PENGALENGAN YANG HILANG

kebun teh 1

Di kaki Gunung Tilu, Pangalengan, Jawa Barat, yang dulu hijau oleh daun teh yang terhampar bak permadani, kini dipenuhi tanaman kentang. Bukan karena tanah ladang di kawasan itu merindukan varietas baru, melainkan karena ada aliran modal yang menyebabkan penebangan ribuan pohon teh tua. 

Lahan perkebunan itu disewakan pada pengusaha dengan alasan klasik “demi ekonomi dan finansial.” Maka, logika ekologi pun dibenturkan dengan logika neraca keuangan.

Apa yang terjadi di Pengalengan bukan sekadar pergantian tanaman, melainkan pengambilalihan ruang hidup oleh kapital. 

Di sini, tanah bukan lagi milik alam, melainkan komoditas yang bisa disewakan, dijual, atau diubah bentuknya sesuai selera pasar. Ketika lahan strategis dilepaskan dari tanggung jawab ekologis dan diserahkan kepada mekanisme pasar, saat itu pula alam mulai menyimpan dendamnya. 

Banjir dalam bayang – bayang serius di Bandung Selatan. Erosi parah, dan hilangnya sumber mata air bukan kebetulan, tapi balasan sistematis dari lahan teh penyimpan air  yang terusir.

John Bellamy Foster, dalam kerangka ekologi-Marxisnya, menyebut fenomena ini sebagai “metabolic rift”, menjadi jurang yang terbentuk antara manusia dan alam ketika hubungan metabolisme itu diputus oleh akumulasi kapital. Teh, yang tumbuh lambat dan membutuhkan stabilitas iklim mikro, dikorbankan demi kentang yang bisa dipanen dalam hitungan bulan dan dijual dengan margin lebih besar. Kapital tidak peduli bahwa daun teh menahan air hujan, bahwa akarnya mengikat tanah, bahwa kebun teh adalah benteng terakhir kawasan Bandung Selatan dari bencana ekologis.

Slavoj Žižek bilang “Dimana ideologi bekerja paling efektif?” Jawabnya: ketika kerusakan alam disajikan sebagai keniscayaan ekonomi, ketika penebangan ribuan hektare hutan dibungkus narasi “demi finansial dan ekonomi”, ketika publik diajak menerima bahwa tidak ada alternatif selain menggadaikan tanah leluhur. 

Ideologi itu berhasil karena kita semua turut diam ketika logika profit menyamar sebagai kebijakan rasional. Dan Pengalengan bukan sekadar nama tempat. tetapi arena politik tempat bertemunya tiga kekuatan, yaitu modal, negara dan lingkungan, serta rakyat kecil yang akhirnya menanggung banjir dan longsor. Jika kita masih membiarkan lahan-lahan strategis seperti ini diperlakukan sebagai aset finansial semata, maka kita sedang menulis sendiri epitaf peradaban di lereng-lereng Negeri Priangan. 

Alih fungsi lahan teh menjadi kebun kentang, sebuah metamorfosis yang tampak sekilas sebagai solusi ekonomi instan, namun menyimpan benih-benih kehancuran ekologis. 

Di balik gemerlapnya hasil panen kentang yang menjanjikan, tersembunyi ancaman nyata bagi keseimbangan alam dan masa depan. Kita tak terjebak dalam pusaran nafsu ekonomi dengan mengorbankan lahan demi keuntungan sesaat. Longsor tanah, kehilangan keanekaragaman hayati, dan polusi lingkungan adalah harga yang harus dibayar hari esok.

Alam  bukanlah mesin yang dapat dieksploitasi tanpa henti. Bahwa kesejahteraan harus diperjuangkan, tetapi kesejahteraan sejati bukanlah hasil penaklukan alam, melainkan harmoni dengan alam. Alih fungsi lahan bisa jadi cermin kelalaian akut yang membawa kebijakan ke jalan gelap.

Sudah waktunya ekologi politik didengungkan bukan sebagai orasi kosong, melainkan sebagai pisau analisis yang tajam. Karena ketika modal menang, alam tidak kalah begitu saja, ia membalas dengan cara yang paling brutal, menghukum kita dengan mengirim air bah.


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *