Dalam Menyambut Hari Guru Nasional 2025

celo

MENGENANG DIBALIK PEMENTASAN TEATER MAHAPATIH GADJAH MADA DI UGM – YOGYAKARTA

TAK CUMA BERANI, KAWAN!
Ini bukan soal dada dibusungkan macam jago kandang, bukan pula soal nekat menabrak tembok anggaran yang kerasnya melebihi kepala para penentu kebijakan negeri. Ini semacam tuntunan titah dari langit, yang kadang datang diam-diam, menyelinap lewat mimpi, melecut lewat keresahan, menggelitik nurani yang sudah terlalu lama disuruh diam. Maka kutulislah Naskah Pentas Teater “MENGENANG MAHAPATIH GADJAH MADA”, kisah tentang seorang panglima yang …
kalau bicara lugas,
kalau melangkah tegas,
kalau berjanji tandas,
kalau bekerja tuntas.
Bukan model oknum pejabat masa kini yang gemar rapat tapi tak ingat arah. Ini Mahapatih, Bung! Yang mempersatukan Nusantara, bukan memecah-belah lewat komentar di medsos.

YOGYA: GERBANG TAK GAMPANG DIKETUK
Panggung?
Ah, masa pentas Gadjah Mada mau digelar di lapangan kosong, didekat kantor RT? Satu-satunya tempat yang pantas hanyalah Grha Sabha Pramana – UGM, gedung sakral tempat para sarjana dilahirkan,
tempat sumpah setia diucapkan,
tempat harapan negeri digantungkan.
Tapi untuk menembus kampus itu? Aduh… masuknya harus lewat pintu niat suci, berlapis keberanian, ditemani doa panjang, apalagi aku bukan alumninya.
Apa modal dasarku?
Hanya satu: penghormatan kepada Leluhur Pejuang Bangsa, Mahapatih Gadjah Mada. Selebihnya:
“Bismillah, Ya Allah, semoga ada jalan atasnama-MU.”
Dan benar, di tengah rimba birokrasi,
datanglah kebaikan yang luar biasa Prof. Dr. M. Baiquni, M.A., (Ketua Dewan Guru Besar UGM 2021 – 2025), seperti oase di padang proposal. Beliaulah yang membuka jalan hingga aku bisa bertemu
Prof. Dr. Pratikno, M.Soc., Sc., Rektor UGM ke 14, waktu itu (2013).

Pertemuan itu rasanya seperti hujan turun mendadak di siang bolong yang panasnya serupa wajan.
Masya Allah, mimpiku di-acc langsung oleh langit. Tapi eh… aku boleh senang dulu! Masih ada level berikutnya:
sidang para Guru Besar.
Itu … semacam gladiator arena akademik. Pertanyaannya bertubi-tubi, kritiknya menelanjangi, tapi semuanya mesti dijawab dengan cinta pada sejarah.
Akhirnya,
di atas secarik kertas sakral, mereka memberi restu:.pentas “MENGENANG MAHAPATIH GADJAH MADA” BOLEH digelar di Graha Sabha Pramana. Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional pula!
Ah, cocok sekali, mengingatkan negeri bahwa dulu kita SATU, bukan sibuk debat receh di kolom komentar.

HB X – TAKDIR DI HARI-H
Untuk orasi kebangsaan, aku membidik langsung yang dimuliakan Gusti Sri Sultan Hamengku Buwono X. Bukan karena beliau sekadara raja, tapi karena beliau paham benar ruh Yogyakarta: ruh kebudayaan, kebangsaan, dan kebijaksanaan. Beliau awalnya bersedia. Tapi ketika hari-H mendekat, datang tamu asing dari negeri nun jauh. Lalu beliau menyatakan, mohon maaf tak bisa hadir.
Apa mau dikata?
Sebesar apa pun pentasku, urusan kenegaraan tentu lebih penting daripada penghargaan kepada sosok Pahlawan Pemersatu Nusantara di masa lalu.
Aku hanya tersenyum kecil:
“Ah… mungkin belum berjodoh.”
Begitulah sikapku untuk menjaga hati, biar tidak meradang oleh rasa kecewa teramat dalam.
SOAL ANGGARAN PALING MENYEBALKAN DALAM DUNIA PENTAS TEATER
Nah ini bagian pedasnya.
Urusan biaya!
Kalau semangat bisa dicairkan, aku sudah kaya sejak lama. Sayangnya, yang bisa dicairkan cuma anggaran negara, itu pun lewat jalur birokrasi panjang dan alasan teramat klise:
“Maaf, anggaran sudah teralokasi.”
Proposal?
Sudah aku kirim ke sana-kemari.
Tapi hasilnya nihil, zonk, kosong melompong, aku merasa sudah mirip kambing tua yang ompong.

