SENANDUNG SUNYI – 1
Air dan tanah melumatkan tubuh, tenggelamkan mimpi.
Di antara puing-puing, anak kecil menyusuri tepian,
menyibak kayu gelondongan yang menutupi jalan,
dengan mata sembab ia mencari asa.
Ibu, Ayah, di mana?
Jeritnya pecah di udara,
teriaknya menembus lorong tebing gundul
suaranya mengalun di antara riuh banjir,
tangisnya menyelinap di sela lumpur
memanggil nama yang tak lagi menjawab
namun hanya gema yang kembali,
hatarkan duka menusuk hati.
Ibu, ayah, aku takut!
Di setiap ranting yang hanyut,
di setiap puing yang terapung,
ia berharap menemukan tangan hangat
yang dulu menggenggamnya erat.
Tapi arus tak pernah mengembalikan,
hanya menyimpan luka yang menganga.
Ibu, ayah, jangan tinggalkan aku!
Anak itu terus mencari,
meski tahu jawaban mungkin tak pernah tiba.
Langkah kecilnya terhenti,
ia tatap hamparan lumpur yang luas,
menanti harap, lantukan doa.
Ibu, ayah, pulanglah!
Aku ridu ibu, aku rindu ayah.
Suara itu bergetar,
namun hanya sunyi yang menjawab.
Longsor itu bukan sekadar tanah,
banjir itu bukan sekadar air,
melainkan jurang pemisah kasih,
ahiri kisah, tinggalkan sepi sepanjang waktu.

PUISI Ayie S Bukhary
SENANDUNG SUNYI – 2
Puing-puing, lumpur dan kayu gelondongan
menjadi saksi bisu.
Aku melangkah dengan kaki gemetar,
menyusuri sisa arus yang mengamuk,
setiap wajah aku jumpai
Apakah melihat anakku?
Jawabnya hanyalah hening,
atau gelengan penuh iba,
tak ada jejak, tak ada suara.
Tanganku meraba sisa dinding yang hancur,
berharap ada kehangatan tersisa,
mencari suara kecil yang dulu memanggil,
namun yang ditemukan hanyalah dingin lumpur,
dan kepongahan kayu gelondongan yang tak berjiwa.
Tapi setiap helaan napas adalah harapan
cintaku tak pernah menyerah,
meski dunia telah runtuh
meski jejak hilang ditelan arus,
aku kan terus mencari, terus bertanya,
karena cinta adalah cahaya yang menolak padam,
cinta adalah sejarah panjang yang menolak lupa.
Ya Tuhan,
meski jauh dari pelukan
jagalah di manapun ia berada.
Walau setiap langkah hidupnya adalah luka,
jika telah kembali kepelukanMu
aku yakin ia damai bersama kekasih
berada di sisiMu.
Ya Tuhan,
dan bila kelak Engkau memanggilku,
izinkan anak dan kekasihku menjemput
membimbing langkah menuju ridhoMu,
agar kami bersatu kembali
di tempat yang tak lagi mengenal longsor, banjir dan kehilangan.

PUISI Lintang Ismaya
PETAKA
Anak-anak menjerit
Ibu-ibu berteriak
Air bercampur lumpur
Hempaskan tubuh tak berdaya
Tanah merah mengubur suka cita
Menyimpan duka bagi yang terjaga
Sementara di telivisi dan media sosial
Pejabat saling tuding,
Buang muka dan nyinyir pada kepedulian
Para cukong ngumpet
Dibalik kayu olahan hasil pembalakan
Tak merasa ludah dan catatan hariannya menjadi petaka
Uangnya menutup mulut anjing penjaga
Agar kayu-kayu gelondong mengalir di sungai
Menyumbat jembatan dan rintangi jalan
Ciptakan penderitaan panjang dan kuburan masal.


