NirLingLangNaRaWangAnWaRuGa : Sebuah Tafsir Filologis tentang Itungan Kosmos dan Wujud Manusia Parahyang

NIRLINGLANGNAWARANGANNAWARUGA1001

Essai ini ditulis berdasarkan versi obrolan penulis dengan Dr. Rony Hidayat Sutisna (Inoy), ketika penulis berkunjung ke kediamannya di Rancakalong, Sumedang, kala itu ia memaparkan bahwa: Waktu, dalam pandangan kebijaksanaan tua, bukanlah sekadar deret detik yang luruh, melainkan proses terjadinya wujud. Ia adalah jalan sunyi tempat rupa menjelma, tempat cahaya mula-mula meletup dan makna mulai bernafas. Dalam siloka Sunda Kuna, waktu dibaca sebagai say loka—bahasa alam itu sendiri—yakni tanda-tanda yang tidak diucapkan, tetapi dirasakan oleh rasa yang jernih.

Awal segala awal disebut Kun: letupan cahaya pertama, dentum mula kosmos. Dari sanalah fayakun bergerak—bukan sebagai kata, melainkan sebagai proses semesta yang mengalir tanpa henti. Penciptaan bukan peristiwa tunggal, melainkan kesinambungan titis-tulis qudrat: ketetapan Ilahi yang mutlak. Adapun titis-tulis ti ajali adalah program lanjutan, yang mulai bekerja tatkala manusia medal ke alam jagat, memasuki panggung wujud.

Dalam kerangka ini hadir istilah NirLingLangNaRaWangAnWaRuGa—sebuah rangka kosmologis yang menyatukan bilangan, dimensi, cahaya, dan jasad:

Nir adalah kesucian awal, alam yang belum terdefinisi.
Ling dan lang adalah dimensi-dimensi keberadaan.
Narawangan adalah cahaya penyingkap.
Waruga ialah wujud jagat raya itu sendiri.

Manusia, dalam pandangan Sunda Kuna, bukan makhluk acak. Ia adalah manusa parahyang, yang telah diprogram sebelum lahir dan terus diprogram sesudah lahir. Program itu tertanam dalam apa yang dapat disilokakan sebagai chip parahyang, disebut Kanjut Kundang beserta isinya:

  • Kapas: kapastian dan data asal,
  • Tali ari-ari: adalah akses, penghubung antara asal dan jagat,
  • Cariu dan jengkol leuweung: bearing perlindungan,
  • Panglay: obat, penangkal, keselamatan,
  • Benda seuseukeut: intelektualitas dan empati rasa,
  • Angka sadriya: itungan sabuku tangtung, ukuran tegaknya diri.

Dari sini nyata bahwa setiap manusia memiliki cetak biru (blueprint) masing-masing. Namun pada zaman kini, blueprint itu kerap terganggu. Algoritma asal menjadi kacau oleh masuknya pemahaman asing yang tidak selaras dengan tata ruang waktu parahyang—yakni keselarasan antara ruang dan waktu yang semestinya ditempati manusia.

Ibarat sebuah perumpamaan sederhana: sebuah gawai berjenis Samsung, tetapi buku panduannya adalah Vivo. Ketidaksesuaian ini melahirkan kegagalan fungsi. Maka tidak mengherankan bila manusia modern dilanda stres, kekerasan, kemaksiatan, bahkan kehilangan rasa kaéra—sebab program awal kehidupannya dijalankan dengan panduan yang keliru.

Oleh sebab itu, kebijaksanaan lama menuntun pada satu jalan pulang: kembali ke format awal. Segala harus dimulai dari angka nol, lalu menapak ke satu, bergerak hingga sembilan—sampai mencapai kesempurnaan. Inilah makna sejati NirLingLangNaRaWangAnWaRuGa sebagai sistem bilangan kosmik:

Urutannya itu adalah sebagai berikut:
Nir bermakna angka nol;
Ling adalah satu;
Lang dua;
Na tiga;
Ra empat;
Wang lima;
An enam;
Wa tujuh;
Ru delapan;
dan Ga sembilan.

Maka, segala yang ada adalah itungan. Kosmos disusun oleh bilangan, bukan oleh kebetulan. Keseimbangan semesta lahir dari hitungan yang tepat. Oleh karena itu, dalam pandangan Sunda Kuna, elmu itungan mendahului elmu baca.

Elmu baca—yang dalam tradisi Islam ditandai oleh turunnya wahyu Iqro—hadir pada masa Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Adapun elmu itungan telah bekerja sejak Nabi Adam diturunkan ke alam dunia. Bahkan penciptaan semesta—tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi—menegaskan bahwa angka telah hadir sejak dentum kosmos pertama.

Maka benarlah petuah lama: katerangan ayat harus selaras dengan katerangan uyut. Ayat adalah elmu baca, uyut adalah elmu itungan. Itungan adalah kepastian dan papasten; tulisan hanyalah wujud lahiriahnya. Itungan ibarat mangsi hitam yang masih berkumpul dalam tabung pena; sedangkan baca adalah aksara—haksara, hakasara—yang telah menjelma rupa.

Dengan demikian, manusia Sunda Kuna diajak untuk membaca kembali hidupnya bukan semata dengan mata dan huruf, melainkan dengan rasa, bilangan, dan kesadaran kosmik—agar waruga kembali selaras dengan narawangan, dan cahaya asal tidak lagi terpecah dalam kabut zaman. []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *