Pusing dengan ragam pemberitaan yang itu-itu saja, seakan tidak ada lagi yang lebih layak untuk diorbitkan para pewarta. Tradisi mengoplos yang jadi produk oplosan kembali marak dalam momok warung kopi. Memang benar adanya bahwa produk oplosan sangat berbahaya bagi kesehatan jiwa dan raga. Adakah ini semua hasil dari jejak baca kaum oposan, sehingga kembali mencuat ke permukaan, yang nyatanya tak pernah bisa membereskan prihal oplosan dari kabinet ke kabinet?.
Jelasnya apa yang saya dapati di lapangan baik nonton pemberitaan atawa obrolan warga sekitar, tak ada hubungannya sedikit pun dengan kaum oposan. Bukankah pepatah berkata : seorang wali hanya bisa dikenali oleh wali itu sendiri?. Sementara saya hanyalah kaum jelata, bagaimana mungkin bisa mengenal kaum oposan?. Ngomong-ngomong tentang oposan, baik juga untuk kendali kekuasaan.
Tapi apakah masih ada?. Ngapain juga dipikirkan, meski hal itu begitu penting untuk dijalankan dalam mengisi ruang kemerdekaan. Konon, katanya; para cendikia pun banyak yang dipenjarakan kala menjadi oposan, apalagi saya yang tak punya kekuatan?. Mimpi wisata ke Berlin pun baru mampu sebatas ingin.
Ya, Illahi Rabbi, kabulkanlah mimpi-mimpi hamba, biar esok hari negeri ini bisa aman, damai dan sentosa, sehingga sejahtera dan saya pun bisa mengisi lowongan kerja. Sehingga gaji ketiga belas akan dipakai wisata, sebab gaji pertama harus bisa dinikmati oleh ibu dan bapak. Sementara untuk gaji kedua akan dipakai berumah tangga, itu pun kalau ada yang siap jadi calon mitoha.
Namanya juga mimpi. Bolehkan?. []









