Mata sayu lelaki ceking paruh baya yang berambut ikal dengan barisan gigi atas sedikit tongos, metatap tajam pada sebuah pohon bonsai yang mendapat predikat best in class dalam kategori Kelas Pratama pada Festival Pameran Bonsai Tingkat Nasional yang diselenggarakan di Kota Santri, seminggu lalu. Pohon Mea, pohon yang sulit untuk tumbuh besar dan sangat manja alias sulit bisa tumbuh subur dalam perawatannya itu hasil rakitan tangan dinginnya dengan konsep bunjin.
Pohon Mea, memang berakar serabut, tapi jika sedikit saja terganggu atau salah media tanamnya, siap-siap melayu laju mati seketika, tanpa memberikan lampu kuning yang lama dalam arti sulit untuk bisa diselamatkan. Seorang perempuan muda berkerudung duduk di papangge Bale Saung Bonsai, sambil menatap tajam punggung lelaki ceking yang begitu asyik memutar-putar Pohon Mea di atas meja kerja putarnya:
“Ayah, kayaknya perutku berisi lagi!”
“Alhamdulillah. Sebaiknya kita ke bidan sekarang!”
“Nanti sore saja!”
“Kenapa harus sore?”
“Kan kliniknya itu bukanya sore!”
“Hai semprul!” ucap seorang perempuan paruh baya yang berdiri tepat di gerbang area Galeri Saung Bonsai Vanya Art, didampingi seorang lelaki yang sedikit lebih tua darinya, mereka datang dengan tiba-tiba; “Dari mana kamu tahu alamat saya?” timpal Dom tanpa adanya basa-basi.
“Dari mbah google lah!”
“Mah, kenalkan ini Avieka dan ini suaminya!”
Selepas berkenalan, istri Dom meninggalkan area galeri. Sementara suaminya Avieka begitu asyik mengelilingi area galeri sambil melihat-lihat koleksi bonsai yang berjejer rapih di atas rak-rak kayu. Selebihnya Avieka dan Dom nampak bercakap serius di area bale:
“Sebagian kalangan bisa merasa nyaman-nyaman saja, akan tetapi sebagian lainnya tidak!”
“Alasannya?”
“Orang mungkin bisa mengabaikan bisikan lembut hati nurani, tapi siapa pun manusianya, bisikan itu sulit ditiadakan walau mungkin dapat ditepiskan!”
“Contohnya?”
“Seperti pesan-pesan singkatmu itu yang harus dijadikan cerita fiksi, dan saya tak bisa untuk melakukannya. Bukan karena kenal betul dengan objek. Justru, jika melihat dari sisi lain sangatlah menguntungkan ketika kenal betul dengan objeknya. Sebagaimana Soe Hok Gie pernah berkata: Seseorang bisa mencintai dengan sempurna, ketika orang tersebut mengenal betul tentang objeknnya. Artinya data faktual bisa terserap dengan lengkap.”
“Apakah ukuran-ukuran yang kita pakai secara intelektual itu selalu benar?”
“Kalau ukuran intelektual itu sama dengan logika, ya logikanya benar. Tapi yang benar menurut logika belum tentu cocok dengan ukuran spiritual.”
“Lalu, apakah itu juga bisa dibenarkan secara emosional dan spiritual?”
“Tidak selalu, bahkan seringnya malah tidak bisa dibenarkan sama sekali.”
“Jadi simpulannya?”
“Kita balik lagi ke pertanyaan awalmu: Bisakah jiwa kita menjalankan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani? Jawaban saya sudah jelas: Ada orang yang bisa saja merasa baik-baik saja, tapi ada juga yang tidak bisa menerimanya, meskipun secara logika hal itu dianggap wajar dalam sistem politik hasil amandemen.”
“Terus aku harus bagaimana?”
“Sebenarnya saya sudah bisa menangkap arah pikiranmu itu larinya akan ke mana!”
“Apa coba?”
“Atas pertanyaan-pertanyaanmu itu sebenarnya kau sedang menggiring saya pada jebakan batman!”
“Jebakan batman apa?”
