MENJAGA MARWAH

MAR

Atas nama menjaga marwah, justru banyak yang terjebak dalam tindakan salah, merusak marwahnya sendiri. Misalnya kasus – kasus yang terjadi antara Kementerian dengan Media.

Frasa yang dinilai menohok sebagai kritik murni, harusnya dijawab dengan bukti, bukan ancaman perdata, cara yang dianggap menghindar dari tanggung jawab moral.

Apalagi lembaga independen Dewan Pers telah mengambil jalan mediasi. Seharusnya ini menjadi jalan keluar, memutus jalur hukum.

Ketika kesalahan ditutupi, kebenaran dicampakkan, lalu sibuk menggali pembenaran baru, yang ada justru kebohongan baru.

Ironis, mengapa orang didalam satu entitas seakan bangkit secara emosional tapi bukan rasional. Mereka membangun kolegial tapi semu, ramai-ramai menutup jalan bagi akal sehat?

Bagaimanapun, pemimpin bisa salah, setiap keputusannya belum pasti melewati pertimbangan baik-buruk, salah -benar dan untung-rugi. Jadi jangan nampak loyal, tapi tak rasional.

Immanuel Kant, dalam esainya “What is Enlightenment?”: “Sapere aude! bilang: beranilah menggunakan akal budimu sendiri!” Loyalitas yang membungkam akal justru bertentangan akal sehat

Jika setiap orang bersekongkol dalam keburukan, demi “kesatuan”, kebohongan akan menjadi hukum universal, pengkhianatan terhadap rasionalitas sedang berlangsung, dan itu bukanlah ciri manusia merdeka.

Kritik dianggap ancaman, koreksi dipandang penghinaan, berkata jujur diartikan pembangkangan, maka diam seolah menjadi kebajikan. Rasionalitas kolektif seperti itu bisa membuat “kesalahan” membusuk didalam.

Institusi yang menolak kritik ibarat tubuh menolak pil pahit; ia mungkin merasa nyaman sesaat, tapi penyakitnya semakin kronis dari dalam.

Jalaluddin Rumi berkata:
“Luka itu tempat cahaya masuk kepadamu.” The wound is the place where the Light enters you. Kritik adalah luka itu. Menutup luka berarti menolak cahaya kebenaran.

Marwah sejati justru lahir dari kerendahan hati menerima luka, membersihkannya, lalu membiarkan cahaya menyembuhkan.

Marwah sejati bukan dibangun dengan kesempurnaan tanpa cacat, tapi diikhtiarkan dengan segala kerendahan hati, berani mengatakan, “Ya, kami salah”, kami minta maaf.

Lalu bangkit memperbaiki kesalahan dengan tindakan nyata.
Ketika marwah dikalahkan oleh perlawanan hukum, moral disamarkan retorika keliru, yang tersisa hanyalah “marwah tanpa kemewahan”, kosong, rapuh, dan akhirnya runtuh oleh beban kebohongannya sendiri.

Yogyakarta, 17 November 2025

Kurang Pemanasan
Baca Tulisan Lain

Kurang Pemanasan


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *