SENIMAN

seniman

Di negeri tempat
SENIMAN LAHIR bukan
dari rahim industri, melainkan
dari dapur kontrakan yang kompor batunya hampir pensiun, kita selalu disuguhi tontonan: ada seniman yang wajahnya nongol di televisi, berbingkai ringlight, dan ada seniman lain yang bahkan
listrik pun sudah disegel
sebab meteran sambat,
meminta dibayar,
tit – tit – tit – tit …
(bukan titit lho).

Dus, NEGERI PERTIWI mengenal kelas sosial seperti mengenal bumbu dapur: ada yang pedasnya bikin mabuk, ada yang hambar karena tak pernah diberi kesempatan, dan ada yang malah basi karena selalu dipakai ke mana-mana.

Mari kita BICARA APA ADANYA, tanpa tedeng-aling-aling, tanpa bonus gula-gula penyedap, sebab puisi pamflet memang terlahir untuk menampar. Jangan-jangan, kita ini bangsa yang lebih suka tepuk tangan ketika panggung mewah menyala, tetapi memejamkan mata ketika senimannya mengantre sumbangan, mengais wajan, atau diam-diam menjual gitar untuk beli beras.

STRATA SENIMAN DI INDONESIA katamu? Nah, di sinilah drama itu berlangsung: Ada seniman kelas langit, yang naik panggung diiringi cahaya, duduk di kursi talkshow, wajahnya dipampang di baliho sebesar perahu, dan honorarium tampilnya cukup buat beli mobil lunas tanpa cicilan. Mereka yang disebut “artis”, penyandang gelar sosial yang kadang lebih tinggi dari jabatan RT dan RW digabung jadi satu. Kadang mereka benar-benar berbakat, kadang hanya berbakat tampil. Ada pula seniman kelas menengah, yang hidupnya cukup sandang, cukup pangan, cukup papan, tapi tidak cukup tenang. Yang sambil pementasan masih harus buka usaha: bikin kopi literan, buka karaoke keluarga, jual pakaian sisa impor, atau buka jasa pijat sehat-sehat betulan, tanpa plus-plus, tanpa gorengan-gorengan rumor murahan.

Tentu saja, yang paling DRAMATIS, paling tragikomedi, paling sarkas dan paling dekat dengan urat nadi kehidupan adalah seniman kelas bawah, yang tak punya panggung kecuali pelataran harapan, yang tidur bukan karena ngantuk, tetapi karena lelah menunggu kesempatan yang tak kunjung datang. Seniman yang kadang lebih sering menulis proposal daripada menulis puisi. Seniman yang lebih sering menggendong utang daripada menggendong gitar. Yang listriknya nunggak tiga bulan, kontrakannya nunggak lima, dan akhirnya pindah ke rumah kosong yang entah siapa pemiliknya, asal ada atap yang bisa menahan hujan.

“SIAP GAGAH DALAM KEMISKINAN,” kata Rendra. Tapi zaman sudah berubah. Kini orang miskin bukan dimuliakan, melainkan dicurigai. Si miskin dianggap gagal merencanakan hidup, padahal hidupnya sendiri tak pernah diberi ruang untuk direncanakan. Si miskin dianggap tak realistis kalau terus berkesenian, padahal yang realistis justru masyarakat yang terus menerus menikmati karya mereka tanpa memberi dukungan.

MARI KITA NYUSUP LEBIH JAUH. Seniman kelas bawah ini biasanya hidup bersahabat dengan pekerjaan serabutan: pagi jadi tukang fotokopi, siang jadi ojek online, sore latihan teater, malam jaga warung internet, dan dini hari baru sempat menulis naskah yang tak tahu akan dipentaskan kapan. Mereka ahli mengatur waktu bukan karena manajemen, tetapi karena keadaan memaksa.

Namun, JANGAN SALAH. Mereka inilah yang paling tangguh, paling liat, paling sukar dipatahkan. Mereka tidak punya banyak uang, tetapi punya banyak keberanian. Tak punya panggung, tetapi punya keyakinan. Tak punya jaringan sponsor, tetapi punya kejujuran yang tak bisa dibeli.

Tetapi MARI KITA JUJUR lagi. Hidup tangguh itu melelahkan. Keberanian saja tidak cukup untuk membayar listrik yang tiap malam berkedip seperti mau pingsan. Keyakinan saja tidak cukup untuk membayar kontrakan yang tiap awal bulan menuntut seperti debt collector. Kejujuran saja tidak cukup untuk menghidupi dapur yang ingin menguarkan aroma selain mi instan.

SOLUSINYA? Bukan sol-solan sepatu lho. Apa yang harus diperbuat seniman? Apa yang harus dilakukan bangsa yang katanya menghormati budaya?

PERTAMA, seniman harus berhenti menggantungkan hidup pada “keajaiban panggung”. Keajaiban itu penting, tapi rekening bank juga tak kalah pentingnya. Belajarlah bisnis, belajarlah manajemen, menata diri bukan hanya menata sajak. Zaman ini bukan milik yang berbakat saja, tetapi milik yang adaptif.

