Membaca sebuah bangsa itu tidak bisa dilepaskan dari membaca kita—siapa—kita dan sekitarnnya. Setidaknya yang ada di atmosfer kita. Sebagaimana membaca bangsa Indonesia yang kita cintai ini. Ya, bangsa kita ini sebenarnya tidak kekurangan cendekia. Sebaliknya yang sering menghilang itu justru keberanian untuk kehilangan kursi atau sekadar membiarkan menggeser posisi.
Padahal sejarah tidak akan tergesa-gesa dalam menilai. Sebab sejarah senantiasa akan mencatat siapa yang berani membuka ruang dan siapa yang menutupinya demi kursi. Sebagaimana Abu Jahal (Amr Bin Hisam) yang dikenal sebagai tokoh gelap dalam sejarah. Dalam sejarahnya, ia dikenal bukan sebagai sosok orang sembarangan. Sebagai negarawan Mekkah, ia piawai berdiplomasi, penjaga keseimbangan kota, dan figur yang disegani klannya.
Bahkan, Abu Jahal tahu bahwa Sayyidina Muhammad saw., tidak berdusta. Ia mengerti ajaran rasul saw., itu bersih dan membawa arah baru. Namun ia juga paham betul resikonya: jika kebenaran itu diakui, maka bangunan kuasa yang selama ini dijaganya akan runtuh satu per satu. Pada titik inilah Abu Jahal memilih menyangkal. Bukan karena tidak tahu, melainkan karena terlalu sadar akan harga yang harus dibayarnya.
Dan pada akhirnya, sejarah lalu memberinya nama Abu Jahal. Bukan musabab dirinya kurang ilmu, tetapi karena ia menukar kebenaran dengan gengsi. Sebagaimana atmosfer bangsa kita ini yang tidak asing dengan pola semacam itu. Ya, harus jujur diakui bahwa kesunyataanya kita kerap menjumpainya dalam wajah yang lebih modern dan bahasa yang lebih rapi. Katakanlah ada mereka yang fasih berbicara soal konstitusi, data, moral, bahkan agama. Mereka tahu kebijakan mana yang keliru, suara siapa yang disisihkan, hukum mana yang dibengkokkan.
Namun pengakuan tersebut selalu saja tertahan. Sebab satu kalimat jujur bisa menggoyahkan citra, mengusik kursi, dan merobohkan bangunan kecil kekuasaan yang susah payah dibangun-rawat. Sementara di sisi cermin lainnya itu sejarah tak luput mencatatkan pula, hanya saja jarang kita pandang secara sungguh-sungguh, katakanlah ada sosok Khalid bin Walid ra.
Beliau diturunkan dari jabatannya bukan karena gagal, bukan karena berkhianat, apalagi karena cacat integritas. Khalid dicopot justru ketika namanya terlalu diagungkan. Umar bin Khattab ra., khawatir umat menggantungkan kemenangan pada seorang jenderal, bukan pada Tuhan yang memberi kemenangan. Maka jabatan itu dicabut, tanpa upacara, tanpa kegaduhan.
Dan Khalid menerimanya dengan lapang—tidak melawan sedikit pun, tidak mengumpulkan barisan sakit hati, tidak mengungkit jasa masa lalu. Beliau tetap turun ke medan perang, berdiri sejajar dengan prajurit lain, membawa niat yang sama seperti sebelumnya. Ya, yang berubah hanyalah pangkat, bukan arah pengabdian. Di situlah letak kebesaran diuji: ketika seseorang tetap setia pada nilai, bahkan saat kuasa sudah tidak lagi di tangan.
Sebaliknya, adakah kita dan sekitar lebih mudah mengagungkan jabatan daripada kerja sunyi? Adakah kita dan sekitar memaafkan kegagalan selama kekuasaan bertahan, dan mencurigai kejujuran karena dianggap mengganggu ketertiban? Adakah kita dan sekitar rajin menjaga simbol, tetapi sering lupa merawat makna. Atau adakah kita dan sekitar itu terlalu sering melahirkan pemimpin seperti Abu Jahal, dan terlalu jarang menumbuhkan watak Khalid bin Walid ra.?
Jangan-jangan kita harus jujur mengakui, bahwa setiap kali kesalahan yang terang—senantiasa dibiarkan tanpa pengakuan, hingga watak Abu Jahal menemukan tempatnya kembali. Setiap kali kritik dibungkam demi rasa aman semu. Ah, adakah senantiasa kebodohan itu diwariskan? Dan katakanlah, ketika seseorang berhenti bekerja untuk bangsa hanya karena tak lagi menjabat, kita tahu: yang sedang dibela bukan negeri, melainkan kursi.
Sekali lagi: Mengulang-ulang, mendaur catatan sejarah—nyata sudah—bahwa Khalid bin Walid ra., memberi pelajaran yang terasa kian asing hari ini. Bahwa jabatan hanyalah bagian kecil dari perjalanan. Bahwa kehormatan tidak melekat pada posisi, melainkan pada sikap. Bahwa seseorang tetap bisa berguna, bahkan ketika namanya tidak lagi disebut.
Mungkin persoalan kita dan sekitar atau bangsa yang kita cintai ini bukanlah kekurangan orang hebat, melainkan terlalu banyak orang takut menjadi kecil. Takut kehilangan panggung. Takut dilupakan. Padahal sejarah justru mengingat mereka yang berani melepaskan diri dari semua itu. Sebagaimana Abu Jahal yang dikenang karena mempertahankan kuasa sampai akhir. Dan sebagaimana Khalid bin Walid yang dikenang karena mampu melepaskan jabatan tanpa kehilangan diri.
Dan tentu saja kita dan sekitar atau bangsa yang kita cintai ini—pada akhirnya—akan dinilai dari pilihan-pilihan semacam itu: Apakah kita dan sekitar itu ingin dikenang sebagai kumpulan cendekia yang kalah oleh gengsi, ataukah sebagai masyarakat yang berani menaruh kebenaran lebih tinggi daripada kursi? Sekali dan sekali lagi: Kita dan sekitar itu tak bisa lepas dari siapa membaca siapa, sebelum jadi fatwa hati yang dibingkai sejarah! []