Dan aku sempat diam lama. Bukan karena pasrah, tapi sedang menahan diri agar tidak meledak jadi bom moral, dan memuntahkan umpatan menyakitkan, Apakah mereka kurang sadar bahwa ‘Tidak akan pernah ada hari ini, kalau bukan dibangun oleh kebesaran sejarah masa lalu?!’ Tapi ada yang menghentak, jangan kata hatiku yang paling baik.

Sampai akhirnya, Tuhan membuka jalan lain. Sebuah bank menelpon,
mengatakan bahwa mereka siap membantu. Kusebutkan saja dengan nyata, bahwa BCA yang paling peduli pada penghormatan sejarah besar di masa lalu.
Meski tidak banyak, tapi cukup untuk menggerakkan roda produksi. Dana itu langsung kutitipkan pada agency Yogyakarta untuk dikelola.
Aku tak ingin dana itu bermalam di dompetku.
Rezeki seni itu suci, jangan dicampur aduk dengan hijauan pribadi. Agency itu pun mencari sponsor tambahan.
Hasilnya?
Hanya berupa produk. Tapi lagi-lagi aku bergumam, ya sudahlah… namanya juga usaha.

3 SUTRADARA 1 PENTAS Untuk memperkuat pasukan, aku mengajak dua sutradara Yogya: Jujuk Prabowo (Teater Gandrik) dan Meritz Hindra (Teater Alam).
Maka lengkaplah: tiga sutradara memimpin satu pentas epik. Ditambah dosen & mahasiswa ISI, alumni Asdrafi, mahasiswa UGM yang masih aktif, aktor dan aktris teater Yogya. Pasukan yang heterogen, tapi semangatnya satu:
menjunjung sejarah bangsa.

SOAL PALING MENGERIKAN TAK ADA YANG MAU MEMERANKAN GADJAH MADA! Nah ini cerita yang membuat bulu kuduk meremang. Semua aktor MENOLAK peran Mahapatih Gadjah Mada!
Bukan karena sulit, tapi karena … MITOS. Dalam sejarah penggarapan film Gadjah Mada: aktor yang memerankan tokoh itu, konon, katanya kerap tertimpa musibah,
kecelakaan lokasi, bahkan ada yang sakit dan wafat. Maka para aktor mengelus dada:
“Waduh, maaf, saya belum siap berjodoh dengan takdir itu.”
Akhirnya yang tersisa hanya aku. Ya sudahlah, daripada panggung kosong, pementasan gagal, dikira kasus penipuan oleh pihak BCA.
aku naik sendiri, menjadi tanggungjawab beratku, mati pun harus diterima, setelah berperan sebagai Mahapatih Gadjah Mada.
Woi, lengkap sudah tugasku, sebagai:
penulis naskah,
penembus UGM,
pemburu sponsor,
sutradara,
sekaligus pemeran utama.
Beginilah hidup seniman: multiperan dalam dunia yang memandang remeh.
Tapi aku sadar, ini bukan kesombongan. Ini amanah. Aku pernah menerima ‘Anugerah Kebudayaan Kemenbudpar-RI 2006,’
yang artinya: ada beban tanggung jawab yang melekat di pundakku.

TAK KEBETULAN TAPI TAKDIR
Setelah semua badai kulewati, aku akhirnya sadar: peristiwa ini bukan sekadar rangkaian keberuntungan, bukan pula hasil keras kepala seorang seniman, melainkan ketentuan Allah SWT,
Sang Maha Sutradara.
Hidup ini panggung terbesar.
Kita hanya aktor yang kadang lupa membaca naskah ilahi. Maka kuucapkan terima kasih
pada setiap halangan,
pada setiap pintu yang tertutup,
pada setiap senyum yang diberikan,
karena semuanya bagian dari skenario semesta. Dan kisah “MENGENANG MAHAPATIH GADJAH MADA” itu menjadi bukan hanya pentas, tapi zikir kebangsaan, pengingat bahwa kita pernah jaya,
pernah bersatu,
pernah punya negara yang dihormati dunia. Tinggal kita, generasi hari ini, mau meneruskan, atau hanya menonton sambil memegang gawai di bawah purnama merona di ujung keheningan malam …

Dari Desa Singasari
Senin, 24 Nov 2025
09.09


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *