RIAK

BORING

“Ada banyak alasan kenapa aku menyukai bonsai. Salah satunya adalah ibuku yang pernah berkata tentang filosofi hidup dan kehidupan kita itu tak ubahnya bonsai.”
“Persisnya?”
“Ya, kehidupan kita tak ubahnya karya seni bonsai yang terus tumbuh, membutuhkan perawatan, kesabaran, dan sentuhan kelembutan agar keindahan sejatinya dapat terwujud. Bedanya kita terbentuk oleh garis nasib yang menjadikannya takdir!”
“Yups… hem… menurutmu, definisi ibu itu apa?”
“Ibu adalah malaikat yang terlihat!”
“Kalau Bapak?”
“Aku tak bisa menjelaskannya!”
“Kenapa?”
“Jika aku menjelaskannya, bisa terindikasi narsis, toh kini aku sudah jadi seorang bapak!”
“Jadi?”
“Sebaiknya bertanyalah pada ibu, itu pun jika kau ingin mendapatkan jawabannya perihal definisi Bapak!”
“Baik!”

Di lengkung langit, bulan gendut berkalang pelangi. Gerak angin mulai menaburkan dingin. Sayup suara klakson kereta mengingatkan pada seseorang yang telah pergi dari sisi. Ruang-ruang narasi datang dan pergi silih berganti:

“Anggap saja obrolan tadi tidak ada. Begini: kenapa sampai kini suka bonsai?”
“Mau dijawab jujur atau filosofi?”
“Jujur dan filosofi!”
“Sekadar menyalurkan ilmu komposisi, gradasi, transisi, Floor plan, atau bloking yang didapat dari bangku kuliah di jurusan teater!”
“Estetika seni?”
“Ya, bisa dikata seperti itulah!”
“Kalau filosofi?”
“Bonsai itu sepertihalnya tubuh kita yang mengandung ragam unsur!”
“Jelasnya?”
“Keselarasan unsur kehidupan!”
“Terangnya?”
“Di dalam tubuh kita itu mengandung unsur air, udara, tanah dan api!”
“Jabarannya?”
“Unsur tanah bagi bonsai adalah media tanam tempat ia berakar dan bertumbuh. Unsur air hadir dalam setiap tetes penyiraman, sebagaimana kita membutuhkan air untuk hidup dan membersihkan diri. Unsur udara diwujudkan melalui hembusan angin yang menyejukkan, layaknya oksigen yang kita hirup setiap saat. Dan unsur api tercermin dalam cahaya matahari, seperti tubuh kita yang juga membutuhkan sinarnya. Bila keempat unsur ini berpadu dengan harmoni, lahirlah keindahan yang sejati dalam keseimbangan.”
“Hem… mungkin singkatnya seperti ini: Tanah adalah pijakan, air adalah penyegar, udara memberi napas, dan matahari menghadirkan energi. Begitu pula bonsai, hidup dalam keseimbangan empat unsur itu—seperti halnya kita. Bila semuanya berpadu dengan harmonis, maka lahirlah keindahan yang sejati. Seimbang?”
“Ya. Seimbang dalam arti hubungan vertikal-horisontal, sebagaimana hubungan kita terhadap sesama manusia, terhadap lingkungan, terhadap alam. Vertikalnya ya, sebagaimana hubungan kita dengan Tuhan!”
“Tegasnya?”
“Musabab itulah mengapa konsep bonsai itu kebanyakannya mengerucut bak aseupan, yaitu endingnya bakal ke atas. Sebagaiman kita akan berpulang kepada Pemilik Hidup!”
“Hem … Jakob Sumardjo … Dunia atas, tengah dan bawah, dong?”
“Ya, bisa dikata seperti itulah!”
“Ada yang lain?”
“Tentu saja ada!”
“Apa?”
“Dulu, aku sempat bergonta-ganti profesi, tapi guruku yang sudah menganggapku sebagai anaknya tak pernah memberikan respon positif. Sampai pada akhirnya guruku mengetahui bahwa profesiku kini menekuni dunia bonsai. Ia nampak bahagia dan merestui!”
“Alasannya ia merestui?”
“Entahlah. Aku sendiri tidak tahu dan tidak pernah dipertanyakan. Seperti yang engkau tahu bahwa aku sudah yatim-piatu dan hanya guruku itulah sebagai pengganti orang tuaku!”

Malam kian sepi dari aktifitas para pemimpi, tetapi malam tak pernah benar-benar sunyi dari aktifitas suara-suara alam yang merayap dari sebalik kabut juga suara-suara binatang malam dan desir pohonan yang dimainkan angin purba yang tak pernah berhenti mengkitabkan ribuan rahasia:

“Kau dingin?”
“Ya!”
“Apa makna cinta bagimu?”
“Kosong!”
“Maksudnya?”
“Dalam kosong ada isi pun sebaliknya sama; dalam isi ada kosong!”
“Artinya?”
“Bagiku cinta tidak bisa didefinisikan! Jika pun berupaya untuk dibahasakan, maka kegagalan membahasakan dan memahami bahasa akan melahirkan mispersepsi, ditambah miskomunikasi atau kelambatan berkomunikasi, seringkali menjadi hambatan keterlambatan dalam menjalankan sebuah rencana!”
“Seperti lelucon dan hubungannya dengan alam bawah sadarkah?”
“Ya, bisa dikata seperti itulah!”
“Jauhnya?”
“Cinta datang bukan untuk dilihat, tapi untuk menyaksikan yang hidup di dalam aku!”
“Aku ingin jadi jantungmu dan berhenti semauku!”
“Mengerikan!”
“Lho … kok mengerikan? Kan logikanya itu begini; kalau memang tidak ada masalah di hulu, berarti akar masalahnya ada di hilir!”
“Adakah engkau sedang patah hati?”
“Hem … Mari merayakan tepuk tangan pada yang diam-diam pergi!”

Sepasukan kabut tipis mulai menjengkali lingkar bumi. Lamat-lamat jarak pandang kian terbatas. Tiris di batas giris. Ruang-ruang iamaji kian menggelandang dalam kaji. Dua tubuh yang tak pernah absen dalam langit malam saling mengupas kesemrawutan pikir:

“Menampung curhat gak nih?”
“Tentu saja boleh. Kau boleh membuang sampah kapan pun engkau mau!”
“Apakah aku terlihat sedang jatuh cinta?”
“Mana aku tahu!”
“Masalahnya itu di sini; ada yang mendekatiku, tapi hatiku terpaut pada yang lain. Sementara nasihat dari para sahabat mengingatkanku jangan egois. Di sisi lainnya lagi, ada juga rasa cemburu, sedikit!”
“Jadi teringat pepatah!”
“Apa tuh?”
Lama-lama jadi bukit!
“Sialan!”
“Jadi teringat juga pada kalamNya dalam surah Yasin ayat 21 yang berbunyi: Ikutilah orang-orang yang tidak meminta imbalan (dalam berdakwah) kepadamu. Mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Nah, adakah di antara mereka salah satunya?”
“Menurutmu, siapakah yang pantas jadi imam?”
“Aku tidak tahu keduanya apalagi ketiga dan seterusnya! Akan tetapi terkadang yang paling keras menegurmu justru yang paling tulus mencintaimu. Bukan karena ia ingin mengaturmu, tapi karena ingin melindungimu, karena cinta sejati itu tidak cuma membawa kata manis, tapi juga keberanian untuk mengingatkanmu saat engkau salah arah!”
“Tapi semua orang punya prinsif hidup!”
“Ya. Sebab nasehat yang tulus memang terasa pahit, tapi justru di sanalah cinta diuji; bukan membiarkanmu jatuh, melainkan dengan menuntunmu agar tetap kuat berdiri. Lebih baik ditegur karena disayang daripada dibiarkan hancur oleh yang cuma pura-pura peduli.”
“Maksudnya?”
“Sebab cinta tanpa nasehat bukan cinta yang menuntun, tapi yang membiarkan hilang arah. Seperti halnya cinta tanpa birahi itu omong kosong, tapi birahi tanpa cinta itu hal yang biasa dan binasa!”
“Hem… apakah masih ada yang bercerita tentang kecerdikan Abu Nawas pada anak-anaknya?”
“Jadi teringat juga pada Syeckh Abdul Qodir Al Jaelani yang berkata: Orang yang iklas tidak peduli apakah ia dikenal atau tidak, karena yang ia cari hanyalah ridha Allah. Kayaknya aku harus beli rokok dulu ke bawah. Kau mau pesan apa?”
“Donat! Eh … memangnya jam segini masih ada yang buka?”
“Warung Madura!”
“Sebentar … kembali ke bonsai, apa ada filosofi yang lain?”
“Menciptakan bonsai pada dasarnya mengajarkan kita untuk hidup di masa sekarang, menjadi lebih tentram, menghargai proses dan menemukan keindahan dalam pertumbuhan yang sengaja diperlambat. Bonsai bukan sekadar hobi, melainkan sebuah praktik yang melibatkan kesabaran, keuletan, perhatian dan apresiasi terhadap alam.”
“Bukankah itu rudapaksa?”
“Di sisi lain ya. Akan tetapi bonsai itu cermin keindahan alam yang terus berumah. Seni hidup. Di alam; sebuah pohon meski dipangkas, dipatahkan atau tersapu padai, ia tetap akan kembali bertunas dan membuat jalur hidupnya, selama akarnya tak tercerabut dan berpenyakit dan tentu saja jatah usia!”
“Hem … tak pernah patah arang kah?”
“Tepat! Meski media tanamnya sedikit hanya sebatas area pot, tapi ia senantiasa bisa menyesuaikan untuk tumbuh, mengecilkan daun-daunnya, meski tubuh atau batang, dahan, ranting dan akarnya tumbuh subur. Ia senantiasa menampakan kekuatan alamnya dalam skala kecil. Dan dalam dunia bonsai tidak ada yang benar-benar karya yang sudah selesai atau sudah jadi, sebab keindahan bonsai terletak pada perubahan yang terus menerus terjadi dalam tumbuh. Sepertihalnya kehidupan alam pikiran kita.”
“Percuma dong berkarya tak pernah jadi!”
“Benar, sebab bonsai tak pernah bisa lepas dari pengaruh musim dan perubahan alam—seperti halnya suasana hati manusia. Ia harus tetap menampakkan keceriaan dalam sapa, meski rasa sakit menyelinap atau keseimbangan hidup terasa goyah. Demikian pula bonsai, harus terus terawat bentuknya, bahkan ketika ia menggemuk. Bedanya, bila manusia menjadi obesitas mungkin kehilangan pesona, bonsai justru kian bernilai dan memikat; akar-akar kokohnya, batang yang menua dengan anggun, serta ranting dan cabang halus yang tumbuh kian runcing dalam gemingnya di keheningan waktu.”
“Hem… bilang saja makin merunduk makin berisi. Di mana pun manusia itu meruang harus menganut ilmu padi alias pindah cai pindah tampian. Gitu saja repot!”
“Itulah fungsi jurnalis; harus bisa menyimpulkan!”
“Sialan! Pergi sana! Jangan lupa donatnya!”

Begitulah pesona sejati bonsai — kemampuannya memantulkan wajah alam dan kehidupan yang senantiasa bergerak. Merawat bonsai bukan sekadar menumbuhkan pohon mini, melainkan juga merangkul hakikat kehidupan dalam segala wujudnya. Ia menjadi cermin paradoks yang justru menghadirkan keseimbangan dan harmoni bagi jiwa yang merenung.

“Tapi menurut aku, kamu cemerlang | Mampu melahirkan bintang-bintang | Menurutku ini juga karena hebatnya badaimu | Juga karena lembutnya tuturmu ||”
“Puisi baru?”
“Hemmm … Amin paling serius. kok cepat?”
“Ada yang lupa!”
“Apa?”
“Gak punya duit! Hahaha… cinta berat diongkos!”
“Hahahaha… tapi cinta selalu mampir di antara pegal dan ketawa yang dipaksakan!” []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *