DIALEKTIKA MEMBACA

DIALEKTIK

Selama ini saya tidak pernah mendengar bahwa puisi tak dapat lagi ditulis. Ya, tidak ada lagi tanda-tanda sama sekali. Namun jika tak menghiraukan cara pengucapannya, sebesar apa pun kesadaran dari kehidupan yang dituliskan maka kemaknaannya terasa hambar.

Tentu saja hujan turun dari langit. Namun untuk menuliskan hujan turun dari langit menjadi sebuah puisi perlu imaji. Hujan merindu bumi. Jarum-jarum langit. Rayap hujan menjengkali lingkar bumi. Seperti itulah gambaran singkatnya yang sering kita baca dalam sebuah bait sajak atawa puisi.

Rasanya kita pernah bertemu. Lantas ada pameran diksi yang dipajang dalam baris-baris puisi. Jadi bukan sekadar komposisi atau instalasi kata-kata saja. Begitulah kiranya dari jejak sang pembaca yang mana dalam benaknya seakan-akan sedang belajar membuat kerusuhan:

Layakkah disebut puisi? Tetapi tak bisa bertahan lama dalam menimbang. Kontaminasi. Hegemoni. Stereotipe ikut menyerang pikirannya. Maka yang terjadi tidak ada harga mati dalam pasti. Layak pembeli selalu menawar dengan harga yang rendah, tanpa mau tahu biaya produksi.

Inilah yang sering terjadi dalam hasil jejak baca, pembaca bisa begitu mudah meninggalkan harga kata-kata yang sudah dirakit-susunkan dalam sebuah bentuk sajak atawa puisi. Hal ini berkait erat dengan kekayaan imajinasi dan nuraninya yang didompleng dengan kebutuhan egosentrisnya.

Kesempurnaan makna kata-kata akan porak-poranda dengan seketika. Tangannya menjadi wakil pikirannya yang kembali menuliskan bantah dalam rupa kritik dengan ragam bantah hasil dari kutipan teori yang pernah dibacanya itu adalah matahari yang menunjang kebutuhan egosentrisnya.

Bayangkan: Bukan berarti kritik itu tak penting. Sebab di dalam sajak atawa puisi itu akan bisa kita temukan sebuah sungai yang berkecipak seperti kawanan ikan, jika kita membacanya dengan pikiran jernih dan santai, guna bisa menuju sebuah dunia yang tak terduga dalam peta.

Ruang pikir itu tak ubahnya asbak yang dipenuhi titik-titik hitam bekas sulutan orang mematikan rokok. Namun masih nampak semburat warna aslinya bagi pembaca yang berhati besar dan siap untuk paham, kala memaknai maknanya lewat diksi atawa kata-kata yang dipilih oleh penyairnya.

Dengan kata lain, sajak atawa puisi kala dibaca mampu memasuki lorong misteri alam serta misteri peristiwa kehidupan manusia yang diwakilkan dari diksi atawa kata-kata yang dipilih oleh penyairnya, meski dengan gaya prosa bahkan prosaik sekalipun itu tetap hadir dalam kesunyataan rasa.

Baik dan buruk bukan lagi patron, sebab dalam filsafat, konsep “baik” dan “buruk” seringkali dipandang sebagai pasangan oposisi biner yang juga sekaligus pasangan harmonis, yaitu dua konsep yang saling bertentangan dan membentuk kerangka pemahaman. Meskipun tampak sederhana, hubungan antara keduanya dalam filsafat kompleks dan telah menjadi subjek perdebatan panjang.

Pada akhirnya apa yang saya tuliskan di atas bukan berlaku untuk sekadar membaca dan atawa pembacaan sajak atawa puisi saja, melainkan untuk membaca dan atawa pembacaan apa pun baik yang tersirat pun tersurat, yang memerlukan pemahaman lebih dalam. Keduanya dapat diperoleh dengan memahami keseluruhan isi bacaan. []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *