LEMBAB |2|

LEMBAB CERPEN

“Hai!”
“Apa?”
“Belum tidur?”
“Jadwal tidur saya tak pernah berubah!”
“Masih berdarah drakula dong!”
“Maksud?”
“Siang tidur. Malam kelayapan. Mending kalau kelelawar, hanya nyolong buah saja. Nah kalau drakula, membunuh hahahaha … meski esensinya sama—demi bertahan hidup!”
“Kalau begitu saya terbang!”
“Ke mana?”
“Ke rumahmu-lah!”
“Ngapain?”
“Menghisap dan membunuh!”
“Nanti nyesel!”
“Kenapa harus nyesel?”
“Biasanya kalau drakula mendapat mangsanya perempuan itu suka jatuh cinta, seperti di film-film!”
“Ya. Kini saya paham!”
“Paham apanya?”
“Ada yang ingin jadi pacar drakula haha…”
“Dasar semprul!”
“Semprul juga manusia. Lupakan. Ada apa kontak malam-malam?”
“Kemarin malam aku berpikir. Ternyata kamu benar!”
“Benar apanya?”
“Kebersamaan itu lebih berharga daripada pembenaran semata!”
“Dalam hal?”
“Percakapan yang semalam, kemarin!”
“Yang mana?”
“Relasi itu lebih penting ketimbang hepeng sekeping!”
“Filosofinya?”
“Haduh … Aku ini anak pisikolog, bukan anak filsafat!”
“Kirain anak manusia!”
“Semprul! By the way istrimu apa kabarnya?”
“Baik!”
“Ceritanya itu bagaimana sampai bisa dapat daun muda?”
“Sudah kehendak-Nya!”
“Kebiasaan, tak mau cerita panjang-panjang alias kasus ditutup!”
“Sebabnya sederhana!”
“Apa?”
“Jadilah orang baik hahahaha …”
“Klise. Pasti ujungnya akan ngomong begini: jadilah orang baik tanpa harus menjelekan orang lain!
“Terus?”
Jadilah benar tanpa harus menyalahkan orang lain!
“Lanjut!”
Cukup melakukan kebaikan yang lebih baik secara konsisten!
“Laju?”
Biarkan waktu yang akan membuktikan kualitas kita.
“Simpulnya?”
Mari maju tanpa menyingkirkan, naik tinggi tanpa menjatuhkan!
“Pintar!”
“Semprul!”
“Avieka yang baik … sudah dua malam beruntun, kau menghubungi saya, ada apa sebenarnya?”
“Kau tahu kisah Ibnu Athaillah as-Sakandari?”
“Sedikit. Memangnya kenapa?”
“Ia pernah berkata: Maksiat yang melahirkan rasa hina pada dirimu hingga engkau menjadi butuh kepada Allah, itu lebih baik daripada taat yang menimbulkan perasaan mulia dan sombong, atau membanggakan dirimu.
“Apa yang kau tangkap dari ucapannya tersebut?”
“Justru inilah yang ingin aku pertanyakan padamu, Dom!”
“Sebenarnya perkataanya itu tak perlu penjabaran, toh semuanya bisa memahami dengan sudut pandang masing pribadinya, tapi saya punya satu sample yang menarik!”
“Apa itu?”
“Zina itu tak perlu sembunyi-sembunyi, bahkan bisa dilakukan kapan pun, meski di dalam sebuah ruangan yang ramai sekalipun orang tidak akan mengetahuinya!”
“Wah, bagaimana caranya?”
“Dengan chattingan pun sudah bisa dikategorikan zina yang aman dari pandangan manusia di sekitarannya. Dan ruang privat zina paling aman itu adanya di atas ranjang dan di kamar mandi, bisa ditambah dengan phone seks, semisal. Seperti itulah salah satu imbasnya dari teknologi yang semakin canggih!”
“Tepat. Ada lagi?”
“Untuk sementara itu saja!”
“Baiklah. By the way mengapa hanya membincangkan hal-hal yang eksis?”
“Sebab saya takut!”
“Takut kenapa?”
“Engkau jatuh cinta pada saya. Laju seiring waktu jadi sepasang selingkuh!”
“Lho … bukankah kemarin malam engkau sendiri yang menyatakan tak bisa berhenti untuk mencintaiku?”
“Apakah pesannya masih disimpan?”
“Tentu saja!”
“Coba kirim balik!”
“Nih: Seperti itulah adanya dirimu dari dulu sampai sekarang, dan itulah sebabnya saya tak pernah bisa berhenti untuk mencintaimu!
“Dalam kalimat itu hanya ada diksi mu bukan ku!”
“Terus, apa fungsinya bahasa komunikasi?”
“Apa kau masih ingat musabab percakapan itu?”
“Tentu saja. Memangnya kenapa?”
“Tugas kita dari Tuhan itu jadi baik, bukan terlihat baik di mata manusia!”
“Artinya?”
“Ya, kriteria orang ketiga itu, altruis yang identik dengan sahl. Itulah sebabnya kenapa saya jatuh cinta pada laku hidup orang seperti itu!”
“Tegasnya?”
“Kebenaran tidak terletak pada satu sisi, tetapi pada ketegangan yang ada di antara keduanya.”
“Abstraknya?”
“Ketika kita minta air, pasti akan diberi dengan gelasnya, tapi jika kita minta gelas belum tentu dikasih dengan airnya. Begitu juga ketika kita mencari akhirat, pasti dunia pun akan kita dapatkan, tapi jika kita hanya mencari dunia, belum tentu akhirat juga kita dapatkan.”
“Adakah hubungannya dengan konteks umat akhir zaman?”
Bagi laki-laki, mereka berlaku sibuk dengan melakukan perzinahan dan mengejar cinta wanita diakhir zaman. Bagi perempuan, mereka berlaku sibuk memikirkan soal percintaan dan merawat diri (kecantikan), hingga lalai dalam urusan agama.
“Hem … baiklah, aku akan pergi, tapi harapan tidak akan pergi!”
“Pergilah bersama cintamu—bawalah ke mana pun langkahmu mengarah, tapi jangan kau sembunyikan ia di dalam bagasi; takut ia meledak oleh desakan perasaan yang tak diberi ruang bernapas.”
“Semprul!”

Dua bayang dalam dua ruang menyatu dalam satu dunia virtual dengan notasi-notasi polosnya. Pada akhirnya mereka merasakan perih dari benturan-benturan sosial. Mengapa hati mereka dibiarkan saling melukai? Barangkali inilah yang bernama konsep Tuhan yang bekerja dalam cara-cara yang selalu membingungkan, mencipta sesuatu yang kelihatan indah padahal tersusun dari keburukan yang tersembunyi. Guna kegelisahan itu menjauhkannya dari ketergantungan pada sesama, dan menuntunnya pulang kepada-Nya. []

TUBIR |3|
Baca Tulisan Lain

TUBIR |3|


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *