TELISIK

fokus telisik 1

Berkunjung ke banyak ruang medsos, ada banya berita untuk kembali dikupas-bahasakan. Salah satunya mengenai bantuan. Ada banyak aktifis dadakan yang berlomba-lomba mengumpulkan sumbangan guna menangani bencana abrasi—imbas dari banjir bandang dan perubahan iklim yang tentu saja ada pangkal sebab utamanya yang tak bisa disangkal ulah tangan-tangan manusia yang katanya rakus dalam berkuasa.

Bantuan-bantuan dari aktivis dadakan itu ada juga yang sampai tak sekadar nyangkut di lengan semampai. Komunitas-komunitas selebritis pun tak kalah unjuk taktis, sebagaimana para birokrat dan mantan pejabat, bak curi start di putaran pemilu setempat. Biro jasa, tak mau kalah ketinggalan guna ikut menyalurkan bantuan dengan biasa nol rupiah, tapi nyatanya ada juga yang tak sampai ke penerima dengan dalih kurangnya pemasukan.

Instansi-instansi berupaya, sebagaimana narasi-narasi berita guna memantik kepercayaan masyarakat dalam menyalurkan bantuan demi hidup lebih terasa bermanfaat dan maslahat. Sampai dan tidak sampainya bantuan itu hal yang biasa, sebab selalu saja ada yang memanfaatkan situasi dan kondisi yang tengah terjadi, sebagaimana sebuah fatwa yang berkata: masih untung ada yang sampai juga, tak dijarah semua.

Teringat Rendra, dalam sajak Rajawali, ia berkata: Hidup adalah merjan-merjan kemungkinan yang terjadi dari keringat matahari. Duhai, harga diri, di mana kau disimpan-sembunyikan? []

MATA LOGIKA
Baca Tulisan Lain

MATA LOGIKA


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *