SENIMAN HIDUP MAU NGAPAIN?

sh

Wahai manusia yang tergesa-gesa menentukan arah, Yang bangun pagi masih menguap tapi sudah bertanya:
“Hidup ini hendak ke mana?”
Seolah dunia ini halte bus, tinggal pilih jurusan, padahal seringnya, ya kita cuma numpang duduk, nunggu hujan reda, sambil pura-pura sibuk ngetik padahal kuota tiris, bahkan finish alias habis blas.

Orang-orang bilang hidup itu perjalanan. Iya, betul… perjalanan yang petanya kerap hilang, arah kompasnya kacau, sinyal GPSnya muter-muter, dan suara Google Mapsnya cuma bilang: “Re-route… re-route… hidupmu lagi di-ulang, bos.”

Hidup itu lucu, kita lahir tanpa permisi, tumbuh tanpa rencana, muda-mudi tumbuh seperti rumput liar, dan ketika besar, ditanya: “Cita-citamu apa?”

Seolah jawaban kita bakal mengubah harga beras besok pagi. Eh, nyatanya? Banyak manusia sudah dewasa tapi masih mengandalkan pertanyaan klasik: “Aku ini harus jadi apa?” Padahal tugas manusia, ya hidup, nggak usah sok-sokan jadi malaikat pencatat takdir. Lha wong ikan saja tahu berenang, burung tahu terbang, kucing tahu tidur 18 jam sehari, kenapa manusia malah bingung mau ngapain?
Jawabannya sederhana: “karena manusia kebanyakan mikir tapi kurang gerak.” Kebanyakan rencana tapi minim tindakan. Kebanyakan “mau ini-mau itu” tapi begitu disuruh mulai, langsung bilang: “Besok aja… aku menunggu mood datang.” Padahal mood itu seperti wifi tetangga: kenceng, tapi bukan buat kita.

Dan sekarang, mari kita bicara tentang SENIMAN. Suku bangsa paling unik, paling keras kepala, dan paling sering diharapkan bekerja dengan kalimat pamungkas: “Nanti exposure ya, Mas… Mbak…”
Exposure! Kata paling warm, paling manis, tapi tidak bisa ditukar dengan beras di warung Bu Siti. Seniman yang pernah punya gaji bulanan yang dulu hidup seperti pegawai negeri atau karyawan swasta, mendapat slip gaji tiap tanggal tua, punya BPJS, dapat THR,
sekarang masuk dunia seni dan tiba-tiba sadar: “Loh, honor saya mana?” Ada, tentu ada. Tapi bentuknya abstrak. Seabstrak lukisan modern yang bilang titik merah di kanvas itu
“simbol penderitaan batin masyarakat urban”.

Seni memang begitu. Ia memberi kebahagiaan, tapi honor kadang sembunyi seperti mantan. Ada, tapi sulit ditemui. Tapi apakah itu alasan menyerah? Tidak. Karena seniman sejati tahu satu hal:
karya itu serupa amal jariyah.

Berkarya tanpa dihitung-hitung. Tanpa spreadsheet. Tanpa invoice yang dibayar net 30 hari tapi tanda terima saja belum balik. Berkarya, karena hidup cuma sekali. Kalau hitung-hitungan, nanti malah mandek. Padahal Tuhan tidak buta, kalau manusia pelit membayar, Tuhan yang membukakan pintu dari arah yang tidak disangka-sangka. Mungkin tidak lewat honor mural, tapi lewat rejeki tak terduga, peluang kolaborasi besar, undangan festival, tautan hidup baru. Seperti Chairil Anwar bilang: Hidup hanya sekali. Berkaryalah terus.

Setelah itu, mati, tapi biarkan sejarah mencatatmu. Ironis, pepatah itu lahir dari penyair yang hidupnya meledak-ledak, yang honor puisinya tidak setinggi popularitasnya setelah ia tiada. Tapi lihatlah: namanya hidup lebih lama daripada tubuhnya. Itulah seni. Itulah kenapa berkarya itu sedekah terbesar. Ia abadi tanpa perlu batu nisan mewah.

Negeri ini lucu tak lucu, ceritanya. Seniman diminta totalitas, tapi dibiayai pakai proposal yang hilang entah ke mana. Diminta mengangkat budaya, tapi anggarannya tenggelam sebelum kapal berangkat. Diminta menyuarakan kritik, tapi begitu pedas sedikit, langsung dibilang: “Wah, ini tidak membangun!” Padahal kritik itu vitamin. Yang pahit justru menyehatkan. Yang manis kadang cuma iklan.

Di negeri ini, kritik dianggap musuh, padahal tanpa kritik, pembangunan cuma formalitas. Tapi bukan berarti kita harus marah-marah seperti warganet di kolom komentar politik.

Tidak. Kita pilih jalur satir yang sengak, nakal, nyelekit, tapi bikin orang mikir sambil ketawa. Itulah fungsi pamflet kebangsaan: menampar dengan sopan, menggigit tanpa meninggalkan luka. Seperti cabe rawit: kecil tapi bikin hidup terasa.

Coba lihat manusia modern. Tiap hari sibuk mengejar uang, mengejar validasi, mengejar konten viral. Ada yang hidupnya diukur dari jumlah likes, ada yang bahagianya ditentukan dari komentar netizen. Padahal komentar netizen itu sering lebih pedas daripada bawang goreng yang gosong.