“Supaya saya mau menuliskan kisah empirismu jadi fiksi yang utuh!”
Seketika Avieka menunduk renung dalam geming diamnya. Di lengkung langit, lukisan alam menawarkan panorama mendung.
“Kamu itu terlalu cerdas Dom!”
“Cerdas itu menurut ukurannya.”
“Maksudnya?”
“Kita balik ke topik ya. Kalau kita ngomong soal politik dan kekuasaan secara utuh, kekuatan modal itu biasanya ikut main juga. Mereka bisa ngasih dana buat iklan di media massa atau biayai survei. Intinya, modal besar bisa masuk ke banyak aspek. Dan akibatnya, masyarakat jadi merasa kalau penguasa itu berpihak ke pemilik modal.”
“Contoh konkretnya?”
“Lihat saja kerusakan alam. Itu bukti jelas kalau kekuatan modal sudah menguasai banyak sisi kehidupan.”
“Kenapa juga ya, kita jadi ngomongin tentang politik dan kekuasaan?”
“Karena jebakan batmanmu itu tak berhasil!”
“Ah, semprul. Sudahlah!” seterusnya Avieka berdiri sambil mengeraskan suaranya: “Sayang … apakah ada bonsai yang cocok untuk mengisi halaman belakang rumah kita?”
“Ada. Bonsai Bucida ini cocok, tapi entah dengan harganya!”
“Suamimu pecinta bonsai juga?”
“Pecinta pohon dan ulat. Berapa harga Bonsai Buchida itu?”
“Untukmu tiga ribu saja!”
“Mahal banget tiga juta!”
“Sebenarnya sudah sangat murah sekali. Dari bahan sampai jadi seperti itu, saya merawatnya sudah hampir lima tahun. Dan itu harga kawan bukan harga wisatawan!”
“Sebentar, tadi kau bilang dari bahan, maksudnya?”
“Saya beli Pohon Bucida itu dari sesama penghobi. Kalau yang dari biji, saya juga punya yang saya tanam sendiri. Pohon yang berbuah itu Pohon Sianci, usianya baru tujuh tahun. Bucida yang di galeri saya umurnya sekitar lima tahun. Kalau dari penghobi sebelumnya, saya kurang tahu sudah berapa tahun.”
“Ya sudah. Kita beli dua. Sayang … beli dua saja biar ada kawannya!”
“Itulah yang aku tunggu, lampu hijau darimu, sayang!”
“Eh, Dom … kenapa kamu tidak jadi dosen saja, malah jadi petani bonsai? Padahal kamu itu sangat berpotensi besar jadi dosen!”
“Itu menurutmu, tapi kata lembaga belum tentu!”
“Hem … rumit. Jangan-jangan kau sendirilah yang tak berminat!”
“Bukan tak berminat. Namun, emosi publik dimanipulasi sehingga terjadi transaksi material!”
“Kembali ke laptop nih ceritanya! ehehehe …”
“Hahaha … hahaha …”
“Ssssst … ketawa itu jangan keras-keras, mana gigi kuningmu offside lagi. Mending kalau partai bisa duduk di kursi parlemen!”
“Tak duduk di parlemen juga tak mengapa yang penting barisan si kuning ini bisa nenen saban malam hahaha … hahaha …!”
“Parah lho! Ehehehe … Ehehehe … hari ini aku Bahagia. Entah esok atau lusa. Terima kasih ya Dom, kau sudah mengerti adaku kini!”
“Kembali kasih! Eh … apakah kau masih bekerja di perusahan tambang itu?”
“Resign. Wah … itu menarik kalau dijadikan bahan cerita, Dom!”
“Dari segi neraka yang tak dirindukannya?”
“Semprul lho! Ehehehe … ehehehe …”
Sore yang mengendap pelan. Suara-suara alam yang merayap dari balik kabut, penanda akan turun hujan. Dua sosok bayang yang begitu lama sudah tak bertatap muka, kembali memancarkan kemilau kebersamaan dalam kalang saling menguatkan di ruang dan peristiwa yang berbeda. Dan pertanyaan sederhananya adalah: Siapakah yang bisa membaca kehilangan? []