KEDUA, bangsa ini harus berhenti memandang seni sebagai hiasan. Seni bukan ornamen, seni adalah nadi. Bangsa yang meremehkan seniman adalah bangsa yang sedang memupus masa depan pikirannya sendiri. Harus ada perbaikan sistemik: pendanaan kesenian, perlindungan hak cipta, akses panggung yang adil, dan pendidikan seni yang tidak hanya untuk formalitas kurikulum.

KETIGA, masyarakat harus berhenti menjadi penonton pasif. Kita sering bangga unggah foto sedang menonton konser artis luar negeri, tetapi tak pernah datang ke pementasan teater lokal. Kita rela membeli tiket bioskop ratusan ribu, tapi menawar pertunjukan seniman kampung menjadi lima ribu. Masyarakat harus belajar menghargai proses, bukan sekadar popularitas.

KEEMPAT, seniman harus bersolidaritas. Yang kaya harus melindungi yang miskin, yang mapan harus menarik yang tertinggal. Bukan memberi amal, tetapi memberi ruang. Sebab ruang berkesenian lebih mahal daripada sumbangan uang. Bila ruang sudah tercipta, ide akan tumbuh, dan karya akan menemukan jalannya.

KELIMA, negara harus hadir bukan sebagai penonton atau pelayan investor, tetapi sebagai penjamin keberlangsungan budaya. Bukan dengan slogan, tapi dengan kebijakan. Bukan dengan acara seremonial, tapi dengan sistem. Negara yang kuat adalah negara yang menempatkan seni sebagai pilar, bukan pelengkap.

Tetapi meski semua solusi ini terasa ideal, kita tahu jalan menuju sana tidak sesingkat puisi pamflet ini. Harus ada jeritan, harus ada kritik, harus ada keluhan yang dituangkan tanpa takut dibilang cengeng. Sebab kritik adalah vitamin, bukan racun. Yang racun justru diam.

Dan DIAM, ADALAH KEMEWAHAN yang tidak dimiliki oleh seniman kelas bawah. Mereka sudah terlalu sering diam, karena kenyataan memaksa mereka membungkam. Mereka diam saat listrik padam, diam saat dapur kosong, diam saat karya mereka ditolak tanpa penjelasan. Mereka diam karena suara mereka tak cukup nyaring untuk melawan kebisingan dunia. Maka biarlah puisi ini bersuara menggantikan diam mereka.

Wahai bangsa yang konon KAYA BUDAYA, apakah benar kita menghormati seni? Atau hanya melestarikan seremonialnya saja? Kita bangga pada batik, tapi tak peduli penjahitnya. Kita bangga pada gamelan, tapi tak peduli pengrawitnya. Kita bangga pada keroncong, tapi tak peduli penyanyinya. Kita bangga pada film, tapi tak peduli kru yang dibayar lembur setengah hati.

SENIMAN KELAS BAWAH adalah penopang tak terlihat dari seluruh etalase budaya kita.
Tanpa mereka,
tak ada pameran,
tak ada pementasan,
tak ada festival,
tak ada karya yang bisa dibanggakan di forum-forum internasional. Maka jangan biarkan mereka bertarung sendirian di jalanan ekonomi yang sering kali amnesia.

PUISI PAMFLET ini bukan untuk menampar pemerintah saja, bukan untuk menyindir masyarakat saja, bukan untuk menuntut seniman saja, tetapi untuk menggugah kesadaran kolektif. Bahwa seni bukan sekadar hiburan, melainkan salah satu penopang keberadaban bangsa.

Dan kepada PARA SENIMAN kelas bawah, yang hari ini sedang menghitung sisa beras, yang sedang menambal atap bocor, yang sedang menulis sajak di atas meja makan yang retak, yang sedang mengais harapan dari proyek yang tak kunjung cair, jangan menyerah. Kalian mungkin tidak punya panggung besar, tetapi kalian punya jiwa besar. Kalian mungkin tidak viral, tetapi kalian abadi. Kalian mungkin tidak dipuji, tetapi kalian teruji.

Sebab AKHIRNYA, seni selalu menemukan jalannya sendiri. Bakat bisa diwariskan, popularitas bisa dibeli, tapi ketangguhan ketangguhan hanya dimiliki oleh mereka yang pernah hidup di garis paling tipis antara mimpi dan kenyataan. Kalian adalah tulang punggung budaya, yang meski rapuh, tetap menyangga bangsa dengan diam-diam. Dan jika suatu hari kalian kembali ke kampung, menyangkul sawah, mengurus kebun, bukan berarti kalian kalah. Itu hanya cara lain untuk tetap hidup tanpa melepaskan jati diri.

Sebab JADI SENIMAN DI INDONESIA memang tidak mudah. Tapi barangkali di sanalah kemurnian itu bersembunyi: pada manusia-manusia terpilih yang rela tersungkur, tapi tidak putus. Yang siap miskin, tapi tidak siap berhenti. Yang siap gagal, tapi tidak siap menyerah. Yang, meminjam kata Rendra, siap “GAGAH DALAM KEMISKINAN!”

Dari Desa Singasari
Sabtu, 22 Nov 2025
18.18


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *