Ada detik yang pergi di setiap bunyi akusmatik. Ada yang lahir. Ada yang mati. Semua itu tetap saja berhubungan dengan detik yang lepas. Lantas, ke mana kita akan pergi?. Ke mana pun kita kembara, tak bisa mengurung detik yang terus beterbangan dari sisa usia. Sampai tulisan ini pun dituliskan, turut serta membebaskan detik.
Siapa yang bisa menahan laju detik? Pertanyaan klise ini tentu saja tak memerlukan jawaban. Mutlak sudah bahwa kesunyataan merdeka itu ada pada detik. Sebagaimana aku mencintaimu, sudah berapa juta detik yang aku berikan dalam menyalurkan segenap rasaku kepadamu?. Detik. Berdetik. Mendetik. Detikan. Detik-detik.
Bicara detik: Bicara tentang segala hal: Dari mulai logis sampai mustahil. Dari mulai yakin sampai tahayul. Dari mulai awal sampai akhir. Dari mulai lahir sampai jadi sejarah. Dari detik ke detik menuju detik; begitu dan begitu—terus begitu. Detikan kalbu getaran hati adalah detik-detik yang mendebarkan: Kita hanya memerlukan waktu lima detik untuk berpelukan dalam melunaskan rindu.
Sebagaimana kita hanya cukup bertemu dalam durasi detik untuk menuntaskan ragam masalah dalam ikatan mufakat. Sebagaimana haus di bulan puasa, cukup sekali teguk dengan durasi lima detik saja, hilang sudah segenap rasa dahaga. Adakah detik itu makhluk ataukah setiap makhluk diberi jatah detik? Bisa jadi keduanya benar. Adakah detik itu fana, sementara Tuhan tidak memiliki sifat fana karena Dia Maha Kekal?.
Mengapa pula makhluk senantiasa mempertaruhkan detik dalam setiap momentum?. Sepertihalnya singa yang siap menerkam mangsa. Sepertihalnya ular yang siap mematuk. Sepertihalnya dokter yang mengambil tindakan. Sepertihalnya hakim yang mengetuk palu. Sepertihalnya biji yang melahirkan tunas. Sepertihalnya kayu lapuk yang menumbukan jamur. Sepertihalnya kita yang terancam.
Dengan kata lain, bisakah detik dikata lebih dekat kepada suara kecemasan?. Adakah detik itu waktu ataukah detik itu bagian dari waktu?. Lantas hubungannya dengan masa?. Jika detik, waktu, dan masa itu sebagai padanan atau sinonim, lantas bagaimana dengan sekon? Mungkin lebih tepatnya itu dalam detik menyimpan sekon. Dalam waktu mengandung detik. Dalam masa ada waktu.
Dan sekon ada di dalamnya, mewujud pisau yang mengiris usia tanpa terlihat. Usia seperti ligar mawar di musim penghujan, tapi siapa yang akan mencintainya ketika mulai layu dan membusuk? Barangkali, inilah alasan Tuhan yang berkalam secara khusus dalam surah Al-‘Asr : Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.
Dalam kalamNya tersebut, ada sesuatu yang menarik sekaligus menyedihkan tentang orang-orang. Sementara di panggung realita, orang-orang lebih senang dalam makom bantah. Jika demikian adanya : siapakah dan dimanakah makomnya manusia dalam hasil irisan usia yang pisaunya tak terlihat itu?. []









