JEDA BIJAK DAN BERADAB

mbg fiks

Di tengah maraknya spekulasi dan saran yang beredar mengenai kelanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah yang patut kita hargai sebagai wujud kepemimpinan beradab. Dengan menetapkan jeda sementara distribusi pada 2, 3, 5, 6, dan 7 Januari 2026, sebelum kembali berjalan serentak pada 8 Januari 2026, BGN menunjukkan sikap proaktif genuin dalam birokrasi, yakni dengan mendahulukan kualitas daripada sekadar mengejar target kuantitatif.

Kepala BGN, Dadan Hindayana, menegaskan, masa jeda ini bukanlah penghentian, melainkan konsolidasi strategis, yang akan dimanfaatkan untuk memperbaiki tata laksana penyelenggaraan MBG mulai dari perbaikan sistem produksi (dapur), penyempurnaan logistik, penguatan sumber daya manusia, serta peningkatan standar keamanan pangan. Dalam bahasa kebijaksanaan bangsa kita, ini adalah “nglaras” sebelum melangkah lebih jauh, menyelaraskan niat baik dengan daya dukung realitas.

Sebuah Ikhtiar

Sepanjang 2025, MBG telah membuktikan diri dalam ikhtiar mulia bagi tumbuh kembang anak dan ibu hamil dan dampak nyata. Anak-anak sekolah kita memperoleh asupan protein dan zat besi yang lebih baik, yang pada gilirannya meningkatkan konsentrasi belajar dan pertumbuhan fisik. Prof. Dr. Frieda Mangunsong, psikolog pendidikan dari Universitas Indonesia, kerap menekankan dalam forum-forum ilmiah bahwa gizi yang konsisten bukan sekadar memenuhi perut, melainkan membangun fondasi kognitif dan motivasi belajar anak. Studi lapangan awal memperlihatkan kemajuan nyata di kelas-kelas penerima MBG, sebuah pemerataan kesempatan yang selama ini kita impikan.

John Dewey, seorang filsuf pendidikan Amerika abad ke-20, dalam karyanya Democracy and Education, menegaskan bahwa pendidikan sejati harus berpijak pada pengalaman holistik anak, termasuk pemenuhan kebutuhan dasar seperti gizi yang memadai. Tanpa tubuh yang sehat, kata Dewey, pikiran takkan mampu berkembang secara optimal. Sebuah prinsip yang kini menjadi pijakan pemerintah dalam program prioritas MBG dan terbukti sukses.

Begitu pula Paulo Freire, dalam Pedagogy of the Oppressed, menyatakan bahwa kelaparan adalah bentuk penindasan struktural yang menghambat kesadaran kritis. Makan program seperti MBG, dengan jeda bijak untuk memastikan kualitas, justru membebaskan anak dari belenggu itu, membuka ruang bagi pendidikan yang benar-benar memanusiakan.

Dari sisi ilmu gizi modern, Dr. Walter Willett, profesor epidemiologi dan nutrisi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, dalam berbagai publikasinya menekankan bahwa intervensi gizi berbasis sekolah yang berkelanjutan dapat meningkatkan fungsi kognitif hingga 10-15 persen pada anak usia sekolah. Ia juga menggarisbawahi pentingnya variasi menu berbasis bukti ilmiah untuk mencegah defisiensi mikronutrien. Masa jeda ini memberi peluang bagi Indonesia untuk menyempurnakan menu MBG agar selaras dengan rekomendasi global seperti yang dikeluarkan WHO dan UNICEF, sehingga manfaatnya tidak hanya sementara, melainkan membentuk generasi yang lebih tangguh.

Meredam Jurang Gizi

Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Arie Sujito pada suatu kesempatan menegaskan, MBG berfungsi sebagai perekat sosial bangsa. Program ini akan meredam jurang gizi antarkelompok, mencegah stigmatisasi anak dari keluarga kurang mampu, dan menumbuhkan rasa solidaritas nasional yang hangat. Yang paling membanggakan, prioritas tanpa jeda bagi kelompok rentan—ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (kelompok 3B). Ini menunjukkan sensitivitas negara terhadap 1.000 Hari Pertama Kehidupan, masa emas yang tak boleh terganggu oleh kalender sekolah semata.

Dari perspektif tata kelola publik, langkah BGN ini selaras dengan semangat good governance yang antisipatif dan adaptif. Program sebesar MBG, yang menjangkau puluhan juta jiwa, memang memerlukan fondasi operasional yang kokoh. Masa jeda memberi ruang bernapas untuk sertifikasi ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pelatihan lanjutan, dan digitalisasi pengawasan—semua itu akan memperkuat akuntabilitas sekaligus efisiensi anggaran. Pada akhirnya, MBG tidak hanya bertahan, melainkan berkembang menjadi instrumen investasi sumber daya manusia yang berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.

Jalan Tengah Visioner

Dalam dimensi psikososial, jeda ini juga membangun rasa aman kolektif yang amat kita butuhkan di tengah kecemasan zaman. Dengan mempertegas standar keamanan pangan, BGN meredam potensi kegelisahan orang tua dan anak terhadap kualitas hidangan. Ini bukan sekadar urusan teknis, melainkan pembangunan kepercayaan publik bahwa negara sungguh-sungguh menjaga kesehatan generasi mendatang. Sebuah bentuk kasih sayang negara yang konkret.

Di saat banyak suara menyarankan penghentian selama libur sekolah, BGN justru memilih jalan tengah yang bijaksana, fleksibilitas bagi anak sekolah, sekaligus komitmen tanpa putus bagi yang paling rentan. Inilah teladan kepemimpinan visioner yang kita rindukan, mampu mendengar kritik, namun tetap teguh pada visi besar, sambil melakukan koreksi diri dengan rendah hati.

Pada hakikatnya, MBG bukan sekadar program makan gratis. Ia adalah ikhtiar membangun peradaban: generasi yang sehat jasmani, cerdas rohani, dan produktif bagi bangsanya. Dengan persiapan matang pada awal 2026, dengan melibatkan pakar lokal, UMKM, dan transparansi data—kita sedang menyaksikan langkah strategis menuju konsolidasi yang kokoh.

Bangsa ini membutuhkan kebijakan yang tidak hanya ambisius, tetapi juga beradab, bijaksana, dan berkelanjutan. Jeda singkat MBG di awal tahun baru ini adalah bukti nyata bahwa semangat itu masih hidup di dada para pemimpin kita. Mari kita dukung dengan penuh harap, karena di balik setiap jeda bijak, tersimpan lompatan besar menuju masa depan yang lebih cerah.

KORUPSI LAGI
Baca Tulisan Lain

KORUPSI LAGI


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *