Tahun 1960 pabrik gula di Amerika, melalui Sugar Research Foundation (kini Sugar Association), mendanai sebuah riset di Harvard University dipimpin Ancel Keys.
Tujuannya bukan memecahkan masalah, tapi mengalihkan fakta ilmiah dalam jebakan kapitalisme.
Riset menghasilkan jurnal pada New England Journal of Medicine (1967). bahwa “kolesterol” adalah penyebab penyakit “kardiovaskular” atau jantung.
Ini menjadi dogma menyesatkan” pada American Heart Association (AHA) sejak 1961, yang merekomendasikan diet rendah lemak dan tinggi karbohidrat.
Padahal fakta ilmiah menyebut, penyakit jantung disebabkan “kadar gula darah tinggi kronis” , yang merusak ” “endotel pembuluh darah” melalui glikasi dan oksidasi stres.
Dr. Robert Lustig, profesor endokrinologi pediatrik University of California, San Francisco menyatakan: “Gula adalah racun kronis yang memicu penyakit jantung dengan cara merusak jalur metabolik.
Gula memicu lonjakan insulin, akumulasi trigliserida, dan inflamasi sistemik, faktor kunci yang melemahkan dinding arteri.
Gula lah yang merusak “organ tubuh” sehingga fungsi kolesterol tidak bisa berjalan dalam “rantai metabolisme” , memicu “inflamasi kronis” dan ” resistensi insulin”.
Ironi, dana riset menjadi instrumen jahat untuk membentuk konsensus medis dalam rekayasa sistematis, dunia kesehatan percaya bahwa penyakit jantung disebabkan kolesterol.
Ini mengingatkan kita pada tesis Karl Marx bahwa; “ideologi sebagai suprastruktur melayani basis ekonomi, dimana ilmu bukan mencari kebenaran, tapi pembela kepentingan kelas penguasa”.
Logika dasarnya, kapitalisme butuh narasi untuk menutupi jejak kerusakannya, ilmuwan yang mentalnya buruk bersedia gadaikan temuannya,menjadi kaki tangan “fabrikasi” kebenaran palsu.
“Kapitalisme medis mengubah pasien menjadi pasar obat seumur hidup, sementara solusi sederhana hanya dengan kurangi gula disembunyikan demi profit industri.
Ingat kasus BTS, konsultan nya dijerat hukum, setelah kajiannya dinilai transaksional? atau para konsultan kereta Whoos atau IKN, yang kini susah payah mempertahankan rasionalitas tesisnya pada mega proyek itu?
dan masih banyak kisah lain, dimana ilmu pengetahuan terseret dalam pusaran konflik kepentingan beresiko besar.
Catatan kecil ini jadi perenungan dunia intelektual, bahwa riset tak boleh menyodorkan narasi manis seolah ‘scientific” padahal berisi kesimpulan dan rekomendasi yang meracuni masa depan.










Pretty nice post. I just stumbled upon your weblog and wished to say that I’ve really enjoyed
browsing your blog posts. In any case I’ll be subscribing to your feed
and I hope you write again soon!