PIKAT |8|

cerpen 8 fiksiku

Darma, sarjana sejarah dan filsafat yang diam-diam merapat ke Saung Bonsai Vanya Art dengan satu tujuan ingin juga bisa merakit pohon dengan dalih bukan untuk kebutuhan sesaat. Istri Darma, teman baiknya Avieka semasa remaja, asal Kota Maja. Darma, pensiunan dosen di salah satu Universitas Swasta ternama, pasca posisinya mengajar resmi digantikan oleh keponakan pemilik Yayasan, sejak itulah ia tak lagi berkecimpung di dunia kampus mana pun.

Keputusannya untuk pensiun dini bukan sebab apa atau kenapa, melainkan mutlak atas inginnya sendiri, sebab baginya waktu luang untuk keluarga terutama bersama istri harus diperbesar volumenya dikarenakan anak semata wayangnya sudah berumah-tangga: “Kasihan kalau saban hari istriku selalu sendiri di rumah, Vie!” ucapnya pada suatu hari. Ini pertemuan ke tujuh belas dengan Dom dan Avieka di Saung Pembibitan bonsai.

Sementara istrinya Darma berada di rumahnya Dom—di Kota Bineka—menemani istrinya Dom yang tengah hamil muda. Di sisi lain, kebiasaan Darma di dalam ruang kuliah, berlum benar-benar padam, hal ini nampak terlihat dari gaya bertuturnya yang selalu memancing untuk jadi wacana, seolah Dom dan Avieka itu sebagai mahasiswanya saja:

“Maafkan aku yang terlalu egois!” ucap Darma pada Dom dan Avieka.
“Bukankah egois itu prinsif?” tinju Avieka yang berusaha mencairkan suasana.
“Dulu, aku menganggapnya begitu, tapi kini bagiku itu penyakit!”
“Kok bisa jadi berubah pandangan?”
“Vie, hidup itu harus bisa merubah arah!”
“Plin-plan dong!”
“Bukan begitu, tapi begini … eeeeu … misalkan: kebijakan pemerintah itu sudah benar, tapi banyak sudut pandang lain yang mematahkannya. Eeeeu … bilamana kita hanya mengambil satu saja bantuan dari luar. Katakanlah komunikasi gratis … itu sangat berbahaya!”
“Bahaya dari mananya?”
“Katakanlah aku ikut nge-wifi di bandara, mall yang beberapa tahun ke belakang viral itu, atau pada orang yang tak dikenal. Bukankah dari mulai paswod dan data pribadinya bisa tersadap dengan begitu mudahnya, tanpa sepengetahuan si penggunanya. Itu baru satu bantuan dari yang banyak menguntungkan bagi pengguna dan tentu saja akses mulus bagi pemerintahan pusat dan daerah lain karena terus terkoneksi dengan baik, tapi mereka lupa tentang cyber war bukan sekadar perang narasi, melainkan pencurian data pun termasuk di dalamnya!”
“Iya juga sih. Ah, kenapa pula aku jadi ingat pada perusahaan provider yang …”

“Saya mau turun, apa kalian mau nginap?” sambar Dom, yang mampu menahan laju ucapannya Avieka.
“Aku saja yang nginep Dom. Mak Eroh dan Bah Rojak ada kan?” jawab Avieka.
“Ada, tuh di saung sebrang. Kalau kau Ma?”
“Pulang jugalah. Tadinya kalau kau mau nginep … eeeeu … ya boleh juga aku nginep. Turunnya bareng Dom!”
“Pulang ke Maja?”
“Maksudku ikut nginep di rumahmu, sekalian ikut nemenin suami siaga!”
“Saya beres-beres dulu ya!” seterusnya Dom menuju saung yang satunya lagi. Sementara Avieka dan Darma masih sibuk dengan bonsai rakitan mereka masing-masing sambil diselingi obrolan ringan ala warung kopi, sebagaimana biasanya:

“Vie, apakah kau tahu siapakah rakyat itu?”
“Apa ya … the common people, mungkin?”
“Ya, jawabannya bisa seperti itu!”
“Kalau menurutmu sendiri?”
“Aku jadi teringat lakon panakawan dan relief-relief candi yang bawa bakul, bertani, melayani … mereka selalu disimbolkan sebagai rakyat. Padahal rakyat itu semua orang yang menjadi penghuni suatu negara,”
“Maksudmu, saudara-saudara sebangsa dan setanah air?”
“Penduduk dan bukan penduduk. Warga negara dan bukan warga negara.”
“Termasuk makhluk halus kah?”
“Tentu saja, kau juga termasuk. Hahaha hahaha …”
“Oh … jadi ceritanya mau ngajak perang nih!”