Manusia sekarang sering lupa: Hidup itu bukan soal status WhatsApp atau caption Instagram yang filosofis tapi hasil copas. Hidup itu bukan lomba siapa paling sibuk, apalagi siapa paling banyak meeting. Hidup itu perjalanan pulang—pulangan menuju akhir. Dan di tengah perjalanan itu, kita cuma perlu jadi manusia yang berguna. Lucunya, banyak yang gagal paham: mengira berguna itu harus viral, trending, terkenal. Padahal kadang, berguna itu cuma berupa satu doa kecil, satu karya kecil, satu tindakan kecil, yang efeknya memanjang sampai generasi berikutnya. Seperti seniman yang terus berkarya meski tidak digaji, tidak disorot, tidak dipuji.

Ketakutan manusia, itu standar:
takut miskin,
takut gagal,
takut dihina,
takut tidak dianggap.
Tapi menolak berkarya karena takut miskin, itu sama saja seperti petani yang takut menanam karena takut tidak panen. Padahal tanpa menanam, tidak akan pernah ada panen. Seniman itu petani jiwa. Yang menanam imajinasi, merawat gagasan, mengairi inspirasi, dan memanen harapan. Honor bisa telat,
royalti bisa tersangkut, hak cipta bisa dipelintir,
tapi karya?
Karya tetap bicara.
Karya tetap hidup.
Karya tetap mencari jalannya sendiri.

Wahai generasi yang mudah tersinggung, yang hatinya sensitif seperti bubble wrap, jangan marah kalau hidup tidak sesuai ekspektasi Hidup itu bukan katalog online. Tidak ada opsi “return barang”. Tidak ada “refund kesedihan”. Tidak ada “voucher bahagia”. Yang ada cuma kerja keras, doa, dan keberanian. Terutama bagi seniman. Kalau sedikit dikritik sudah ngambek, bagaimana mau besar? Lha wong nasi goreng saja perlu api besar untuk matang. Jangan jadi seniman instan yang maunya hasil cepat, viral cepat, tapi ketika menghadapi kenyataan pahit, langsung merasa dunia tidak adil. Padahal dunia memang tidak pernah adil. Tugas manusia bukan menuntut keadilan, melainkan memaksimalkan peran.

Ini bukan ceramah, Ini pamflet, maka harus ada solusi.

  • Berkarya tanpa pamrih, tapi jangan bodoh. Hormati diri sendiri. Tetapkan harga, walau tidak selalu dibayar sesuai. Yang penting, jangan mau dieksploitasi.
  • Bangun komunitas. Sendirian itu berat. Tapi bersama, satu puisi bisa jadi gerakan, satu teater bisa jadi gelombang, satu film bisa jadi sejarah.
  • Belajar bisnis kreatif. Seniman bukan korban, seniman adalah pelaku ekonomi. Kuatkan manajemen, jangan cuma mengandalkan spontanitas.
  • Jaga kesehatan mental. Seniman tanpa mental yang kuat akan patah oleh komentar receh.
  • Ingat: karya adalah tabungan akhirat. Sedekah yang mengalir, amal yang tidak lekang oleh cuaca. Manusia boleh pelit, tapi Tuhan tidak pernah menutup pintu balasan.

Hidup ini hendak ke mana? Mo ngapain? Jawabannya: ke arah yang kamu pilih, walaupun jalannya tidak selalu mulus. Apa yang harus dilakukan?
Berkarya.
Berbuat baik.
Meninggalkan jejak.
Menjadi cahaya meski kecil.
Untuk seniman yang pernah punya gaji bulanan, yang kini hidup dari imajinasi dan doa, yang kadang disebut pengangguran kreatif tetaplah berjalan. Kalau harus bekerja tanpa honor, anggap itu sedekah. Kalau karya dihina, anggap itu latihan sabar. Kalau dunia tidak melihat, anggap Tuhan sedang mempersiapkan kejutan. Chairil sudah bicara:

“Aku ingin hidup seribu tahun lagi.” Dia tidak hidup sepanjang itu, tapi karyanya? Ah, justru melampaui usia manusia.

Wahai manusia yang sedang letih bertanya: “Hidup ini mau ke mana?”
Jangan buru-buru menyerah.
Jangan takut gagal.
Jangan minder.
Jangan iri pada orang yang tampaknya sukses.
Setiap orang punya jalan.
Setiap seniman punya musim.
Setiap karya punya waktunya untuk bersuara.
Yang penting satu:
Tetap melangkah.
Tetap berkarya.
Tetap menebar kebaikan.
Tetap percaya bahwa rejeki tidak pernah salah alamat.
Hidup hanya sekali. Tapi karya? Bisa seribu kali hidup. Dan ketika tubuhmu nanti kembali ke tanah, biarkan sejarah berkata:
“Di dunia yang ribut ini, pernah hidup seorang manusia yang meski tidak kaya, tidak berkuasa, tidak viral, tapi… ia berkarya tanpa lelah. Dan dunia menjadi sedikit lebih terang karena dirinya.”

KALAU NGGAK BOSEN, BISA NYAMBUNG BERIKUTNYA …

Dari Timur Bekasi
Senin, 17 Nov 2025
13.05

PENYAIR KEPO
Baca Tulisan Lain

PENYAIR KEPO


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *