Belakangan orang terus memperbincangkan wacana Menteri Keuangan soal “penghilangan” nol pada mata uang rupiah. Uang Rp1.000.000 menjadi Rp 1000. Ini bukan devaluasi, tapi “penghilangan” nol secara sistematis tanpa melemahkan nilainya.
Harga buku Rp 80.000 lama, bertransformasi menjadi Rp80 baru; gaji anda Rp5.000.000 menyusut jadi Rp5.000 baru, tanpa menggerus daya beli pasar. Itulah yang dinamakan “redenominasi” perubahan proporsional, dengan “membuang” sebagian angka nol demi efisiensi.
Terkesan obsesif, tapi terobosan ini dapat menimbulkan “daya gedor” luar biasa pada pertumbuhan ekonomi, jika dilakukan dengan benar. Lagi pula mengapa bertahan pada rupiah “gemuk” dengan nol berlebih, sementara esensi nilainya justru rapuh, jatuh dalam intervensi daya saing.
Mata uang Indonesia akan tampil ramping di panggung ekonomi global, lepas dari stigma sebagai mata uang “lemah” mudah ditekan mata uang asing. Prosesnya; tentu bertahap, dari persiapan, sosialisasi, dan dengan transisi tiga tahun. Teknisnya; penulisan ganda, misal uang (Rp1.000.000/ disertai angka Rp1.000 baru).
Kita boleh bercermin pada negara lain. Turki misalnya, tahun 2005 sukses memotong enam nol saat inflasi rendah; Rusia tahun 1998 dan Rumania tahun 2005 mengikuti jejak Turki, Tapi upaya ini bisa gagal tanpa stabilitas ekonomi makro. “Paul Krugman”, ekonom peraih Nobel mengatakan: redenominasi hanya efektif di negara dengan ekonomi stabil, bukan hiperinflasi.
Sementara Joseph Stiglitz mengingatkan; “redenominasi” sebagai alat psikologis merenovasi kepercayaan publik, bukan reformasi struktural dengan resiko tak terukur.
Bagi Bank Sentral akan ada efisiensi transaksi dalam citra international lebih positif. Bagi rakyat, ada risiko kebingungan jika sosialisasi gagal.
Tapi ingat ini bukan “sanering”, pemotongan nilai rupiah seperti dilakukan era presiden Soekarno, yang membuat kemiskinan seketika. Untuk sukses “redenominasi” ekonomi nasional harus “percaya diri” dengan modal; inflasi terkendali, devisa kuat, dan publik tidak panik.
Tanpa itu “redenominasi” hanya gerakan formalitas penghilangan angka nol, tanpa memberi “benefit” bagi rakyat









