Kau tahu: Perselingkuhan politik, selalu terjadi di atas karpet merah. Sebab, di balik kemewahan dan kekuasaan, tersembunyi intrik dan pertarungan antara kepentingan-kepentingan yang berbeda. Karpet merah ini tak ubahnya seekor ular yang sedang tidur dan memainkan irama mimpi yang membuat rakyat menari-nari di jalan.
Namun pada kesunyataannya karpet itu akan berwarna merah karena akan berdarah-darah, bukan akan ada karpet merah buat pemimpin baru. Dan kau pun harus tahu, bahwa napasmu telah memasuki babak baru dalam permainan politik, di mana tidak ada yang benar-benar serius dan semua hanya permainan.
Akan tetapi aku tidak tahu apakah kau siap untuk babak ini, tapi aku pastikan bahwa kau akan terus bermain, karena tidak punya pilihan lain—menjadi sebuah reality show politik yang tidak pernah berakhir dengan tagline: Pahlwan Rakyat. Menarik bukan? Ya, sebab karpet merah itu simbol dari kekuasaan dan kemewahan yang tak akan pernah habis-habisnya dibicarakan oleh segenap elemen bangsa.
Dan rakyat adalah konsumen utamanya. Padahal kekuasaan dan kemewahan yang sesungguhnya itu ada di genggaman tangan rakyat, tapi mereka terpaku dalam kunci. Aneh bukan? Seperti di ruang pikirmu kini suara-suara aneh dan tidak masuk akal kian meraja laju bersemayam di palung rasa. Seperti asap merah yang mengusir putih. Lama-lama menghitam.
Kiri dan kanan bukan lagi tolok ukur, sebab Acintya tidak pernah mencampuradukkan antara yang hak dan batil. Musabab itulah, sekali lagi: Sebenarnya karpet itu akan berwarna merah karena bakal berdarah-darah, bukan karena bakal ada pemimpin baru. Sebab, perselingkuhan politik, selalu terjadi di atas karpet merah.
Dari itulah, mengapa aku berani berkata, bahwa; di balik kemewahan dan kekuasaan, tersembunyi intrik dan pertarungan antara kepentingan-kepentingan yang berbeda. Karpet merah ini tak ubahnya seekor ular yang sedang tidur dan memainkan irama mimpi yang membuatmu menari-nari di jalan kemenangan semu.
Dan kini napasmu telah memasuki babak baru dalam permainan politik, di mana tidak ada yang benar-benar serius dan semua hanya permainan. Namun aku tidak tahu apakah kau siap untuk babak ini, tapi aku pastikan bahwa kau akan terus bermain, karena tidak punya pilihan lain—menjadi sebuah reality show politik yang tidak pernah berakhir dengan tagline: Pahlwan Rakyat.
Menarik bukan? Ya, sebab karpet merah itu simbol dari kekuasaan dan kemewahan yang tak akan pernah habis-habisnya dibicarakan oleh segenap elemen bangsa. Dan rakyat adalah konsumen utamanya. Padahal kekuasaan dan kemewahan yang sesungguhnya itu ada di genggaman tangan rakyat, tapi mereka terpaku dalam kunci.
Aneh bukan? Seperti di ruang pikirmu kini suara-suara aneh dan tidak masuk akal kian meraja laju bersemayam di palung rasa. Seperti asap merah yang mengusir putih. Lama-lama menghitam. Satu hal yang harus kau ingat, bahwa: Kekuasaan dan kemewahan tidak bisa menjadi tujuan akhir. Kau harus mempertimbangkan dampak dari setiap tindakan dan keputusan politik yang diambil.
Dan kau harus mampu mempertahankan integritas dan tanggung jawab dalam setiap langkah politik yang diambil. Karena pada akhirnya, yang akan menentukan adalah kebenaran. Dan kebenaran tidak bisa disembunyikan oleh karpet merah apa pun, sebab Acintya tidak pernah mencampuradukkan antara yang hak dan batil.
Dan ingatlah selalu, bahwa: Ada standar moral yang lebih tinggi, yang mengatur prilaku, termasuk ranah politik. Dan itu berarti, tidak bisa sembarangan dalam membuat keputusan dan tindakan politik. Musabab itulah Raqib dan Atid senantiasa ada di sisi kanan dan kiri, di mana pun berada. Kau tahu: Siapa yang mengubur benar, senantiasa akan kembali menggali dan terus menggali. []









