SEBATAS SEBELUM LUNAS
Kebenaran tidak ada di bawah meja dengan todongan pistol mengarah pada lawan
Melainkan kemerdekaan diatasnya berkawan
Berargumentasi keluasan arah
Saling melingkar pada tujuan
Melahap hidangan penuh nikmat
Walau kebenaran relatif dan sementara
Setidaknya gapaian nyaris mendekat
Sejengkal maupun sedepa tidaklah penting
Semua minim dalam kebenaran
Hak prerogatif ada diketeraturan gelap massive
Tempat keterbatasan meja tidak cukup mengklaim
Dan ruangan luas tidak bisa dijamah
Walau massa berjamaah se-iya se-kata
Ruangan lapis-berlapis punden berundak
Hidup ada di kepala beda pada setiap kepala
Ruang lingkup jadi hanya semata lapang di dada
Batas di laga sendiri cukup untuk berdaya
Satu sama lainnya hanya upaya melengkapi
Kurang lebih itu memang manusia
Bila ada rasa jumawa di dada hanya pencari yang buta
Tidak membaca batas cahaya
Luas gelap keteraturan kapan terungkap
Tetap dalam koridor pencarian mengungkap
Walau bisa saja waktu berubah sikap
Membuka segalanya sekejap
Semua ada tempat untuk merapat
Pada yang bernama zat
Sudahlah dan teruslah menggeliat
Sampai maut menyayat mayat
Siapa tahu diberi tempat si empunya hajat
Walau hanya sebatas tikar lipat
Cukup bagi yang tidak punya tempat
Bandung, 482025

PUISI Ayie S Bukhary
KITAB SUCI NEGERI JANJI :
Ini tentang kita jauh dari sejahtera
Tertindas saudara si angkara murka memamah biak hak dasar kita
Hingga tidak berdaya mengepal jaya
Kita adalah cerita nyata dari bangsa yang kerap bicara telah merdeka
Ini memuncak di kepala dan dada tidak berdaya diinjak bota rekayasa
Kita pemilik negeri bukan pewaris nyeri
…
Bandung, 382019

PUISI Husni Hamisi
MEMBUKA BAB
Jangan terlalu cepat berubah seperti membuka halaman
Celaka akan menyertai berkepanjangan
Perangkat tubuh akan menegang
Melebihi kemampuan terjang
Sekujur tubuh akan mengalami lumpuh
Dan tenaga hilang tempuh
Sesuaikan langkah dengan batas tubuh
Tahapan adalah keteraturan
Melompat bila keadaan tepat
Jarak tangkap harus didapat
Baru santapan akan terasa lezat
Banding, 282025

PUISI Diro Aritonang
DIARY
Semata Mata hanya journal sebagai langkah tolok ukur sendiri
Bukan narsistis verbal
Atau nenek yang cerewet dengan lengkingan suara tinggi
Bukan !
Ini bukan cermin buat yang mencari bayangan di balik kelebihan
Ini perjalanan yang dipersonifikasi untuk sendiri
Dimengerti sendiri sebagai catatan sampai sejauh mana sikap menerima fenomena yang terjadi dan dibaca
Lalu menafsir dengan bahan yang diterima
Tidaklah melibatkan emosi pecermin
Melulu membaca gejolak sendiri
Kesunyian khas sendiri
Ruang lingkup sempit biarlah
Bila ada yang terprovokasi
Itu terlepas dari pengais journal
Sebuah cinta dari perjalanan yang menyadari kekurangan di garis bawah
Untuk menyikapi hidup melipat jumawa
Ini hanya journal membaca batas sampai di mana
Sejengkal dan sedepa semata-mata kemampuan batas mengeja
Yang jauh dari khatam membuka halaman
Bandung, 282025

PUISI Rachman Sabur
KEMBALI MENUJU ZAMAN BATU
Masalah kerja kita kalah dengan robotika
Jauh ke depan melebihi dari ekspektasi
Entitas yang kalah berjubel dengan lidah menjulur
Membawa sertifikat pendidikan akhir
Pemuda dengan beban jargon demografis
Mati sebelum maut mencabut
Segelintir teknisi cukup mengutak-ngatik
Menyetir laju pengendali
Produktivitas meningkat berlipat
Nilai guna berusia pendek
Seperti kutu mati kaku
Berakhir pada limbah produksi massal
Sementara generasi lima puluhan berbatas milenia pada sepuh
Waktu menggiring kembali pada gua-gua zaman batu
Dimana individu-individu saling berburu sebelum lahir nabi baru
Bandung, 3172025-182025








