PUISI Galih M. Rosyadi

kampung naga

foto karya Azmi. dok Galih M. Rosyadi

BALADA TANAH KARUHUN

di tubuhku dulu, orang-orang yang saban hari pulang
ke rumah-rumah panggung itu setia merawat cinta.
di tangan mereka cangkul-cangkul yang diayunkan
tak pernah meninggalkan kepedihan. di rahimku
benih-benih padi terus tumbuh, berbuah penuh dengan seluruh.
o, betapa lembut rajah dan jampi yang dirapalkan;
o, betapa santun izin yang dihaturkan –jauh sebelum
membajak lahan, menanam, dan menuai segala hasil.

zikir di nadiku kian mengakar, pohonan rindang
di hutan larangan kian setia menjaga musim
dari segala cuaca yang amat rawan.
mata air tak pernah menjelma air mata.
dan di tahun-tahun yang tiba, segala harap
kian berbinar di tiap pasang mata.

tapi, kini dadaku gawir-gawir tubir:
dengan segala sesak yang kian berdebar
mendekap sisa laku lampah para karuhun
yang perlahan-lahan hilang dijarah bengis zaman.

maka, menarilah! menarilah dengan riang
di tubuhku yang kian kerontang; usah kau
sajikan kembali segala persembahan dari
musim panen yang kau nantikan di saban-saban tahun.

aku akan mendatangimu dengan segala kutukan
dari berjuta batang pohon yang kau tebang,
juga dari ribuan hutan dan ratusan gunung
yang kau jarah di saban-saban musim.

aku akan mendatangimu bersama kemarau
panjang, juga curah hujan yang tak menentu;
bening air dan jernih udara akan tiada.
kau tak perlu mencemaskannya, sebab, aku
adalah dirimu; tubuhmu dan tubuhku menyatu. kita
berkaca pada asbab yang sama, yang memantulkan
bayang dengan warna muram setelahnya.

menangislah! menangislah dengan lirih
untuk anak-anakmu yang takkan mampu lagi
bernyanyi dan menghayati kembali rajah pamuka
pada masa yang kian penuh dengan prahara.

menangislah! menangislah untuk anak-anakmu
yang takkan sudi lagi menyentuhku
dengan tangan dan kaki telanjang mereka
yang terlampau mulus dan malas itu.

menangislah! menangislah dengan tangisan panjang
seperti dulu kala air mataku menjelma mata air
yang mengalir di sepanjang ladang penantianmu.

aku terus mengawasimu di antara butir nasi
yang kau hidangkan, juga di antara laba keuntungan
dan segala hutang yang tak kunjung kau lunaskan.
aku terus mengawasimu di antara amanat
para karuhun dan denting kecapi yang
kau dengarkan, juga di antara asap dupa
dan asap kemenyan yang kau bakar, lalu
kau lupakan di saban perayaan.

Galih R, Tasikmalaya, 2023-2025.

PUISI Diro Aritonang
Baca Tulisan Lain

PUISI Diro Aritonang


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *