MALAM hari [BEBAS MENAFSIRKAN, MISALKAN BOLEH OLEH ILUSTRASI MUSIK DAN MULTIMEDIA ATAU DENGAN PERMAINAN ARTISTIK YANG KUAT] : Seorang perempuan duduk di beranda sunyi, meja bundar menyapa angin malam, kursi kayu mengundang kenangan, vas bunga mawar merah merekah. Secangkir teh panas mengepulkan asap harum, di samping sekerat roti bakar yang renyah. IN FRAME: Lampu yang tadinya general perlahan fokus pada seorang perempuan itu yang duduk tersandar, matanya menerawang ke kegelapan, sambil mencicipi hidangan malam.
Sebelum rahimku menjadi sarang kehidupan, aku tak ubahnya mangsa liar di rimba asmara. Bagaimana tidak? Lelaki-lelaki datang bagai pemburu haus darah, menyembunyikan panah mereka di balik panji cinta. Ya, bisa kukatakan, dari cinta pertama itu… KEPADA para penonton yang diam menyimak seperti cinta … monyet. Loh, mengapa tertawa? Bukankah orang bijak bilang, getaran pertama hati itu mirip kelakuan simpanse lincah? MENUNGGU respon dari penonton Benar, kan?
Tentu, aku tak hendak membenarkan prasangka ini, tapi itulah kesimpulan mayoritas, terukir dalam lembaran buku-buku tentang apa itu cinta dan asmara. Aku pun bingung. Mengapa asmara dan cinta berpisah makna, padahal dalam kamus besar, mereka seperti saudara kembar? Baiklah, aku tak akan panjang lebar membahasnya, sebab aku bukan ahli bahasa, apalagi sastrawan. Namaku… SEBUT nama sesuai kesukaan pemeran lahir dari keluarga yang harmonis bagai simfoni angin desa. Itu sebabnya parasku manis, bukan narsis, tapi fakta simetris seperti pantulan cermin. Iya, kan?
Ngomong-ngomong soal cinta, bisakah ia dibahasakan? Menurutku, tidak. Ya, tak dan tidak. Jika dipaksa dirangkai kata, kegagalan itu melahirkan salah paham, disusul miskomunikasi yang lambat, menjadi belenggu bagi rencana yang tergantung. Jelasnya, cinta bukan untuk dilihat, tapi untuk disaksikan dalam relung jiwa yang hidup di dalamku. HENING sejenak laju antara gelisah dan ragu Pernahkah kalian jatuh cinta, yang rasanya berjuta, bagai slogan permen: rame rasanya? Apa? Oh, belum pernah? Kasihan deh kamu! Ah, lupakan.
Begini FOKUS menatap ruang kosong : Aku tak tahu lagi… berapa lama aku bertahan. Setiap hari, ritme yang sama bagai roda gila: bangun pagi, masak sarapan, antar anak ke gerbang ilmu, jemput mereka di senja, masak siang, cuci piring yang menumpuk, bersihkan rumah dari debu kenangan, urus burung suami yang bernyanyi sendu, masak malam. Dan lagi… lagi… urus burung yang murung …
Aku tak punya waktu untuk diriku. Tak ada ruang untuk berpikir, merasa. Aku hanyalah mesin tanpa jiwa, berputar tanpa henti. Arisan pun jadi beban, mencari receh tambahan untuk setor, curi waktu untuk hadir, pura-pura senyum di depan mereka. Padahal, aku ingin berteriak, menangis… dan… Dan mertua, mereka tak pernah puas. Selalu ada kekurangan, kesalahan. Aku tak bisa memuaskan mereka. Hanya suami yang merasa puas, sementara aku… masih on! MENANGIS, terisak-isak Tapi… anakku… masih kecil. Tak bisa kutinggalkan sendirian. TANGISNYA semakin menjadi Aku harus kuat… bertahan… untuk anakku yang polos…
HENING sejenak laju tersenyum Begitulah curhat seorang teman padaku. Apa? Sumpah mati, berani disambar gledek… itu kisah sahabatku… eh, temanku! Ya, sudah kalau tak percaya!
Apa? … Iya, sebentar. Begini: aku jadi wanita karier bukan pilihan hati, tapi paksaan nasib. Lahir dari keluarga petani di kampung sunyi. Secara tragis, bapakku mati muda saat menggarap sawah orang, hujan deras datang tiba-tiba, petir menyambar seperti amarah langit. Ibuku jadi tulang punggung tunggal. Ironis, bapak dan ibu sama-sama anak tunggal, yatim piatu. Tapi kasih Tuhan melalui ibu, membuatku bertahan, sekolah hingga gelar tertinggi lewat prestasi. Kuncinya satu: Jujur. Ya, hidup itu harus jujur di mana pun. Itulah amanah ibu yang kugenggam erat hingga kini.
HENING, laju melamun. Aktingnya seperti sedang ziarah kubur kasih ilustrasi musik Di tepi pusaramu, Ibu, rindu mencuat bagai asap dupa saat hati nelangsa. Tapi aku paham, kenyataan tak bisa dilawan; hidup punya aturan suci yang tak boleh dilanggar. Mawar ini untukmu. Langit dan matahari aku kembalikan pada catatan musim, bersama doa yang kuapungkan pada-Nya.
DUDUK di kursi sambil minum atau makan hidangan yang tersisa Sejak menikah, kebahagiaanku lenyap dari pikiran. Yang kupikirkan hanya bagaimana suami bahagia bersamaku, anak-anak bangga punya ibu seperti ini. PADA penonton Apakah kalian beragama? Syukurlah. BANGKIT laju berjalan mendekati penonton Perempuan belajar agama untuk tiga hal utama: bekal akhirat, taat suami, jadi ibu bagi anak-anak. Empat perkara tambahan: berbakti dan mendoakan orang tua.
