METAMORFOSIS

morfosis

Mengulang-ulang—mendaur kembali bahasa yang beterbangan di udara musim pancaroba, berputar tanpa pernah benar-benar hilang. Ada begitu banyak jejak kata yang tak bisa begitu saja disangkal, tak bisa disapu bersih dari ingatan. Mungkin, di sinilah letak pentingnya seorang menteri penerangan: untuk mengangkat ke permukaan apa yang semestinya muncul, yang selama ini hanya bergumul di dasar senyap.

Lupakan. Teringat apa yang pernah dikatakan Rumi: “Penghuni neraka lebih bahagia di neraka daripada mereka di dunia ini karena di dalam neraka mereka sadar pada Tuhan. Sedangkan di dunia ini mereka tidak sadar. Tidak ada yang lebih manis daripada kesadaran pada Tuhan.”

**

Boleh. Kalian semua boleh merasa—tak ada yang menahan, tak ada yang melarang. Silakan. Rasakan saja bahwa kalianlah yang paling dekat, paling berjasa, paling setia berdiri di sisi objek. Namun ada satu hal yang patut kalian simpan baik-baik: kisah tentang seorang penembak runduk yang posisinya jauh, tersembunyi, dan tak pernah dikenal publik. Ia yang bekerja dalam sunyi, pernah menyelamatkan nyawa sang objek, bahkan nyaris menyerahkan nyawanya sendiri pada jarak yang tak seorang pun bisa menjangkaunya.

Boleh. Kalian boleh menepuk dada setinggi langit. Tetapi ada satu hal lagi yang seharusnya tidak kalian enyahkan: kisah seorang pembaca metafisika—yang keberadaannya selalu ditepikan, disisihkan tanpa suara. Namun jejaknya, entah bagaimana, begitu jelas terasa dalam ruang rasa, hadir tanpa diminta, bekerja tanpa diumumkan.

Boleh. Kalian boleh melelang kata, menebar narasi, menjadikan wacana sebagai momok yang menyusup ke ruang-ruang paling pribadi. Tetapi tetap ada hal yang tak boleh kalian alihkan: semiotika dari belangkon Jawa—yang di depan terlihat mengangguk-angguk, namun di belakang tersembunyi kepalan yang siap memukul. Itulah sebabnya, barangkali, mengapa gorengan selalu laku keras: karena manusia diam-diam mencintai hal yang tampak sederhana, tetapi digoreng dari minyak yang tak pernah betul-betul jernih.

Boleh. Kalian boleh menjadi apa saja, sebebas angin yang menelusup di celah-celah pagi. Namun nurani—ah, nurani tidak bisa dikebiri. Ia selalu kembali, seperti cahaya yang keras kepala menembus tirai.

Dan mengapa, coba, pohon-pohon di jambangan itu masih sanggup hidup? Tentu karena jatah usianya masih panjang, akar-akar kecilnya masih mau menggenggam tanah. Tetapi ada satu hal yang seharusnya kalian simpan dalam benak: jejak perawatan tak pernah bisa dimanipulasi. Ia menempel, menua, menjadi saksi—dan tak satu pun topeng mampu menutupinya.

Demikian pula ketika kaum kelembutan—bersama permohonan yang lirih—datang mengetuk pintu, berharap sekadar celah untuk masuk. Namun tukang kebun, melihat kedatangan mereka bukan sebagai wajah yang halus, melainkan sebagai binatang liar: pada katanya, pada geraknya, pada getar halus di ujung jemarinya. Semua itu menjelma makhluk kelam, berat, dan kasar, seolah lahir dari kedalaman kegelapan.

Mereka—bayangan-bayangan itu—tak berhenti pada bentuk asalnya. Mereka tumbuh, membesar, menekan ruang, hingga sang tukang kebun nyaris kehilangan nyawanya sendiri.

Laju, lihatlah sosok itu—tetua yang seakan memayungi segala sesuatu di bawahnya, seolah menjadi rumah bagi setiap turunan yang bersandar kepadanya. Padahal, justru dari sanalah rembesan paling halus terjadi; data mengalir pergi tanpa suara. Terlalu polos, kiranya, bila kita hanya mengingat pribahasa musuh dalam selimut—permainannya begitu telanjang, begitu mudah dibaca.

Perhatikan ketika ia bernyanyi dengan nada hambar; seluruh turunannya pun menari dengan kebosanan yang sama. Dan persoalan sesungguhnya ialah: bila ia bernyanyi riang, apakah mereka pun menari riang—sekadar gema batin yang patuh pada tujuan, perintah, dan larangan?

Sekali lagi: bila ia bernyanyi riang, mereka menari riang, seolah cerminan batin yang tunduk pada tujuan, perintah, dan larangan. Lupakan.

**

Barangkali kelak Tuhan akan membuka kembali apa yang pernah hilang, memperlihatkan sejauh apa langkah enigma, meski mati-matian menyembunyikannya di belakang punggung; menyisipkannya di celah-celah lapangan permainan, agar penonton tak melihat dengan jelas bagaimana langkah enigma berputar dalam sebuah pertunjukan rahasia yang penuh arahan dan larangan.

Begitulah—mata pisau yang mendekat justru dipakai untuk mengalihkan pandang dari yang lainnya, hingga mata asing tampak bernoda dan tak lagi murni, tak akan pernah mampu membaca sang penikam. Dan satu hal yang tak boleh lepas dari ingatan perihal dua sisi mata uang:

Tuhan bekerja dalam cara-cara yang selalu membingungkan, mencipta sesuatu yang kelihatan indah padahal tersusun dari keburukan yang tersembunyi. Dan sebaliknya: Tuhan bekerja dalam cara-cara yang selalu membingungkan, mencipta sesuatu yang kelihatan buruk padahal tersusun dari kebaikan yang tersembunyi.

**

Sungguh, bukan aku yang mengendalikan kata-kata; justru kata-kataku menguasai aku—yang rapuh, yang masih meraba-raba jalan pulang menuju Tuhan.

Adakah kalian mendengar itu? Lupakan. []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *