PEMENANG LOMBA BACA PUISI PIALA HB JASSIN TINGKAT NASIONAL 2025

jasin 1

Piala HB Jassin 2025 Perlombaan HB Jassin tahun ini diikuti sekitar 1200 peserta (terhitung seribu dua ratus peserta) yang dikirim lewat video dari berbagai daerah. Tidak hanya dari perkotaan tetapi juga diikuti oleh banyak peserta dari daerah-daerah terjauh. Banyak sekali ciri khas yang dimunculkan dikarenakan teknik pembacaannya dan tafsir juga menjadi berbeda-beda.

Tidak ada negeri diluar Indonesia yang mengadakan lomba baca puisi dan diikuti 1.200 peserta! Ini bentuk nyata dari membangun literasi paling kongkrit dari Panitia penyelenggara. Kami membayangkan 1.200 peserta bergerak bersama dari tingkat memilih naskah puisi, proses latihan, sampai perekaman video Baca Puisi. Niscaya ribuan orang terlibat didalamnya.

Juri menerima 1.200 peserta. Peserta yang mencapai ribuan itu merupakan ikhtiar mengagumkan dari seluruh tim penyelenggara HB Jassin. Jumlah tersebut belum terhitung lomba lainnya seperti lomba menulis dan musikalisasi puisi, maka peserta yang sangat banyak itu membuat juri harus menikmati tontonan baca puisi sampai basah kuyup, berhari-hari, berminggu-minggu. “Indah sekali geo-estetik baca puisi Indonesia yang dipengaruhi berbagai akar pendekatan ilmu, pengalaman, dan budaya”.

“Membaca puisi itu bukan sesuatu yang sehari-hari, namun tidak kehilangan kesehariannya.”, demikian Kang Jose Rizal Manua dalam perdebatan penjurian. Dari mulai menafsir suasana, kualitas suara, warna suara, ketepatan emosi, struktur emosi, tempo, dinamika, gestikulasi. Semua itu menjadi satu kesatuan yang utuh sebagai pergelaran sastra atau sebut saja pertunjukan.

5 menit durasi pembacaan atau durasi 7 menit pembacaan puisi yang membutuhkan daya konsentrasi berlipat-lipat. “Otentik, kedalaman emosi, ketepatan, dan Utuh!”, demikian Bu Nisa Rengganis menegaskan.

Maka teks-teks itu ibarat kendaraan imajinasi bagi para pembacanya, juga pendengar, dan penontonnya. Hanyut bersama puisi yang para penyair tulis.

jasin 2

Bapak-ibu yang kami hormati dan juga peserta dari berbagai daerah yang kami banggakan. Perlombaan HB Jassin di tahun 2025 ini merupakan perlombaan dengan pilihan juara yang sulit, banyak pembacaan yang baik dengan perkembangan gaya serta tafsir. Selain perdebatan yang panjang, juri telah menuliskan beberapa hal teknis dengan singkat dan padat.

Pertama, pembacaan puisi sangat perlu untuk mengedepankan tafsir. Sifat tafsir bisa saja sangat otentik, tetapi bisa juga sangat konvensional. Tafsir harus berdasar pada teks yang dibaca, tetapi ketika ditafsirkan harus juga berdasar kepada data-data serta hubungannya dengan teks termasuk mengenal dekat penyairnya.

Kedua, pembacaan puisi melalui cara apapun bisa saja menjadi tepat, tetapi kembali lah dengan menjadi pembacaan puisi yang orisinal serta menghindari pembacaan secara teknis. Suara yang ‘dibesar-besarkan, dibulat-bulatkan’ membuat struktur emosi puisi kehilangan kealamiannya, kehilangan kedalaman emosi dan imajinasinya.

Ketiga, ketika proses babak penyisihan, pengambilan gambar dan rekam suara menjadi poin penting untuk diperhatikan dikarenakan transmisi komunikasi karya sangat mengandalkan ketepatan proporsi gambar, kejelasan suara, dan kejernihan rekaman.

Keempat, pembacaan puisi perlu ketelitian dari segala aspek, tidak hanya teks tetapi juga ketelitian dari membaca puisi dalam kecermatan menafsir, ketepatan menghayati, keterlatihan vokal, hingga efektifitas gestikulasi

Tingkat seleksi berbeda dengan tingkat final. Tingkat seleksi dilakukan secara daring sedangkan tingkat final dilaksanakan secara luring. Finalis dikirim pula puisi yang wajib dibacakan sehingga setiap peserta membacakan masing-masing dua puisi dalam satu perlombaan. Puisi pilihan diambil dari pemilihan yang digunakan ketika dibacakan di tingkat seleksi daring, sedangkan puisi wajib merupakan salah satu puisi karya Leon Agusta berjudul Ode Buat Proklamator. Puisi ini wajib dibacakan saat final di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki.

jasin3

Ode Buat Proklamator puisi yang tidak mudah untuk dibacakan serta ditafsirkan. Struktur puisinya sendiri cukup rumit bahkan ketika dibacakan oleh profesional sekalipun. Pemilihan satuan kata yang kaya, kalimat multi makna, hingga bait yang tidak mudah ditafsirkan. Membuat teks yang dibacakan menjadi cukup sulit untuk mempertimbangkan emosi baca hingga gaya pembacaannya. Selain itu dalam membacakan puisi memerlukan ketepatan dalam membacakannya, terutama ketepatan struktur teks hingga struktur emosi. Kedua hal tersebut menjadi tantangan penting bagi seorang pembaca puisi ketika dihadapkan dengan sebuah teks puisi.

Proses final yang berlangsung pada hari Jumat tanggal 17 Oktober 2025 pukul 18.50, beberapa penampil membacakan teksnya dengan sangat hati-hati, cenderung tegang. Sehingga ketika proses pembacaan berlangsung ditemukan kesalahan dalam membacakan teks, terutama pada unsur artikulasi, merubah kata teks.

Daya tahan konsentrasi menjadi ujian paling hebat bagi peserta. Para peserta tampil dengan sangat memukau, tafsir yang otentik, penghayatan yang mendalam, ekspresif, dinamis, dan utuh. Persoalan ini menjadi diskusi yang cukup alot dari kami sebagai dewan juri dalam mempertimbangkan beberapa kesalahan membaca.

Festival Pembacaan Puisi HB Jassin 2025 telah sukses berlangsung. Ekosistem kesusastraan yang dibangun bersama di dalam perlombaan ini telah berhasil kita capai. Demikian, kami telah menikmati seluruh sajian yang peserta tampilkan. Hati kami bersama para peserta lomba, para penyair, serta para penggiat kesusastraan. Salam sastra!18 Oktober 2025. Hormat kami: Jose Rizal Manua, Nisa Rengganis, Iman Soleh.


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *