Sekapur sirih ini saya dedikasikan untuk kaum disabilitas
Banyak yang harus kita pelajari mengenai hidup yang berserakan di jagat raya ini. Narasi besar dihadapan kita, baik itu ayat Qur’aniyah maupun ayat Kauniyah / yang tersurat maupun yang tersirat. Demi menjadi manusia yang utuh, dan rahmatan Lil Alamin. Demikian pula halnya membaca jagat manusia, termasuk didalamnya membaca kaum disabilitas/berkebutuhan khusus. Dan cerdas memperlakukan mereka sebagaimana kita memperlakukan manusia lain, seperti memperlakukan diri sendiri. Secara tersirat kitalah yang diajari mereka ( kaum disabilitas ).
Tanpa mereka kita tidak lengkap menjadi manusia yang pandai bersyukur. Bukankah kita sama-sama tahu, ketika Rasulullah Saw ditegur Tuhan pada saat berpidato di hadapan para tokoh bangsawan Arab. Hanya karena abai pada sang buta yang papa ( Ummi Maktum ) yang bersungguh-sungguh ingin mengetahui perkara Dien ( Agama ) yang benar. Sedang mereka tokoh-tokoh Arab abai pada Rasulullah.
Lalu Allah menegur Rasul, sehingga Rosul mengais memalingkan perhatian pada Ummi Maktum (redaksi penulis ). Dan celaka pula bila kita abai pada kaum difabel, atau yang punya anak atau keluarga yang berkebutuhan khusus, dan kita merasa malu karenanya. Bukankah teguran Allah pada Rasul adalah untuk kita juga ? Dan tidak pantas kita mengabaikan mereka ( kaum disabilitas ), bahkan merasa malu karenanya.
Kaum disabilitas adalah bagian dari hidup kita, memperlakukan dengan benar adalah keharusan untuk menjadi manusia seutuhnya. Aamiin… ” SEMOGA “.
Salam jiwa dari penulis.
Takzim : Ayie S. Bukhary
Awal Desember 2018









