Kala angin menelikung cakrawala, kau tak akan disinggahi debu. Sebagaimana skenario kedua harus dimainkan guna memecah konsentarsi para pendemo. Posisi provokator senantiasa aman sebab masih satu barisan dari pihak yang katanya selaku pengaman. Provokator bisa terus mulus dalam menghilang, tidak peduli jatuh korban —yang terpenting rusuh dan kacau. Seperti itulah gambaran jeli dalam membaca peta konflik.
Namun, demonstran sejati, tak pernah terpancing dalam keakraban tersebut. Ia selalu punya cara membayangkan kuda bisa menembus rimba gigantik, meski selalu dicap horor sebagai pelapor atau pembocor. Sebagaimana kau ketawa di sebalik punggung. Sepertihalnya mereka yang menyatakan diri selaku abdi setia, tapi nyatanya buah simalakama yang nyambi di balik ketiak. Dan kesengitan masih terus merambat di sepanjang gelombang kesadaran.
Jika kematian dan kebahagiaan itu bersanding, bisakah dikata bahwa itu surga? Tentu saja perlu tinjauan dari ragam sudut pandang. Namun dalam kacamata logika, setiap pernyataan itu disebut proposisi. Dan kebenaran proposisi bisa diklasifikasikan menjadi dua: Proposisi aksiomatik, yaitu proposisi yang pasti benar, tak bisa disangkal. Dan proposisi spekulatif, yaitu proposisi yang bisa benar bisa salah, tergantung bukti empiris atau penjelasan saksi fakta. Musabab itulah:
Boleh. Kau boleh membaca dari satu sisi atau dari sudut pandang mana pun yang kau suka. Akan tetapi, andai kau tahu: Di alur napas, kala melihat telor setengah matang penuh nafsu, ingin segera menyantapnya dengan seketika. Namun kelam bagai seekor ular hitam yang menggelusur ke rungkun gelap kehidupan, hingga mematuk batin yang sepi dari pendamping dan pengaping.
Diam bukan berarti tak bergerak. Justru ada banyak ruang yang dipermak. Bukan berarti merubah tatanan melainkan merapikan pada tempat asalnya. Biarlah yang di dalam lingkaran merasa nyaman dengan banyak bumbu dalam menggoreng yang seperti biasanya. Lumayan juga buat hiburan ketimbang nyewa dagelan demi merenggangkan ragam urat ketegangan sampai bisa terpingkal-pingkal dengan adanya guyonan.
Sebab bagaimana mau bisa dikatakan sempurna membaca jika lahir yang terus ditelisik, sementara batin tak pernah bisa diraba. Dan itulah sempurnanya rumus dari Ilahi dalam membaca: Luar-dalam harus terkaca. Namun, jika kau masih tergoda oleh racun kehidupan, maka telanlah pil kesabaran. Biarkan kekuatanmu menjadi api yang membakar duri-duri kesedihan, dan serukanlah, “Kami telah menaklukkan api neraka.”
Akan tetapi janganlah kau lupakan bahwa dada ini senantiasa lapang terbuka melindungi dari kuburan-kuburan mimpi. Dari jurang-jurang ingatan. Dari sumber-sumber ingatan. Dari gua-gua malam. Dari lorong-lorong kata. Dan dari beban mantra-mantra. Aku bukan centeng dari liang luka mereka yang bolong, yang diam-diam sudah banyak yang merambah masuk, bermukim di jalur-jalur darah. Di kapling-kapling daging. Di bukit-bukit sakit.
Bercerminlah pada sehabis tidur —lahan tumbuh terus berkurang jika tak pernah ada bantuan dari semoyang. Siapa sesungguhnya yang masih berani menemani dalam ruang dan peristiwa yang tak bisa terbaca oleh laku diri. Sungguh, mereka telah menciummu dan mencelupkan jari-jari logikanya pada genangan kelam di sunyi-senyap peta malam, yang mencuat dari lapuk liang luka —jadi partikel-partikel reduksi kutuk-busuk dalam bingkai petaka yang antre di semesta terbuka.
Aku kenal lekak-lekuk garis pirang perak mereka yang selalu gagal mencumbumu. Biarlah: Hanya aku satu yang tahu. Biarlah hanya dari jauh aku terus mengakrabimu dengan dada terbuka di saban waktu terjaga. Betapa gemuruhnya napasmu dalam rangkul bulan karang-karang, hanyut dalam badai yang seharian terpendam, muncul penuh dari balik tirai malam yang mendebarkan. Suluh subuh merayap pelan ke dalam ruh yang selalu gagal dikuburkan para khianat. []









