Dalam kelas kehidupan yang nampak tajam dan berjarak, sesungguhnya kita hadir tidak sendirian, melainkan berada di antara sosok lain, yang mengalami hal yang sama yang kita rasakan.
Rasa letih, pasrah, atau bahkan sedang bersemangat berjuang, dan berharap. Disinilah letak etika kemanusiaan dipertaruhkan untuk menemukan maknanya.
Etika bukan sekedar soal baik buruk, atau benar salah, tapi tentang sikap terhadap sesama, bagaimana penderitaan orang lain bukan semata urusan orang lain, tapi juga bagian tanggungjawab kita.
Etika lahir saat kita berhadapan dengan orang lain, wajah mereka mengingatkan kita untuk peduli, simpati, empati dan memberi pertolongan, tapi kadang kita acuh, seolah tak tahu, padahal batin kita membaca.
Filsuf Martin Buber mengatakan; etika lahir dari relasi “Ich-Du” (aku-kamu), pertemuan autentik antara individu sebagai subjek yang unik dan berharga.
Dalam relasi “Ich-Du”, individu tidak lagi melihat orang lain sebagai objek (“Ich-Es” atau aku-itu), tetapi sebagai subjek yang memiliki nilai dan martabat sederajat.
Itulah yang disebut solidaritas sosial, perasaan mutlak yang selalu muncul dalam batin manusia, bahwa kebahagiaan orang lain adalah bagian dari kebahagiaan kita.
Solidaritas bukan hanya empati sesaat, tapi keberanian untuk berdiri bersama, menanggung beban bersama, berjuang bersama, bukan saling menjatuhkan.
Solidaritas bukan soal siapa yang kuat menolong yang lemah, atau yang pintar menolong yang tertinggal, tapi tentang kesadaran bahwa pada saatnya kita semua saling mengisi dan membutuhkan.
Etika kemanusiaan mengajarkan: manusia sejati bukanlah yang paling pintar atau paling kaya, tapi yang paling peka terhadap luka di sekitar, itulah solidaritas.
Solidaritas hidup bersama etika, ia merupakan seruan moral yang lembut tentang pribadi, harapan, pertolongan, sekaligus interaksi untuk berbagi, dalam naluri kemanusiaan.
Yogyakarta 11 November 2025