“Aku sudah siap. Kau sudah siap Ma?” timpal Dom yang secara tiba-tiba sudah ada di hadapan mereka!”
“Siap komandan!”

**

Di warung kopi di bawah kaki lereng Gunung Agung, setelah Dom dan Darma berhasil melewati jalur yang biasa mereka tapaki. Seperti biasanya pula, mereka selalu istirah sejenak di warung Mang Saswi. Meski jalur yang ditempuh hanya sekitar satu kilo meter, tapi jalur pulang dalam trak turun itu lebih berat untuk ditapaki ketimbang jalur naik untuk sampai ke tujuan, itu sebabnya mereka selalu beristirahat di warung itu:

“Kau belum tahu ya, kenapa aku selalu tersenyum kalau lewat kendang ayam yang ada di atas kolam ikan yang sangat besar itu?”
“Belum. Kenapa memang?”
“Kolam Ikan, Kandang ayam dan pemilu!”
“Maksudnya?”
“Ketika ikan berebut tai kotok, artinya ayam-ayam sedang berkampanye. Eeeeeu … Ibaratnya ayam-ayam itu rakyat, dan yang menabur pakan itu balon dan tim suksesnya. Lihatlah, sejenak mereka lupa pada siapa jati diri mereka, sehingga ada yang terinjak, terdorong dan tak kebagian pakan, meski sudah dikasih wadah-wadahnya. Fenomena seperti itulah yang sebenarnya bukan satu atau dua kali saja terjadi di ini negeri, tapi kita tetap saja kembali pada hal yang sama, tak bisa ambil itu pelajaran, hingga dari sahabat jadi musuh—gara-gara beda pilihan yang dipoles dengan serangan fajar.”
“Kalau menurut saya, ya … di situlah letak tingkat kesulitannya untuk menyamakan pikiran atau persepsi. Katakanlah, visi dan misinya sama ingin membuat tempat minum, tapi prinsif-lah yang membedakannya. Misalkan kita: Kau jadinya cangkir dan saya jadinya mug, meski sama-sama ada cangklek-nya, tapi dari nama dan daya tampungnya serta fungsi pemakaiannya berbeda. Cangkir kalau ada tamu atau minum santai. Mug kalau lagi sendiri atau ada sesuatu yang harus direndam lebih lama.” hening.

“Kenapa pula aku jadi ingat pada obrolan tadi ya?”
“Obrolan yang mana?”
“Obrolan aku dengan Avieka yang sebenarnya pernyataan pemerintah itu sangat matang dalam pertimbangan, hanya saja tidak diungkap secara detail alasannya!”
“Oh … bagi saya, persepsi masyarakat dalam melontarkan pendapat itu wajar dan sah. Toh, Tuhan sendiri menciptakan kita berbeda, meski sama bisa dikata manusia.”
“Ya! Eeeeu … Begini Dom … sebenarnya apa yang telah terjadi pada bangsa ini sehingga negara kecil di sekitar kita tersenyum penuh arti menyaksikan tingkah laku …”
“Libido!” sambar Dom memotong pertanyaan Darma yang belum rampung.
“Libido? Oh … maksudmu libido tanpa kendali itu mampu atau bisa meruntuhkan bangsa ini secara perlahan-lahan, begitu-kah?”
“Seperti itulah abstraksinya!”
“Tanks Dom, aku jadi teringat … eeeeu … ya, kenapa di beberapa agama itu sangat menganjurkan untuk memperkecil atau menghilangkannya sekaligus nafsu egoisme?”
“Ya, seperti itulah Prof. Jakob Sumardjo bilang: Aku bernafsu, maka aku ada. Libido ergo sum.
“Bangunan pikiran!”
“Keterikatan sosial!”
“Kontaminasi!”
“Doktrin!”
“Buzzer digit!”
“Ah … itu lain lagi, meski bisa jadi ada di sanalah muara keruhnya itu!”

“Harmoni itu tidak menetap dan konstan. Harmoni dicapai lewat paradoks ketika gejala konflik memanas. Lalu kembali ke diri masing-masing. Hidup memang berpotensi konflik, namun konflik itu tidak konstan. Tegang terus itu tidak baik!”1 ucap sebuah suara sambil memijat-pijat pundaknya Dom.
“Lecet ya Mang saswi!” ucap Dom sambil memutarkan leher dan badannya ke arah belakang, “Prof, kok ada di sini, saya pikir Mang Saswi … habis suaranya mirip!” tanyanya pada Prof. Jakob Sumardjo, dilanjut sungkem.
“Biasa … Habis penelitian bareng mahasiswa. Tuh!” []

__________________

  1. esai Kebenaran Itu Paradoks karya Prof. Jakob Sumardjo.
BOLA |7|
Baca Tulisan Lain

BOLA |7|


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *