EPIGRAM

cermin epigram

“Mark Twain pernah menulis: Politik adalah satu-satunya profesi yang memungkinkan Anda berbohong, mencuri, menipu dan tetap dihormati. Barangkali dari sanalah pangkalnya kala dunia mengenal konsep kebohongan bersama. Dan siapa yang berani mengusik ranah tersebut, artinya ia seorang rakean sejati!”
“Saya sadar, teater bukan hanya soal estetika di atas panggung, tetapi juga keberanian di luar panggung: keberanian bersuara, berpihak dan menanggung resiko. Pada bagian itu saya gagal!”
“Gagal dari mananya Ndo? Toh kenyataanya itu aku, kau, kita atau siapa pun itu orangnya harus dan atau butuh mengalami kesedihan dan atau penderitaan, to get happiness. Dan setelah mendapatkan kebahagiaan, akan mengalami lagi another penderitaan atau kesedihan, supaya lebih banyak lagi merasakan, memahami semua rasa dan lebih banyak lagi bersyukur. Why? Karena dualitas dalam hidup ini akan terus bergulir melengkapi hidup, supaya kita sadar, sadar dan sadar; siap dan ikhlas menerima semua yang hadir. Hingga pada satu titik akan berani berkata: Aku cinta akan engkau wahai semesta!”
“Semalaman saya tidak bisa tidur. Dan seharian ini saya ingin menangis. Karena rasa bersalah!”
“Bersalah dari mananya juga sih Ndo?”
“Ada penyesalan yang besar dan sunyi dalam diri saya. Bukan karena pementasan ini gagal berdiri, melainkan karena pada saat ia membutuhkan keberpihakan, saya justru tak hadir sepenuhnya!”
“Lah, terus tugasnya mereka itu apa sih Ndo?”
“Saya tak mampu membantu kawan-kawan sebagaimana mestinya. Kelemahan mental saya, dan ketidakberanian untuk melawan sistem yang kaku dan menekan, juga bias dari tulisan-tulisan saya yang tak saya duga efeknya, membuat saya memilih diam, dan diam itu kini berubah menjadi sesal yang panjang!”
“Tulisan? Oh… ya, hematku tulisan-tulisanmu itu katarsis dan otentik, Ndo. Ditambah lagi narsum-nya juga kompeten. Kamu ini, masih saja begitu, gak percaya diri. Begini, jauh-jauh hari aku sudah bilang; boleh ikuti arus yang ada, tapi jangan sampai hanyut. Dan bagiku diammu itu adalah ya, tak ikuti arus yang dipetakan jadi peta konflik!”
“Tapi saya memutuskan bertolak ke Kota Galendo, dan berdiskusi tentang perasaan yang sedang saya alami dengan sesama buruh kuli tinta, ia memahami, dan memberi pilihan yang belum bisa saya putuskan!”
“Kenapa harus diputuskan, Ndo? Ah, bukankah dengan diammu selama ini pun sudah jadi jawaban mutlak bahwa kau tak terjebak dengan permainannya, iya toh?”
“Catatan ini saya tulis bukan sebagai pembelaan, melainkan sebagai pengakuan. Semoga penyesalan ini tidak berhenti sebagai rasa bersalah, tetapi menjadi pelajaran, bahwa lain kali, jika seni kembali diuji oleh kuasa dan aturan, saya memilih berdiri, bukan bersembunyi!”
“Haduh … makin ngawur saja sih Ndo? Nah dalam hal inilah ada yang kau lupakan. Kau masih ingat tentang avantgarde yang berarti garda depan atau pelopor. Terlebih kau tak meminjam telinga, mata dan hati, tetapi jadi saksi mutlak. Dan dengan diammu itulah, bagiku kaulah patriotnya itu!”
“Semuanya jadi merambat retas dalam audit di segala sektor!”
“Ndo, bilamana itu benar, kenapa ada pihak yang takut akan kebakaran jenggot?”
“Hati tidak sesederhana itu!”
“Ya. Hati itu di isi bukan untuk dikosongkan. Sebagaimana kau yang disuruh ke belakang. Padahal mutlak posisimu itu harusnya ya di depan, guna teken kontrak, iya toh? Bagiku, ketika kau patuh untuk mundur di situlah multak menangmu ada dan terasa, serta terbaca pun terkaca dengan jelas!”
“Sakitnya tuh di sini!”
“Kenapa jadi ada Cita Citata-nya sih Ndo?”
“Saya ada di itu ruang dan waktu, demi tiga nyawa yang berlindung di sebalik ketiak saya. Peristiwa itu ada karena ada sebab. Dan dari para penanggap itu ada—imbas dari sebab. Ada apa dengan cinta?”
“Ya, yang jelasnya bukan Milea. Bisa jadi ada hati yang mendua. Dan kau tahu, Ndo; kata Burhan juga lho, bahwa selingkuh itu mutlak tak indah kala jejaknya terbaca sudah dalam alur yang penuh dengan daftar menu biaya tak terduga. Hingga harus potong sini dan potong sana guna bisa berdiri dalam kalang nampak kokoh dan megah, meski detik waktu tak bisa dikebiri.”
“Benar apa yang dikatakan Burhan itu bahwa cinta berat diongkos!”
“Ongkos dan mengongkosi itu dua hal bayang yang tak pernah dituliskan dalam neraca, Ndo. Ya, bak dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan, tapi terasa dalam napas pengeluaran yang kian mempersempit akan alurnya—hendak dibawa ke manakah muara labuhnya?”
“Saya pamit!”
“Ke mana?”
“Ker ruang-ruang yang tak terduka dalam peta!”
“Ya, seperti itulah utuhnya gambaran dunia yang lebih banyak alurnya tanpa peta konkreat!”
“Hallo … Kenapa harus dicabut? … , … , …” []

NURANI
Baca Tulisan Lain

NURANI


Apakah artikel ini membantu?

One thought on “EPIGRAM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *