SITI JENENG

arth

(TAMPAK DI TENGAH PANGGUNG SITI JENENG TENGAH KERJA DENGAN LAPTOPNYA)
(BERKACAMATA BENING BERKEBAYA DAN BERCELANA JEAN).
(PADA PENONTON)

Panggil aku Jeneng Sarjeneng, itu julukan dari kawan-kawanku sewaktu menimba ilmu di kampus Bulak Sumur. Padahal namaku Kiki Sanubari. Pasti semua tahu Bulak Sumur. Oase ilmu pengetahuan yang indah. Karena apa? Karena profesornya melegenda. Ada sejarawan hebat, sastrawan dan budayawan karismatik, Antropologi jempolan. Kejujuran ditanamkan kepada setiap mahasiswa, aku anak humaniora. Rasa kemanusiaanku terbangun kalau melihat kondisi seperti sekarang ini. Kalau menurut ramalan Jayabaya disebut zaman Kolobendu, krisis moral di mana-mana, krisis ekonomi di setiap penjuru mata angin, orang lupa Purwadaksinya, gonjang-ganjing bergunjing gak eling-eling.

(MENAIKKAN KACAMATA KE KENING)

Padahal profesorku di Bulak Sumur pernah bilang. ” Manusia itu harus biso rumangso, bukan rumangso biso, manusia itu harus eling dan waspodo, bukan tidak eling apalagi tidak waspada. Aku dulu dosen di ibukota, tetapi pensiun muda, lalu menjadi dosen tamu di universitas Singapura di bidang ilmu humaniora. Aku juga penulis dan novelis. Aku sedang menulis zaman Ublek Kutek Kusek Kumek atau 4 akhiran Ek. Kisah seorang wanita yang sudah habis airmatanya karena sumur bening yang ada di Bulak hutan Wonogomo itu sudah ditimbun kotoran kebo dan bangkai ular beludak.

(TIBA-TIBA TERDENGAR PETIR MENGGELEGAR)
(SETTING BERUBAH, MEJA YANG TADI DITUTUP KAIN COKLAT DAN DI ATASNYA ADA RANTING POHON MERANGGAS HANYA ADA SELEMBAR DAUN)
(TOKOH DALAM CERITA DIPERANKAN LANGSUNG OLEH SITI JENENG SARJENENG) DAN KINI BERKAIN BATIK TANPA KACAMATA) (MEMBUKA PAYUNG KERTAS. BOLEH PAYUNG TASIKMALAYA)
Hujan lagi, aku terpaksa harus ke kidul.

(PADA PENONTON)
Perjalanan ke kidul
Menyusuri bukit randu alas ke tempat guruku Mbah Sulebar yang mungkin sudah menunggu. (BERKELILING PANGGUNG) Ah, hutan randu alas ini selalu mempesonaku apalagi kalau musim kemarau. Ah, akhirnya sampai ke tempat Mbah Sulebar.
(HUJAN BERHENTI)
Sepada Mbah !
(MENGUBAH SUARA MENJADI SUARA LAKI-LAKI)
Ayo masuk Jeneng !
(SUARA ASLI)
Ya, Mbah!
(SUNGKEM)
(TERDENGAR RENGENG RENGENG GENDING LALER MENGENG)
(MENGUBAH SUARA)
Tadi hujan ya Nduk ?
(SUARA ASLI) Mbah tahu ?
(MENGUBAH SUARA) (TERTAWA BERAT)
Ya tahu. Alam kan gak pernah bohong. Yang suka bohong itu manusia alias wong ! (TERTAWA)

(PADA PENONTON)
Aku duduk berjarak satu meter ditikar pandan. Mbah Sulebar bersila tutug dengan klembak ditangannya.
Aku pernah tanya, mau ganti rokok klembaknya dengan cerutu? Biar nanti Jeneng belikan?
Apa katanya?
(MENGUBAH SUARA) Ah, enak klembak, asli dan membumi. Kalau cerutu itu rokok Londo, penjajah Nduk.
(SUARA ASLI)
Aku selalu ingat kata-katanya. Asli dan membumi. Kebaya lurik dan batik kesukaanku, sebagai asli dan membumi.
(MENGUBAH SUARA) Wedar apa sekarang?
(SUARA ASLI)
Aku buka catatan dulu.
(MENGELUARKAN BUKU KECIL YANG SUDAH KUMAL DAN PENSILNYA YANG DISATUKAN DENGAN TALI BENANG) (DIAMBIL DARI TAS KAIN YANG TDAI DISELENDANGKAN)
Sebentar Mbah. Nah, ini yang mau aku tanyakan. Mengapa sumur di hutan hutan Wonogomo yang airnya selalu bening jadi kotor, penuh kotoran kebo dan ada bangkai ular beludak.
(MENGUBAH SUARA) (TERTAWA)
Oh, sumur yang di Bulak Sumur itu, itu contoh dari zaman Kolobendu Nduk. Rojo Joyoboyo sudah pernah bicara, kalau manungso sudah lali jiwa, lali purwodaksina karena rumongso biso, bukan biso rumongso. (SUARA ASLI)
Aku mencatatnya (MENGUBAH SUARA)
jadilah manuso biso rumongso, bukan rumongso biso. (SUARA ASLI) Tapi mengapa banyak tai kebo dan bangkai ular beludak ?
(MENGUBAH SUARA) (TERTAWA)
Bulak Sumur diberaki wong Solomonong, dia bawa ternaknya, kebo-kebo yang dicokok hidungnya, lalu disuruh berak. Broooot, brooot ! Wong Solomonong ini biasa ngomong bohong. Dia juga beternak bukan kebo saja. Ada kambing wedus, ada sapi nggaber, ada pitik welik, beo dan gagak dan terakhir malah anak gajah alias menel !
(SUARA ASLI)
Untuk apa Mbah ?

(BERGERAK BERDIRI SAMBIL MENGELUARKAN KIPAS KECIL (HIHID-BAHASA SUNDA) (MENGUBAH SUARA)

Untuk apa? Lah iya untuk tri roso !
Roso yang pertama, adu roso alias adu domba atau namimah dalam bahasa arab, artinya menyebarkan perkataan-perkataan bohong untuk menciptakan perselisihan dua atau tiga orang dan seterusnya.
Roso yang kedua, angon roso yang sungsang, mengapa sungsang? Angon roso yang bener bagus, suka dipakai guru, Kyai, yang mumpuni. Kalau yang sungsang tujuannya jahat, seperti santun sebenarnya tidak santun. Seperti peka padahal pekok seperti menawarkan bantuan padahal menjerumuskan.
Roso ketiga, jogoroso yang ngoyoworo jogo roso yang bener penuh roso, menjaga perasaan orang, berhubungan baik, tapi karena ngoyoworo jadilah bermain sandiworo. Nah, itulah wong Solomonong yang mengotori sumur bening di Bulak Sumur hutan Wonogomo.

(DUDUK)

Nanti yang sudah dia miliki dicabut gusti Allah dalam sekejap.
(TIBA-TIBA TERDENGAR KENTONGAN) (TANDA BAHAYA)
(KEMBALI KE ADEGAN AWAL)
(SITI JENENG DENGAN LAPTOPNYA)
(KELUAR SEBENTAR, MASUK LAGI MUNCUL DENGAN TAMPILAN SITI JENENG AWAL, BERKACAMATA BENING DAN BERCELANA JEAN, SERTA MEMBAWA SECANGKIR BESAR KOPI)
Itu flasing Sumur di Bulak Sumur dalam novelku. Ini kopi pahit Toraja Manyanyi, kiriman sahabatku Duma, dulu pernah satu angkatan kuliah di kampus biru Bulak Sumur.

(KEMBAKI KE LAPTOP)

Cerita Duma yang pernah kudengar tentang uang pengorbanan ngurus jenazah leluhur tidak boleh hasil judi, karena judi dilarang dan dianggap tidak suci untuk menghantarkan arwah menaiki kebo bule bertanduk kembar clurit untuk ke surga langit. Tapi si anak terpaksa berjudi dan ingin mengupacarai leluhurnya dengan hasil judi, eh, anak itu bermimpi kebo bulenya muncul tapi kakinya pincang.
Duma selalu ingat aku karena suka bertanya tentang kebo bule !
(TERTAWA)
(MENYERUPUT KOPI)
Oh, ya. Kisah Bulak Sumur yang dikotori wong Solomonong perlahan muncul ruwatan ubo rampé bunga telang disingkat UBT, dipelesetkan oleh alumni yang suka guyon, Udah Bosen Tenan. Dulu juga sudah ada.

