“Salah satu hal paling menonjol dari filsafat ilmu adalah ilmu itu sendiri.”
Saya merasa beruntung mendapat pengajaran filsafat ilmu dari seorang guru besar ternama; Profesor Conie Semiawan.
Beliau pernah mengatakan; bahwa musuh utama ilmu adalah kesombongan, ia penghalang “epistemologis” yang membunuh rasa ingin tahu.
Kalimat sederhana itu mengungkap kedalaman makna tentang sikap “sombong” dan “ilmu” sebagai senapan ampuh untuk melawan.
Ilmu bukan hanya tumpukan dalil dan teori yang disusun dalam narasi, tapi pancaran pengetahuan yang senantiasa menyinari hati yang lapang.
Orang sombong hatinya sempit, kerap terperangkap dalam egonya sendiri, menolak kebenaran sejati, menganggap pandangannya mutlak benar, meski berdiri sendirian.
Pikirannya bagai bejana yang sudah penuh sesak, tak mampu menampung hal baru, sehingga pengetahuan mandek dalam sesat logikanya.
Ini mengingatkan pada konsep “intellectual humility” dalam “sains modern”, di mana riset “epistemic humility” membuktikan: mereka yang rendah hati lebih terbuka pada koreksi, kritis terhadap bias, dan inovatif.
Ilmu tak berkembang di otak kesombongan, ia bertumbuh di ladang kerendahan hati.
Seperti kata Socrates, “Satu hal yang aku tahu adalah bahwa aku tak tahu apa-apa.”
Dalam dialog Platonis, Socrates bahwa kesadaran akan keterbatasan pengetahuan, adalah fondasi kebijaksanaan sejati, tanpa mengakui ketidaktahuan, ia terjebak dalam ilusi keunggulan semu.
Socrates mengajarkan, kerendahan hati bukan kelemahan, syarat untuk membuka dialog dan kemajuan berpikir.
Perlu introspeksi tajam: apakah kita bersedia menjadi bejana kosong yang siap diisi, atau bejana penuh ego yang menolak segala rupa kritik?
Untuk berilmu, maka kosongkan diri, tinggikan kebenaran di atas ego. Tanpa itu, pengetahuan hanya fatamorgana, dan kemajuan ilmu akan terhenti oleh tirani kesombongan.
“Kultivasi humility intelektual”, kemampuan mengenali keterbatasan, adalah kritik diri, demi pribadi yang terus bertumbuh.
Jakarta, 19 Oktober 2025









