Semua yang kuyakini sejak lama, dan keyakinan yang ku istiqomahkan dari dulu kala lambat laun kurasakan hasilnya. Meski kenyataannya perjalananku masih sangat panjang. Namun setidaknya sedikit-sedikit bisa nyicipi. Memangnya kalau kita nanam durian, bakal dimakan semuanya kalau sudah bisa dipetik buahnya? Paling juga nyicipin sedikit kan?
Aku tersadar, jika setiap benih yang sengaja kutanam, tak pernah mau tumbuh karena aku tahu bahwa aku enggan untuk merawatnya, sebab pengetahuanku terhadap mekanisme merawat itu belum aku ta’rifi tenanan. Namun, berangsur-angsur rasa sesakku terhadap kemalasanku itupun harus aku labrak, sebab tak mungkin aku mencapai suatu tujuan tanpa aku melewati dahulu rangkaian suatu perjalanan itu terjadi. Mi Instan saja harus dimasak dulu, apalagi harus buat mie-nya dulu.
Perlahan aku kumpulkan komponen yang sudah jadi kerangka-kerangka atau partisi, ataupun yang masih partikel yang sejak dahulu sengaja aku simpan, atau bahkan Allah hadirkan tanpa pernah aku tahu untuk apa itu diperkenalkan kepadaku. Mekanisme penyusunanku menggunakan pola tadris, tafhim, ta’lim, ta’rif, ta’dib yang oleh Allah-lah kiranya aku dipertemukan akan hal ini. Peta konsep hingga pemetaan dari setiap konsep yang ada.
Waktunya memang lama. Namun itulah yang membuat sains, knowledge itu lahir yang kemudian, nantinya dijadikan ilmu. Terlahir narasi dari berbagai mekanisme pandangan. Adanya suatu penelitian yang memang harus empiris. Saya mengambil istilah yang diambil dari De Oratore karya Cicero, filsuf sekaligus negarawan Romawi yang berbunyi Historia Magistra Vitae kemudian diterjemahkan menjadi Sejarah adalah Guru bagi kehidupan.
Dari demikian itulah kita sadar serta menyadari, bahwa Islam itu gulangkepan. Banyak sudah aneka ragam makanan yang kulahap. Secara rinciannya tentunya masih banyak, cuma yang sudah kumakan yang diolah sayur, oseng, pais, bakar, sangrai, paling tidak sudah terwakilkan di antara cara pengolahannya. Aku meyakini semuanya itu ada yang harus kumenyantapnya dan ada pula yang tidak. Matriks Wajib, sunah, makruh, mubah, haram; itulah pemetaannya.
Jika dari setiap efek santapan itu menajdikan duka derita, suka cita, tak mesti saya ratapi kebangetan. Sebab, yang kualami itu bukanlah keadaan yang sebenarnya dari perjalanan hidupku–itu semua masih bias dalam pemahamannya. Ada pun yang bisa aku katakan dalam setiap ke-adaan yang kutemui, tak lain hanyalah cipratan ke-adaan Allah itu sebagai yang benar-benar ada. Selain dari Allah, adalah hanyalah diada-adakan.
Entah itu menggunakan media apa saja yang oleh Allah bingkai. Dari itulah kemudian aku mengenal; oh inikah kiranya syahadat itu berlaku? Boleh dong saya memesrai Allah dengan dugaanku? Bahwa apapun yang kita terima adalah sebagai rangkaian mengidentifikasi ketentuan Allah sejak awal (Nasib), serta kita diberikan pilihan ke timur, ke barat, ke utara, ke selatan, dan kita sendirilah yang menentukan. Akibatnya itulah yang kupahami sebagai (Takdir).
Meskipun aku menyangkanya, kalaupun pilih ke barat tidak ke timur dan seterusnya, toh ujungnya sama juga? Laju, yang bisa saya pahami akan hal itu adalah efek dari perjalanan yang dipilihnya. Namun, pada hakikatnya manusia tak bisa memilih. Sebab manusia tak punya kekuasaan, keahlian, dan kemampuan selain karena pertolongan Allah. Lantas kenapa ada istilah salah melangkah?
Kalau dari awalnya kita sudah percaya, dan menjalankan konsep (Innailaihi Wainnailaihi Rojiun) yang terjadi bukanlah kesalahan, melainkan ilmu yang masih cetek dalam menjalani semuanya. Salah satu contoh kado yang terbesar yang kita jumpai di dunia ini adalah ketika mengetahui bagaimana bedanya makan kokosan dan dukuh. Bayangkan saja, jika makan kokosan dipesek?
Pastilah yang keluar malah getahnya dan membuat rasa kokosan itu sendiri menjadi pahit, sebab bercampur getah. Apakah demikian kesalahan? Menurutku bukan. Melainkan memang tak punya ilmunya. Kesalahan itu ketika sudah tahu, tapi masih keliru melakukakannya. Hal itu disebabkan bisa, karena lupa, kesusu, rusuh, leutik burih, kurang kawani dan banyak faktor yang menjadikan hal yang sudah diketahui itu kemudian tak dilakukannya.
Dari faktor-faktor itu, dahsaytnya: Aku menemukan hikmah dan Rahmat/Rahiimnya Allah yang begitu luas menemani perjalanannya. Musabab itulah aku merasakan Allah itu begitu luar biasa, hingga tak mampu kugambarkan dengan apapun, sebabnya itu, ya memang dalam kasus ini syahadat itu harus diri sendiri yang mengalami.
Karena pada kenyataannya manusia tak bisa menyusun setiap puzle kehidupan sebelumnya selain Allah sendiri yang menysusunnya. Pada akhirnya, pemahamankulah, yang kemudian jadi landasannya. Manusia memang tak melakukan apa-apa. Akan tetapi, yang terjadi hanyalah kesadaran yang menyorong manusia berbuat apa, bagaimana itu. Perbuatan manusianya itu sendiri yang sejatinya Allah yang berbuat,
Sehingga yang terjadi itu kemudian sebagai Kun-Fayakun. []









