Penyair tidak mencipta
Sajak dari ketiadaan dari
Mimpi-mimpi kosong
Ia pendaki puncak batin
Desah nafasnya
Nyanyian kehidupan
Yang menjelma puisi
Lebih kekal dari batang
Usianya yang rapuh
Dipangkas waktu!
(NURANI, Doni Muhamad Nur, 1996)
Mengawali hari dengan membaca puisi. Ada banyak narasi yang bisa saya cerna. Meski terkadang rumit untuk membaca misterinya. Kedalaman bahasa yang begitu beragam menjadikan kaya dalam makna dan pemahaman. Diakui atau tidak, disamping karya sastra, puisi itu anak batin nan mistik, yang memiliki kemampuan untuk mengungkapkan pengalaman, pikiran dan perasaan manusia dengan cara yang unik dan mendalam.
Puisi bukan sembarang jadi. sebab ia harus melewati diksi-diksi yang dipilih dengan cermat, guna emosi terbangun dalam membangkitkan kesadaran, hingga mampu mengubah perspektif pembaca. Sebab letak daya puisi itu mampu mengungkapkan apa yang tak dapat diungkapkan dengan narasi biasa. Dalam puisi mampu memuat kompleksitas perasaan, seperti ; sedih, gembira, rindu, dan lainnya dengan bahasa ungkap yang lebih mendalam dan personal.
Disamping itu, puisi dapat membangkitkan perihal kesadaran terkait isu-isu, baik politik, lingkungan, sosial, sampai mampu membangkitkan kesadaran tentang pentingnya keadilan dan kesetaraan. Sebagaimana quotes Jhon F. Kennedy “Jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Jika politik bengkok, sastra akan meluruskannya.” disitulah salah satu letaknya daya tenung puisi berada, sebab puisi bukan sekadar seni kata belaka.
Uniknnya lagi dalam merakit puisi memiliki berbagai bentuk dan struktur, mulai dari diafan hingga gelap. Mulai dari soneta hingga free verse. Mulai dari haiku hingga sonian. Mulai dari pantun hingga kontemporer. Terlalu banyak untuk disebutkan. Tegasnya itu bentuk puisi dan struktur puisi dapat memengaruhi makna dan efek puisi, yang berimbas mampu membangkitkan perasaan dengan ragam emosi.
Disamping itu merakit puisi juga bisa menggunakan berbagai teknik, seperti enjambemen, metafora, simile, dan aliterasi guna meningkatkan daya dan keindahan puisi. Selama saya menggeluti puisi, nyata sudah bahwa merakit puisi itu mampu jadi wahana refleksi diri yang lebih mendalam dari empirisnya. Hingga memungkinkan saya untuk lebih leluasa dalam mengungkapkan perasaan dan pikiran yang tak dapat diungkapkan dengan cara lain, selain via imaji.
Hal itu semua tentu saja bisa terjadi dan dapat menjadi cara dalam memproses pengalaman dan emosi, serta imaji yang membangkitkan kesadaran perihal laku diri dan dunia sekitar. Maka wajar, jika banyak kritikus sastra berkata bahwa puisi merupakan bentuk sastra yang unik dan mendalam, dikarenakan ia (puisi) merupakan ritus batin yang terus tumbuh dalam jiwa yang hidup, sebab ia memiliki kemampuan untuk mengungkap perasaan, pikiran, dan kehendak dari empiris jiwa yang hidup dengan cara yang tak terhingga.
Sebagaimana Acep Zamzam Noor (AZN) menulis dengan bait-bait liris yang kental dengan imaji:
Puisi menugaskanku untuk mendengar
Setiap lolongan anjing disepertiga malam
Ketika orang-orang sekampung tertidur lelap
Dibuai mimpi. Kemudian puisi memerintahku
Untuk menerjemahkan lolongan tersebut
Menjadi sebuah paragraf perihal rindu
Apa yang dituliskan AZN, jelas sudah bahwa menulis puisi itu bagian dari tugas kemanusiaan, bagi yang berpikir. []