Sementara ijab kabul bagi laki-laki: ia tanggung dosaku dari orang tua. Apapun kesalahanku, dari aurat hingga shalat terlewat, ia tanggung, bukan lagi ayah-ibu. Jika gagal, ia fasik, dayus, rela masuk neraka, dibelah zabaniah.
Apa? MENATAP tajam pada seorang penonton Benar, dari urus rumah hingga cari nafkah, tugas suami. Tapi betapa picik jika tak meringankan bebannya yang berat. Belum lagi tanggung dosa anak sebelum nikah. Dan ditambah menanggung dosa saudara-saudaranya yang perempuan.
SUARANYA perlahan menurun Aku jadi wanita karier karena suamiku lumpuh. Betapa naif mencari pengganti. Bagaimana psikologi anak? Aku harus beri contoh baik dalam realita, mendidik. HENING
ILUSTRASI musik. Menatap kosong. Menjadi sosok tokoh yang lain: Tokoh Perempuan Intelek Mata saya memandang ke arah lain, sementara wangi kesturi musuh dalam diri saya, yaitu egosentrisme, terus menggerogoti. Apakah saya harus mengeluh tentang keadaan saya? Bukankah arti pasangan itu saling mengisi dan menutupi kelemahan diri?
MENATAP fokus pada seorang penonton Kebanyakan orang hanya melihat pada makna tekstual dari perkataan orang lain, tanpa melihat ke dalam diri sendiri, kenapa hidup dan kehidupan itu berpasangan? Saya menyadari bahwa saya telah bodoh dengan mengeluhkan rutinitas hidup saya. Saya sekarang memahami apa yang ibu saya lakukan, sehingga ia bisa membesarkan kami dengan baik dan berhasil, meski ia mengorbankan kebahagiaannya sendiri.
Tapi itulah sejatinya kebahagiaan dirinya: melihat kami sukses.
MERUBAH suara “Nak, Jiwa yang senantiasa shalat lebih baik daripada shalat!” ucap ibu pada suatu malam. “Jalan perkawinan itu sekadar mengubah sperma menjadi manusia dengan segenap kehidupannya. Engkau pasti mampu, nak. Meski benar bahwa pernikahan itu sekolah yang tanpa ada ujungnya.”
HENING. Perlahan-lahan menjadi emosional dengan tubuh bergetar Berhentilah berkata atas nama cinta. Cinta itu bukanlah muslihat. Cinta itu bukanlah penjerat yang memikat burung untuk dimakan atau dijual. Cinta itu adalah kebaikan yang tulus.
SEPERTI mendengarkan Apa? Boleh diulang? … Maksudnya? … Kasus? … TUBUHNYA gemetar perlahan-lahan suaranya menjadi emosional Siapa yang korupsi? Siapa yang bermain di sebalik kursi? Kalian percaya? Baiklah. Ya, seperti itulah muslihat kenapa saya kini diperkarakan dan dijerat atas nama cinta demi regenerasi bangsa. Tapi, saya yakin bahwa Tuhan tak pernah luput dari membaca. Itulah fungsi dari dua malaikat yang ditempatkan di kiri-kanan kita.
HENING laju kasih ilustrasi musik. MENARIK napas panjang kembali pada dirinya sendiri Ibu, engkau benar, berdikari itu lebih menjanjikan ketimbang jadi Wanita Karier yang banyak godaanya pula dari kaum hidung belang. Benar bahwa perempuan itu fitnah dunia disamping tidak punya kekuatan untuk mempertahankan argumen.
JIWANYA perlahan nampak terguncang hebat Benar. Ya, engkau benar ibu, bahwa patuh pada suami itu wangi kasturi, tetapi dalam situasi dan kondisi yang tak seimbang ini siapakah yang harus dipersalahkan? Suami lumpuh dalam usaha karena dikebiri mereka. Aaaaaagh apa bedanya lelaki dan perempuan yang sama-sama tak bisa menahan tikam dan hujam dari segala arah! Sementara … Bukankah kehidupan harus terus berlanjut?
SUARANYA meninggi Stop! Jangan kembali ke pertanyaan klise itu! GEMETAR laju sangat perlahan menitikkan air mata Sudah aku katakan berulang kali bahwa aku menerima jabatan itu demi regenerasi bangsa. Demi baktiku pada negeri tercinta. Demi keturunanku bisa hidup dan menjalani kehidupannya dengan tanpa lebih banyak beban. Apakah itu salah. Apakah itu salah! Apakah itu salah? Aaaaagh…
HENING. Seiring dengan adanya ilustrasi musik, perlahan-lahan kembali seperti posisi ziarah kubur. Perlahan-lahan lampu fokus laju perlahan-lahan merdup Ibu, sebelum sunyi mekar di liang kubur, mampukah laku diri ini membuat Tuhan jatuh cinta padaku, seperti jatuh cintanya ibu pada bapak yang tak mau menikah lagi dengan satu alasan, ingin kembali bersatu di surga. BLACK out.
VOICE over masih dari suara aktor yang sama: Surga? Kenapa harus ada surga dan neraka? Kenapa. Kenapa! Kenapa? Kenapa … bukankan posisiku kini yang tengah dirudapaksa oleh sistem adalah neraka yang tak kuinginkan! []