(TERDENGAR GAMBANGAN)
(KELUAR SEBENTAR, MEMBAWA TAMPAH DENGAN SEGALA SESAJEN BERWARNA WARNI, TETAPI PUNCAK SAJENNYA BUNGA TELANG BERKARNA BIRU)
(TERDENGAR TEMBANGAN)
(BOLEH DILAKUKAN PEMAIN, BOLEH JUGA OLEH ORANG LAIN, TERGANTUNG KEMAMPUANNYA)

Sesajen Raja Surya
Sunyi hati sunyi diri
Sendirian menyadari
Sumur suci harus bersih
Bukan mudah dikotori
Sumur leluhur dulu penuh mantra
Mantra ilmu dan mantra jiwa ditanam para Mpu yang bijaksana
Kembali bijak jangan sampai dikocak kacik oleh nafsu
Berkuasa karena uang haram
Membuat sihir uang
Jiwa-jiwa pengabdian melayang
Kembalilah bijak dan lestari
(TERJEMAHAN DALAM BAHASA JAWA)
Penawaran Raja Surya
Ati meneng, meneng dewe
Tunggal, kesadaran.
Sumur suci kudu resik
Ora gampang polusi
Sumur leluhur Biyen kebak mantra
Mantra kaweruh lan mantra jiwa.
Ditanduri wong wicaksana
Bali menyang kawicaksanaan
Ojo kabodho karo hawa nafsu
Kuwarsa amarga dhuwit haram
Nggawe sihir dhuwit
Jiwo bektina mabur adoh
Bali menyang wise lan bestari
(SELAMA TEMBANGAN BERLANGSUNG, JENENG BENARI BEDAYA DENGAN TENANG)

(KEPADA PENONTON)
Barusan kujalani upacara warisan leluhur supaya Bulak Sumur kembali makmur ilmu, makmur syukur.
Syukur nikmat bukan kufur nikmat.
Dulu kalau memberi sasaji ada langkah-langkahnya, aku pelajari untuk novelku. Ada Wangon dalam bahasa Jawa berarti melek sewengi watas atau tidak tidur semalaman, bayangkan orang sekarang siap? (TERSENYUM)
Lalu Andon lampah yaitu berjalan menuju tempat yang sunyi, goa, gunung, telaga. Memunajatkan doa pada Tuhan.
Lalu tapa yaitu hening cipta untuk keselamatan diri.
Lalu larangan, sesaji dibuang ke laut, telaga menyatu dengan alam karena asal dari alam.
Lalu slamatan rasa syukur dan makan bersama dan terakhir binanas saling silaturahim dan saling mendoakan.

(TERDENGAR SUARA PETIR)
(TERDENGAR SUARA TANPA RUPA

Jeneng…. Siti Jeneng disitu ?
Oh, ada yang memanggilku.
(MENJAWAB) Ya, aku Jeneng, siapa?
Aku Mbah Syukur gurumu yang lain.
Mbah Syukur ?
Tapi Mbah kami…?
(SUARA)
Ya, Mbah sudah hilang dihilangkan penguasa lalim.
Penguasa lalimnya sudah mati.
Mbah mau apa ? Mau ngasih tahu apa?
(SUARA)
Kabar gembira. Sumur Bulak Sumur kembali makmur ilmu dan makmur syukur.
(TIBA TIBA TERDENGAR LAGU)
Sorak sorak bergembira
Bergembira semua
Telah bebas sumur kita
Untuk selama-lamanya
(DITERJEMAHKAN DAN DILAGAM JAWAKAN)
Surak surak padha bungah
Seneng kabéh
Sumur kita wis dibebasake
Ing salawas-lawase
(KEPADA PENONTON)
Untuk Bulak Sumur kembali makmur ilmu makmur syukur
Ingat let by gone be by gone
Biarlah berlalu
Berlalu begitu saja
(SETENGAH TERI
Ayo liwat, miang supaya liwat !
(TERIAK)
Sarujuk !
(TERDENGAR TEPUKAN TANGAN)

TAMAT
Bandung, 13 Agustus 2025
untuk Universitas Gajah Mada yang pernah jadi almamterku tahun 1993 ketika S2


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *