang lebih dari kemarin.

Sehabis magrib si Wati hanya leha-leha, seperti orang-orang besar di kota. Dan jalan-jalan sehabis magrib, menjemput bola si hidung belang hanya tinggal cerita.

Si magrib masih melekat di kepala-kepala.

Kaum hidung belang jalanan.

[Bandung 14112021]


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *