WISATA BAHASA

angin

Konon katanya ketika angin kehilangan kerja itu—ia akan melangkah jauh dari dingin tubuh—hingga hanya derit dan rintih yang dilayar-rambatkannya dari rumah tua itu saban malam. Terlalu naif jika menuding penghuni rumah itu di saban malamnya tak pernah absen dalam membunuh dajjal. Jauhnya, aku tak pernah mendengar ada doa bersama yang dipanjatkan, sebelum ritual pembunuhan itu dilaksanakan. Barangkali angin pun ikut berdoa sehingga tak pernah melayar-rambatkannya. Lupakan.

Bagaimana pula bisa melupakan, aku tak pernah menemukan pikiran segar dari apa yang kudengar. Justru yang kudapat hanya berbagai kutipan dari stereotip yang sudah jadi pembendaharaan ingatanku, sebagaimana perihal adegan film dewasa. Tentu saja orang boleh banyak mengutip dari pembendaharaan ingatannya yang bisa jadi pembendaharaan tersebut itu ada dari hasil jejak bacanya selama ini.

Sebagaimana ingatan seragam kala di musim penghujan, pastilah persediaan obat-obatan dan konsumsi makanan selalu itu yang tersedia. Minum es dihindari. Minuman penghangat dihidangkan. Obat flu jadi stok. Obat magh dilupakan karena sudah dipastikan bakal banyak asupan makanan yang masuk ke lambung. Selimut tebal dan istri yang siap menemani, dan itu pun bagi yang sudah berumah tangga. Hewan peliharaan seperti unggas pun dibatasi dalam berkeliarannya. Sangkar-sangkar burung dipakaikan sarung.

Laku kutipan itulah yang menghambat laju pikiran sendiri yang tak bisa keluar dalam label orisinalitas dan otentisitas dari laku diri hingga fungsi otak untuk berpikir lumpuh total. Padahal air hujan sangat baik untuk pertumbuhan anak. Mampu menambah daya tahan tubuh, otot motorik dan kecerdasan. Sebagaimana orang tua terdahulu begitu gembira menyambut hujan dan membebaskan anak-anaknya untuk bermain-main di bawah hujan, meski deras.

Ah, bukankah kursi, meja dan pohonan pun suka menyanyikan derit, tapi rintih? Lagi-lagi kembali pada pembendaharaan pikiran dalam kutipan perihal adegan film dewasa. Benar. Bahwa sejatinya apa pun yang kita kutip itu sekadar untuk memberikan penjelasan, dukungan atau justifikasi, guna kreativitas dari pemikiran kita sendiri bisa terlahir dengan sempurna, yang tentu saja sesuai dengan kemampuan nalar dalam menarik simpulkannya.

Sepertihanya kita pernah melihat maling yang digebuki orang sekampung. Notasi rintih keluar juga dari mulutnya. Orang yang terjatuh dari motor. Terpeleset. Bahkan ketika terpelanting dari sapuan kaki lawan kala bermain sepak bola. Seorang ibu yang menghadapi persalinan normal. Rintih secara otomatis keluar dari mulutnya dengan tepat waktu. Jika demikian, bisa jadi bahwa makna rintih itu hasil kutipan dari fakta.

Konon lagi, aktivitas mengutip itu tak ubahnya laku diri pemulung, tapi kok di ruang akademisi hal itu sangatlah dianjurkan, terutama dalam pembuatan makalah, essai ilmiah sampai skripsi, bahkan tesis dan disertasi pun wajib ada kutipan. Ya, antara pemulung dan pemulung tentu saja ada bedanya. Bukannya aku anti pemulung. Justru aku mengagumi para pemulung, yang dari bahan bekas—mereka bisa secara kreatif membuat produk untuk kita gunakan dengan tak merasa terhinakan, kala kita mengenakan produknya dibawa jalan-jalan.

Baju dari perca misalkan, disamping artistik sekaligus estetik, enak juga dipandang dan nyaman digunakan. Namun rintih? Lagi dan lagi kembali pada pembendaharaan pikiran dalam kutipan perihal adegan film dewasa, meski aku sendiri sudah bisa menyimpulkan bahwa kala rintih berkibar dari mulut-mulut itu bisa disebabkan dari banyak faktor. Dalam situasi dan kondisi yang tak seimbang ini, ada baiknya aku harus membuka kamus, perihal bisa memastikan makna kata dari rintih itu apa saja, guna tak tersesat ini pikir pada hal-hal yang berbau adegan film dewasa.

“Rintih” dalam bahasa Indonesia berarti 1) suara lirih atau erangan yang keluar karena rasa sakit atau sedih; 2) keluhan atau desahan karena penderitaan. Secara lebih luas, “rintih” bisa merujuk pada suara atau ungkapan rasa sakit, baik secara fisik maupun desakan secara emosional. Nah loh, desakan secara emosional? Singkat jawabannya bisa kembali pada wabah mengutip perihal adegan film dewasa.

Bisa jadi, bahwa apa yang kini terjadi dalam benakku bukan disebabkan dari terlau mendominasinya kutipan perihal adegan film dewasa, melainkan pikiranku saja yang sudah kotor: Jauh dari Cahaya Maha Cahaya. Akan tetapi ada satu hal yang tidak mengerti, mengapa pula aku begitu kukuh pada praduga perihal kutipan adegan film dewasa. Bayangkan saja dan mari kita mencobanya dalam mendaur ulang pembendaharaan ingatan:

Rintih. Merintih. Mengerang. Rintihan. Suara merintih; erangan. Keluhan. Jangan-jangan, saban malam penghuni rumah tua itu melangitkan keluhan? Bisa jadi demikian. Ah, tapi kok notasi bunyi nadanya seperti irama oh no dan oh yes, meski kedua diksi itu tak pernah ada terdengar. Hanya: Ah. Eh. Heh. Apahkah ah, eh, dan heh itu termasuk kata ataukah imbuhan? Lagi-lagi harus kembali membuka kamus, iya kan?

“Ah,” “eh,” dan “heh” termasuk kata seru (interjeksi), bukan kata dasar atau imbuhan. Kata seru adalah jenis kata yang digunakan untuk mengungkapkan perasaan, seperti kaget, kesal, heran, atau panggilan. Nah loh kuncinya ada pada mengungkapkan perasaan. Lantas, perasaan apakah yang saban malam dirasakan oleh penghuni rumah tua itu hingga rayap angin malam pun begitu intens mengabarkan. Jangan-jangan hanya pendengaranku saja yang diberi kabar?

Jika demikian, betapa baiknya angin padaku yang mengerti adanya diriku, yang saban hari selalu merasa kesepian. Hem, bisa jadi rintih itu suara angin sendiri yang juga sama sepertiku, yang sepi dari pelayaran, iya kan? Boleh jadi juga angin tengah mengeluh atas tugasnya yang tak bisa berhenti bekerja. Masa iya sih angin bisa mengeluh dalam notasi rintih?

Ya, meski memang benar adanya bahwa sejatinya angin, berdasarkan kamus itu termasuk makhluk alam yang merupakan pergerakan udara, yang terjadi akibat perbedaan tekanan di atmosfer. Angin berfungsi sebagai alat transportasi yang memindahkan uap air atau awan dari satu tempat ke tempat lain, membantu distribusi uap air di atmosfer dan mendukung kehidupan makhluk hidup di bumi. Selain itu, angin juga mempengaruhi pola cuaca dan aktivitas manusia, seperti pertanian dan transportasi, serta berfungsi sebagai penghantar—rambat—merambatkan suara.

Nah loh penghantar—rambat atau merambatkan suara? “Angin merambatkan suara” berarti angin mempengaruhi perambatan atau penyebaran suara. Ketika angin bertiup, gelombang suara dapat terbawa oleh angin dan menyebar lebih jauh atau arahnya berubah. Jadi, angin bisa mempercepat, memperlambat, atau bahkan mengubah arah suara yang merambat. Nah loh ketika angin bertiup, gelombang suara dapat terbawa oleh angin dan menyebar lebih jauh.

Lagi dan lagi, serta lagi bahwa jawaban terdekatnya tetap saja kembali pada virus kutipan perihal adegan film dewasa. Oh my God, betapa murkanya ini akal. Mengapa pula begitu ingin tahu suara rintih itu datangnya bersumber dari makhluk apa, meski arah suaranya sudah dipastikan datang dari rumah tua itu. Apakah aku harus ikut menginap di rumah tua itu, tapi harus punya alasan logis, guna aku bisa diizinkan menginap.

Ah, bagaimana dengan kenyamanan lingkungan? Ya, bisa jadi aku dikepung dan dirundung jika berhasil menginap di rumah tua itu. Bagaiamana tidak? Bukankah penghuni rumah tua itu seorang janda muda yang mantan bunga desa? Hem. Rumit juga jadinya. Ya, tak ada solusi lain yang teraman, selain terlebih dahulu mengajak tuan rumahnya ke pelaminan melati.

Haduh, kian pusing dan linglung saja, bagaimana tidak? Coba pikir: Apakah meminang bekas orang bisa dikatakan sebagai pemulung yang ujung-ujungnya jatuh lagi pada makna kutipan? Nah loh, gara-gara diksi rintih yang ingin aku tahu sumber suaranya dari makhluk apa, jadi bisa rungsing begini.

Renungku di bawah bulan, mengenang bayang parasmu bak pinang dibelah dua dengan pemeran adegan film dewasa. Kenapa endingnya jadi begini? Kita sendiri belum saling mengenal. Engkau sebagai tetangga baru yang mendapatkan warisan mutlak, sebagai cucu kesayangan kakekmu dari pihak ibu. Rumah itu memang sudah lama kosong. Lebih dari 20 tahun.

Kata Rima, kini engkau baru berusia 25 tahun. Berarti rumah itu kosong sejak engkau berusia lima tahun, tapi kok bisa jadi cucu emasnya kakek Darma? Ah, kenapa pula diambil pusing, toh aku tak dirugikan apa pun atas warisan yang engkau dapatkan itu. Keluarga juga bukan. Meski memang ada yang mengganjal, kenapa engkau bisa jadi janda, padahal parasmu sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Bahkan kata cantik pun tak bisa mewakili utuh romanmu itu.

Apa karena gara-gara mirip, sehingga suamimu merasa malu jika mengajakmu bepergian, hingga seringkali dapat bulian dari lingkungannya? Ah, bukankah cinta tak pernah mempertimbangkan untung dan rugi pun dengan hal-hal lain; apa pun itu yang bisa menggangu kenyamanan dalam berinteraksi. Bukankah berdasarkan kabar angin, mencinta itu harus siap dengan dua sisi: baik dan buruk.

Gila! Kenapa jadi memikirkan tentang urusan hidupmu, teman juga bukan. Ah, jangan-jangan engkau yang selingkuh, sehingga suamimu menceraikanmu atau engkau sendiri yang meminta cerai, takut keburu ketahuan, bahwa hatimu sebenarnya berlabuh pada siapa? Bilamana pradugaku ini benar, berarti suara rintih itu datangnya dari mulutmu? Mustahil juga, toh aku dan warga sendiri tidak pernah melihat ada seorang lelaki yang mengunjungimu, paska engkau mengisi rumah tua itu.

Masa iya sih pakai alat bantu? Hem… lagi-lagi jawabannya jatuh pada kutipan adegan film dewasa. Andai kata angin bisa diajak bicara, tentu aku akan bertanya langsung padanya. Sayangnya, angin hanya bisa menyimpan rahasia, tanpa bisa mengabarkan. Meski posisi angin tak ubahnya setan yang selalu kena fitnah. Ya, gara-gara ada kias dari makna kabar angin, meski tak separah setan.

Coba saja bayangkan: Jatuh sendiri, langsung mengumpat: “Setan!” Bahkan, mang Karma sahabatnya kakek Darma, kalau ia tengah marah pada anaknya, tak pernah luput dengan cacian: “Dasar anak setan!” Hebat juga bukan, jika hal itu benar: Berarti istrinya mang Karma itu mantan kekasihnya setan, atau selingkuhan istrinya mang Karma itu setan. Jika demikian adanya, jangan-jangan anaknya yang selalu dihardik “dasar anak setan!” itu sebenarnya genderuwo?

Astaga, ini semua gara-gara angin. Ya, sudah saatnya aku harus menuntut angin ke meja hijau. Mengapa tidak, toh buktinya sudah banyak: Ada angin ada pohonnya. Di atas angin. Berlayar atas angin. Menantikan angin baik. Cakap angin. Ada angin baru dalam percaturan politik. Angin lalu. Angin-anginan. Semuanya sudah aku paparkan bukti-bukti itu, sejak kali pertama tulisan ini kalian baca, iya kan? Jika belum ada yang tercatat, tolong tambahkan, biar lebih otentik dalam membuat laporannya.

Sekali lagi: Jelas sudah, bahwa benakku bisa meracau seperti ini pangkal utamanya itu disebabkan oleh angin yang selalu mengabarkan derit dan rintih ke pendengaranku dari rumah tua itu.

Tapi ngomong-ngomong, siapakah yang jadi pengacara angin? []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *