Jum’at malam tepatnya malam Sabtu, saya menerima pesan WA dari sahabat saya Ibu Satiar Ihfa, sekitar pukul.18.52 WITA, “Innalillahi wainnailaihi Rajiun. Telah berpulang ke Rahmatullah Saudara/ teman kita Bpk Masjidi, di RS Bahteramas, pukul 6.30 selepas magrib dan akan di bawah ke rumah duka di Kendari Permai. Semoga almarhum di terima amal ibadahnya.”
Antar tidak percaya dan percaya. Namun, egitualah kenyataannya. Sahabat bahkan lebih dari sekedar sahabat. Pak Masjidi, kita memanggilnya. Beliau sangat sederhana, tapi dalam sapa sambutnya sangat luar biasa kepada siapa saja yang berkunjung ke Masjidi Galeri; satu-satunya Galeri Seni Rupa yang ada di Kota Kendari bahkan mungkin, di Sulawesi Tenggara.
Ya, pemilik Galeri itu tiada lain Pak Masjidi sendiri yang dikabarkan telah berpulang pada hari Jumat, 6 Juni 2025 pukul 16.30 WITA., setelah menunaikan shalat maghrib. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185). Kelahiran dan kematian memang sudah menjadi rahasia mutlakNya.
Lepas dari hal tersebut, saya mengenal pak Masjidi, sejak beliau bertugas di Kendari sebagai guru seni rupa di SMAN 1 Kendari. Saat itu beliau masih kontrak di samping rumah pak Laode Djagur Bolu, seorang perupa di kota Kendari, juga guru seni rupa di SMAN 1 Kendari, rumah kontrakan mereka hanya terpisah dinding kayu lapis (tripleks). Saya sering berkunjung ke tempat mereka atau sebaliknya mereka berkunjung ke tempat saya hanya untuk berbagi kisah.
Maaf, saya tidak bisa memaparkan keseluruhan kisah persahabatan kami karena terbatas oleh ruang dan waktu kalau mau lengkapnya nanti kita ketemu kita ngopi sambil ngobrol. Disamping itu, ada banyak capaian yang tak bisa saya jabarkan secara utuh, mengingat ingatan memori saya yang terkadang sulit untuk dibahasakan. Singkatnya, setahu saya setelah beberapa tahun kemudian dengan segala daya upaya, pelan tapi pasti berdirilah sebuah ruko di jalan Sao-sao, sebelumnya bernama jalan Saranani.
Dari sepetak tanah yang di tumbuhi ilalang juga beberapa pohon pisang dan tumbuhan liar; sekarang ruko itu berubah fungsi menjadi Galeri Seni Rupa, karena rasa keprihatinan beliau terhadap kehidupan seni rupa khususnya di kota Kendari. Namun, apa hendak dikata saat beliau sedang merampungkan tempat itu musibah datang menyapanya, beliau terkena stroke ringan juga diabetes. Bahkan, beliau kini telah meninggalkan kita; Pulang, ke kampung halaman sejati.
Selamat jalan sahabat terbaik, Allah sudah menunggumu. Di sini kami hantarkan kepergianmu dengan bibarokati ummul qur’an, Al Fatihah. []









