BANYAK MANUSIA FRUSTASI DISEBABKAN FACEBOOK PROFESIONAL, LALU SALAH SIAPA?

bangoeb

Sebelum dunia mengenal Facebook Profesional, aku telah menulis di dinding waktu, dengan pena sederhana, tinta ketulusan, menggores makna dari luka, menghidupkan kata dari sepi.

Aku bukan pencari uang, aku pencari makna. Di setiap huruf yang lahir, ada niat yang kuletakkan seperti doa: berbagi, bersedekah lewat kata-kata, tanpa pamrih, tanpa tagihan.

Orang berkata — “Untuk apa menulis kalau tak menghasilkan?” Aku tersenyum lirih, karena tak semua hasil harus berwujud angka. Ada hasil yang lebih tinggi nilainya — ketenangan batin, ketulusan jiwa, dan rasa bahwa aku hidup bukan sia-sia.

Sekarang, zaman telah berubah, orang berlari mengejar viewer, like, dan insight. Ada yang menunggu notifikasi seperti menunggu hujan turun, ada yang kecewa karena tak kunjung monetize, lalu berhenti menulis, lupa bahwa yang mereka cari seharusnya bukan uang, melainkan jati diri.

Aku tersenyum melihat itu semua — karena pernah juga aku menunggu, pernah juga merasa hampa, tapi kemudian aku sadar: berharap pada dunia itu fana, namun berkarya karena Tuhan — itu abadi. Berhentilah menulis demi tepuk tangan, karena tepuk tangan hanya menggema sebentar, namun menulislah demi cahaya, yang tetap menyala bahkan saat dunia padam.

Jangan kendur semangatmu, jangan mundur langkahmu. Setiap karya adalah sedekah, setiap ide adalah doa, setiap kata yang jujur adalah saksi bahwa kau masih hidup dengan nurani.

Jika hari ini engkau kecewa –
karena belum dapat uang, belum dikenal, ingatlah: Tuhan sedang menyiapkan waktumu. Kesabaran adalah modal seorang seniman sejati, dan konsistensi adalah napas yang membuatnya hidup panjang. Maka teruslah menulis, teruslah berkarya, meski tak ada yang membaca, karena alam semesta pun menyimak dalam diam.

Jangan biarkan semangatmu luntur, jangan biarkan egomu mengubur niat baikmu. Sebab seni sejati bukan soal siapa yang tenar, melainkan siapa yang ikhlas berkarya tanpa pamrih dan tetap menyalakan lentera, meski tak ada yang melihat cahayanya. Itulah jalan seniman sejati: berkarya atasnama Tuhan, pantang kendur,
apalagi mundur.

Dari Timur Bekasi
Rabu, 05 Okt 2025
15.39


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *