AURORA

aurora

Sebenarnya, aku ingin memelukmu wahai air. Aku ingin bercengkrama denganmu wahai api. Aku ingin berebah ditubuhmu duhai tanah, dan aku cumbuimu wahai udara dalam setiap helanya.

Ingin aku memeluk semuanya, berkasih dalam sebuh cinta yang teramat romantis bagai Rose dan Jack dalam film Titanic. Namun tak ada yang bersedia menerima aku untuk itu. Mereka enggan dan tidak mengenaliku. Tidak cukup rupanya parasku mendapatkan itu semua, atau ada waktunya dalam guratan titik mangsa tiba?

Diantara semerbak bunga bangkai dibalik semak belukar; kucoba mengintaimu di deretan gemintang pekarangan langit. Ada lambayan tangan terkasih kemudiaan diulurkan pula tangannya—hingga aku tak kuasa memelukmu wahai bulan.

Perlu napas panjang agar terus mampu menghela setiap hembus-pelukku. Dibutuhkan bertumpuk-tumpuk kalori agar menciptakan tenaga yang mampu menegakan syaraf ototku. Perlu kejernihan akal dan pikiran guna kestabilan mengontrol motoriknya, serta hati terus menerus dimargin oleh kesucian pengagungan atas asma-Nya.

Sebab, tak pernah ada keindahan yang membuat duka! []

GARA-GARA ILMU
Baca Tulisan Lain

GARA-GARA ILMU


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *