Babak 1.
Siang hari. Ruang keluarga.
Ibu: anak kita sudah mulai besar, kang. Aku khawatir pada masa depannya.
Bapak: justeru kitalah yang harus dikhawatirkan itu!
Ibu: maksudnya?
Bapak: sudah bau tanah.
Ibu: kebiasaan. HENING. akang kan tahu sendiri, akhir-akhir ini ia semakin menunjukkan kelainan.
Bapak: kelainan bagaimana?
Ibu: biasanya anak kita begitu giat membantu pekerjaan yang telah kita lakukan secara turun temurun, tapi sekarang ia telah menampakkan gelagat yang berbeda.
Bapak: anak kita tidak seperti kita, nyi. Ia punya cara dan dunianya sendiri. Lagi pula, kita juga tidak pernah tahu, seperti apa zaman yang akan dihadapinya di masa depan.
Ibu: yang paling aku khawatirkan adalah bagaimana jika nanti anak kita tidak mau lagi merawat apa yang pernah kita bangun bersama.
Bapak: bukankah selama ini kita telah membekalinya?
Ibu: tapi, keadaan yang ada di sekeliling anak kita sudah tidak mendukung lagi pada apa yang telah kita wariskan, kang. Kau sendiri telah melihat bagaimana kawan-kawannya. Dan kukira anak kita juga tidak jauh berbeda dengan mereka.
Bapak: ibu harus yakin bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya!
Ibu: tapi lingkungan mempengaruhi, pak.
In frame. Anak masuk dengan tergesa
Anak: ambu. abah. Aku pergi dulu.
Bapak: mau ke mana?
Anak: biasa, kumpul-kumpul.
Bapak: boleh abah minta waktu?
Anak: maaf abah, aku terburu-buru. PERGI.
Ibu: benar, kan, apa yang ambu katakan? Sekarang sudah berani membantah!
Bapak: jangan berpikiran seperti itu nyi, barangakli ada hal penting.
Ibu: abah selalu saja membela, tidak pernah mengerti perasaanku.
Bapak: ah, itu hanya perasaan nyai saja.
Ibu: abah, sih, jarang ada di rumah. Contohnya, setiap pulang kuliah, aku tidak pernah melihat dia menghafal, tapi nilai ujiannya selalu bagus. Aku curiga.
Bapak: siapa dulu abahnya.
Ibu: bisa sereius gak sih, kang?
Bapak: jangan terlau waswas berlebihan.
Ibu: masalahnya itu hati seorang ibu tidak bisa dibodohi!
Babak 2
Malam hari. Ruang keluarga.
Ibu: anak kita belum juga pulang, kang!
Bapak: sudah dihubungi?
Ibu: gawainya tidak aktif.
Bapak: berpikir positif saja.
Ibu: mestinya ia pulang, kang.
Bapak: mungkin sedang ada kegiatan lain yang tak bisa ia tinggalkan.
In-frame. Langsung masuk menuju ruang lain.
Ibu: kau dari mana saja, nak.
Anak: biasa. Maaf, abah, ambu aku butuh istirahat, cepat.
Bapak: biarkan ia beristirahat, nyi.
Ibu: kau terlalu memanjakannya, kang.
Bapak: kau pun terlalu berlebihan, nyi, seolah kau tak memercayainya.
Ibu: kita mestinya bisa merencanakan dengan matang masa depan untuknya, kang.
Bapak: bukankah dengan kita menyekolahkan anak kita di sekolah terbaik itu sudah bagian dari rencana.
Ibu: itu belumlah cukup, kang.
Bapak: lalu apa lagi yang harus kita lakukan.
Ibu: bisakah kau sediakan saja apa yang akan anak kita lakukan di masa depan.
Bapak: sediakan bagaimana maksudmu?
Ibu: bukankah akang punya banyak teman dekat yang bisa memberikan kepada anak kita pekerjaan yang menjanjikan, kang?
Bapak: aku ragu kalau mereka masih mengingatku sebagai teman. Kau tahu sendiri, bahwa kepentingan seringkali membuat siapa pun lupa.
Ibu: kau sendiri kan belum mencobanya untuk menghubungi mereka, kang.
Bapak: lagi pula, kita kan masih punya tanah untuk digarap, nyi, dan bukankah kerajinan tangan yang biasa kau buat juga itu merupakan garapan yang cukup menjanjikan untuk anak kita?
Ibu: kau tahu sendiri, kang, berapa harga dari kerajinan tangan dan berapa harga dari hasil tanah yang kita garap? Lagi pula, bukankah tanah warisan yang kita miliki saat ini juga tinggal sedikit?
Bapak: tanah warisan yang kita miliki masih banyak dan luas, nyi.
Ibu: banyak dari mana, kang?
Bapak: masih banyak, nyi. Tapi Sebagian besar telah kusewakan untuk digarap orang lain.
Ibu: kalau benar tanah warisan yang kita miliki telah kau sewakan, mengapa kita masih hidup susah seperti ini, kang?
Bapak: kau tak perlu mengeluhkannya, nyi, selama tanah kita masih ada yang memanfaatkannya, kita semestinya bersyukur, toh anak kita juga belum tentu sanggup menggarapnya.
Babak 3.
Siang hari. Ruang keluarga.
Ibu: kang, anak kita masih belum juga bangun.
Bapak: wajar nyi, kan pulangnya juga sudah larut malam.
Ibu: akang selalu tidak mengerti perasaanku!
Bapak: justeru, semalam pun akang kepikiran. Jika melihat dari raut mukanya anak kita, tapi akang pikir itu hal yang biasa disebabkan capek.
Ibu: tapi ada yang beda dari lingkar bola matanya, kang
Bapak: akang juga berpikiran seperti itu.
Ibu: kita harus cari tahu.
Bapak: kemana?
Ibu: mau tak mau kita harus jadi intel.
Bapak: kayak di film-film itu?
Ibu: iya. Bahkan harus lebih dari itu! HENING. selalu saja tidak serius!
Bapak: SENYUM. meskipun cemas, kita tidak usah terlalu larut, bu!
In frame.
Anak: ambu. Abah. Aku pergi kuliah dulu.
Bapak: bukankah ini hari minggu?
Anak: anu. maksudnya ada kerja kelompok!
Bapak: jadi kapan ada waktu?
Ibu: iya, sarapan juga belum mau terus berangkat saja! tunggu, ibu ambilkan.
Bapak: ya. Sambil sarapan kita ngobrol.
Anak: memangnya apa yang ingin abah dan ambu bicarakan?
Bapak: duduklah dulu sebentar, nak.
Anak: aku masih banyak tugas kuliah yang harus lekas kuselesaikan, abah.
Bapak: apa abah tidak tahu, nak, bahwa saat ini, orang-orang bisa mengungkapkan jalan pikirannya tanpa harus berpikir. Apa abah tidak tahu, bahwa saat ini banyak orang pandai yang tak pernah benar-benar berpikir.
Anak: zaman sudah berbeda, bah.
Bapak: iya, apa itu semua tak membuatmu merasa terlena.
Anak: kami punya cara untuk memanfaatkan semuanya, bah.
Bapak: lalu bagaimana dengan tanah warisan kita, mengapa akhir akhir ini kau seperti tak mau lagi menggarapnya. Dan bagaimana pula dengan kerajinan tangan yang sering ambumu buat. Mengapa kau juga tak mau lagi membantu untuk membuat dan menjualnya?
Anak: semua sudah berubah, pak. Sudahlah, pak. Aku sudah kehabisan waktu. BERANJAK PERGI.
Sountrak & In frame. Ibu masuk mebawa sepiring makan.
Ibu: anak kita ke mana kang?
Bapak: pergi!
Ibu: terus ini makanan?
Bapak: Salah sendiri, pakai memasak dadakan segala.
Ibu: maksud ibu memasak masakan kesukaanya itu biar betah untuk diajak ngobrol.
Bapak: nasi sudah menjadi bubur. Sinih, abah habiskan.
Ibu: terus masalah anak kita bagaimana bah?
Bapak: kita harus benar-benar jadi intel. Kalau perlu menyewa orang.
Ibu: baru percaya, kan?
Bapak: sedikit.
Ibu: baguslah. Seratus kurang satu rupiah pun ngaruh!
Babak 4.
Sore hari. Ruang keluarga.
Pemuda: Dimulai dari kecerdasan buatan dan lain-lainnya itu semua imbas dari perkembangan zaman dalam dunia industri teknologilah pangkal semua kekacauan itu terpusat.
Bapak: gawat.
Pemuda: bahkan lebih dari gawat!
Ibu: tenang saja, kang, anak kita pasti mampu mefilternya, seperti nyai!
Bapak: tumben bisa mikir positif?
Ibu: iiigh, kenapa sih aku ini selalu saja salah dihadapanmu, kang!
Pemuda: maaf, bolehkah saya memvlogkan adegan ini?
Ibu & Bapak: maksudnya?
Pemuda: adegan debat seperti ini sangat berpengaruh dalam perkembangan psikologi anak. Dan vlog bisa menyebarluaskannya untuk ditiru.
Ibu & Bapak: Vlog? Vlog itu apa? Apakah sejenis virus baru?
Pemuda: persis.
Ibu & Bapak: semacam covid?
Pemuda: jauh lebih ganas.
Ibu & Bapak: maaf, kami ini orang kampung. Terangkanlah semengerti mungkin.
Pemuda: BERKATA-KATA PANJANG LEBAR, SAMBIL TERUS MEREKAM DENGAN GAWAINYA, TETAPI TIDAK ADA SUARANYA. Cukup sekian kuliah hari ini sodarah-sodarah!
Ibu: walah… ternyata menjadi artis itu sangat mudah ya pak, tinggal aplod.
Bapak: MENATAP IBU. LAJU MENATAP PEMUDA. BERBICARA PADA PEMUDA. Zaman memang sudah berubah. Bayak rahasia yang sebetulnya bukan lagi rahasia!
Pemuda: mengerikan! By the way atawa ngomong-ngomong, kapan saya menerima honor dari ambu dan abah. Soalnya adalah tugas saya sudah selesai dalam menguntit.
Bapak: masih ada tugas baru. Kamu harus mampu jadi teman dekatnya!
Pemuda: wow… it’s amazing, I’m gate to married your child?
Ibu & Bapak: artinya?
The end.









