Hampir di setiap ruang, elemen, ataupun ranah dalam formal maupun non formal ataupun tidak formal dan tidak non formal membicarakan sesuatu hal yang sebenarnya hanya melingkar pada permasalahan itu-itu saja.
Katanya sih biar tertata, makanya yang harus dilakukan adalah memahami penyebabnya dahulu. Okelah itu hanya sebagai muqadimah ga apa-apa, yah karena memang sudah aturan fiqihnya juga memang benar demikian. Sistematikanya juga jelas begitu ko. Lantas permasalahannya di mana?
Coba deh cermati dan lebih jeli lagi: Pernahkah merasakan dalam setiap curhatan atau setidaknya ketika anda merasakan jatuh sakit entah itu karena cinta ataupun penyakit disebabkan virus. Apakah yang anda lakukan? Pergi ke dokter kan? Berangkatnya ke dokter adalah upaya dari penyembuhan, entah itu adalah dokter cinta ataupun dokter kesehatan.
Proses mediasi, berdiskusi dengan dokter tidak membutuhkan waktu lama bukan? Selanjutnya menyuruh kita dengan berbagai macam anjuran. Coba deh bayangkan apabila kita menemui seorang penderita sakit juga apa yang akan terjadi? Paling juga membicarakan sebab-akibat dari penyakit yang dirasakannya dan lebih hebat lagi tidak akan mampu menyembuhkan?
Kalau hanya dengan berbuat demikian parahnya bukan menyembuhkan tetapi akan menambah sakit akibat terlalu banyak ngaler ngidul. Lebih jelasnya, tidak ada upaya di sana yang ada hanyalah semata-mata mencari teman untuk merasakan hal yang sama.
Dalam kasus seperti diatas tentulah bukan perkara sulit. Bukan untuk mengakui tentang penderitaan diri kita sebenarnya, kita mampu dengan lantang bisa menyatakan kita sakit dan terluka bahkan ajaibnya pengakuan tidak dibutuhkan pun sering kali direkayasa disuarakan untuk memenuhi alasan tertentu.
Namun untuk kasus lain, kita tidak pernah sanggup menyebutkan diri kita sebenarnya. Kita enggan menemui yang kita butuhkan seharusnya. Kita sukar mengakui diri kita bodoh, kita tidak pula bisa mengatakan bahwa kita gila, bahwa kita kotor bahwa kita busuk bahwa kita hina dan sebagainya. Tidak sangguplah mengumumkan bahwa sesungguhnya kita rendah serendah-rendahnya. Tidak ada yang perlu juga yang harus dibanggakan tidak juga ada yang perlu diistimewakan.
Kesibukan kita hanyalah pada posisi itu, sibuk menjadikan diri kita menjadi dan menjadi yang tidak seharusnya dilakukan. Sibuk menjadi sorang pegawai, sibuk menjadi seorang dokter, sibuk menjadi seorang ilmuan, pakar, komentator bahkan kita sibuk menjadikan diri kita untuk mendekati status nabi dan rosul, yang merasa mendapat petunjuk dan merasa paling dekat dengan Tuhan serta yang lebih ngeri lagi mencoba menjadi Tuhan dengan men-judge, memfatwakan, mengadili, menghakimi. Posisi kita ada di mana yah?
Hubungannya dengan judul diatas adalah tidak lain menemukan kewajiban kita. Mengapa kewajiban? Bukan kesunahan, kemubahan, kemakruhan, atau keharaman? Alasannya, karena kewajiban adalah sesungguhnya kebutuhan. Maka Tuhan menjadikannya hal yang wajib. Buat apa membicarakan hal lain, yang lain cuma toh penunjang saja. Tidak perlu mencari debu dan tanah, kalau toh air itu tersedia begitu banyak buat menyucikan dengan berwudlu. Tidak perlu makan daging babi kalau daging ayam, sapi dan kerbau masih tersedian Logikanya begitu kan?
Masalah yang sedang dihadapi saat ini adalah mengenai itu. Setiap ranah mementingkan sunah dibanding wajib, setiap ruang memperbanyak memakruhkan diri daripada mewajibkan, setiap tatanan berbondong-bondong mengharamkan diri daripada mewajibkan. Entahlah! Apa yang sesungguhnya ingin ditemukan kalau semuanya berasumsi? Entah apa yang akan terjadi kalau yang mendominasi adalah opini?
Dibuka dalam musyawarah untuk menyelesaikan masalah. Menemui kata mufakat kan? Tetapi yang kebanyakan terjadi adalah bukan musyawarah untuk mufakat, melainkan hanyalah adu bacot. Ilmuan disetiap bidang dihadirkan. Dari mulai penjaga gawang sampai official pun ikut andil. Akan tetapi, bukan untuk membantu kekuatan formasi sebuah tim, malah pacoro kokod.
Posisi penyerang malah jadi bek, penjaga gawang malah jadi striker dan seterusnya. Lah ini tuh sebenarnya mau mengalahkan lawan apa mau meremehkan lawan apa mau menghancurkan skema formasi penyerangan? Apa jangan-jangan mereka tidak tahu kalau sebenarnya sedang main bola yah? Atau pura-pura tidak paham saja? Apa jangan-jangan ada calciopoli? []









